Bacaan dan Renungan Sabtu 20 April 2019 – Hari Sabtu Suci (Pagi)- Vigili Paskah (Malam)

“Allah melihat semua yang telah dijadikan-nya dan amat baiklah semuanya itu.” 1:1 Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. 1:2 Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. 1:3 Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. 1:4  Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. 1:5 Dan Allah menamai […]

Gerakan APP Nasional 2018: Membangun Solidaritas Sosial demi Keutuhan Ciptaan

Gerakan APP Nasional 2018Membangun Solidaritas Sosial demi Keutuhan CiptaanOleh Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) KWIPengantar“Melindungi dan Mengelola Sumber Hak Hidup Ekonomi Masyarakat Lokal” menjadi arah dasar gerak Kerasulan PSE KWI yang visioner, profetis dan profitis. Arah dasar ini mendasarkan diri pada spiritualitas inkarnatoris-transformatif yang berpangkal dari misteri penjelmaan Allah dalam hidup manusia, “Firman itu telah […]

MgB XVIII

Mg Biasa XVIII: Pkh 1:2;2:21-23; Kol 3:1-5.9-11; Luk 12:13-21

“Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab
walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah
tergantung dari pada kekayaannya itu”

Orangtua yang tidak lama lagi dipanggil Tuhan alias meninggal dunia
serta memiliki beberapa anak yang akan ditinggalkan pada umumnya
memang meninggalkan warisan bagi anak-anaknya. Dalam kenyataan sering
ada anak-anak yang kurang bersyukur dan berterima kasih serta bersikap
mental materialistis, sehingga orangtuanya belum dipanggil Tuhan sudah
rebut-ribut bagaimana membagi warisan. Ada kekhawatiran bahwa
pembagian warisan tidak adil, serta yang bersangkutan memperoleh
bagian yang tidak memadai. Sabda Yesus hari ini mengingatkan kita
semua agar tidak bersikap mental materialistis, serakah dan tamak.
Kita, sebagai orang beriman diharapkan tidak menggantungkan diri pada
kekayaan harta benda atau uang, melainkan menggantungkan diri pada
penyelenggaraan Tuhan. Maka dengan ini kami berharap kepada orangtua
untuk mewariskan kepada anak-anaknya  nilai-nilai atau
keutamaan-keutamaan yang menyelamatkan dan membahagiakan jiwa, serta
diperdalam atau dilanjutkan di sekolah-sekolah, yang kepada para
peserta didik dididik dan dibina dalam hal nilai-nilai atau
keutamaan-keutamaan, dengan kata lain berusaha agar para peserta didik
tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik.

“Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab
walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah
tergantung dari pada kekayaannya itu.” (Luk 12:15).

Harta benda atau uang pada dasarnya adalah netral, dapat menjadi
‘jalan ke sorga’ atau ‘jalan ke neraka’, memotivasi pemiliknya untuk
tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik, bermoral dan berbudi
pekerti luhur atau amoral, bersikap mental materialistis dan egois.
Memang selama hidup di dunia ini kita membutuhkan aneka macam
sarana-prasarana, harta benda atau uang, dan Allah yang menciptakan
kita juga memanggil kita untuk bekerja guna mengolah dan mengurus
ciptaan-ciptaan Allah lainnya. Kami berharap sebagai orang beriman
kita semua memanfaatkan atau memfungikan harta benda dan uang sebagai
‘jalan ke sorga’, sarana bagi kita untuk semakin beriman, semakin
suci, semakin dikasihi oleh Allah dan sesama kita.

Dalam Gereja Katolik ada arahan atau ajakan agar kita memfungsikan
atau menggunakan harta benda dan uang ‘sesuai dengan tujuannya’, ‘ad
intention dantis’. Pelanggaran atau penyeleweng-an pada umumnya di
Indonesia ini dilakukan oleh para pegawai negeri, padahal mereka telah
menerima imbal jasa sesuai dengan jabatan dan fungsinya. Para pegawai
negeri kiranya ketika menerima gaji atau imbal jasa disertai
daftar/uraian, maka kami harapkan memanfaatkan imbal jasa atau gaji
sesuai dengan daftar tersebut, dan tentu saja juga tidak melakukan
korupsi, serta berani menolak imbal jasa atau tambahan gaji yang tidak
benar. Para pegawai negeri atau pejabat kiranya dapat meneladan
Gubernur DKI, Jokowi, yang dengan setia menerima apa adanya imbal jasa
sesuai dengan peraturan.

Dalam Gereja Katolik, khususnya uang Gereja Katolik, ada pegangan atau
acuan, yang kami harapkan ditaati atau dilaksanakan. Harta benda
Gereja Katolik memiliki tujuan-tujuan yang khas, yaitu “mengatur
ibadat ilahi, memberi sustentasi yang layak kepada klerus serta
pelayan-pelayan lain, melaksanakan karya-karya kerasulan suci serta
karya amal kasih, terutama terhadap mereka yang berkekurangan” (KHK
kan 1254 $ 2). Maka dengan ini kami berharap para pastor paroki
beserta dewannya sungguh mefungsikan harta benda atau uang yang
diterima dari Umat Allah sesuai dengan pedoman di atas. Pendek kata
fungsikan harta benda atau uang paroki/Gereja guna membina Umat Allah
agar Umat Allah semakin beriman, tahu dan menghayati ajaran-ajaran
Gereja Katolik. Dengan kata lain gunakan harta benda dan uang Gereja
Katolik untuk melaksanakan ‘Tugas Mengajar’ dan ‘Tugas Menguduskan’
Umat Allah.

Secara khusus kami berharap kepada semuanya untuk memfungsikan atau
memanfaatkan harta benda dan uang lebih-lebih untuk pembinaan manusia,
khususnya pembinaan atau pendidikan generasi muda atau anak-anak.
Alokasi dana atau anggaran yang memadai untuk pembinaan atau
pendidikan anak-anak, dan semoga dana atau anggaran pendidikan tidak
dikorupsi. Saya cermati bahwa anggaran pendidikan di Indonesia ini
dikorupsi seenaknya. Dengan alasan ‘pembinaan’ atau ‘proyek’ yang
sebenarnya tidak perlu dikeluarkan dana yang besar. Program Kurikulum
2013 hemat saya juga merupakan proyek, titipan partai tertentu. Konon
ada alasan untuk membina moral atau budi pekerti peserta didik, dan
kemudian mata pelajaran agama menjadi 6 (enam) jam. Pendidikan atau
pembinaan moral atau budi pekerti hemat saya secara inklusif dibinakan
dalam semua proses pembelajaran, melalui semua mata pelajaran,.

“Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah
perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan
Allah.Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.Sebab kamu
telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam
Allah.” (Kol 3:1-3)

“Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi”, inilah yang
kiranya baik kita renungkan dan hayati dalam cara hidup dan cara
bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun. Apa yang akan
kita lakukan memang sangat tergantung dari apa yang ada dalam pikiran
kita, apa yang kita pikirkan. Sebagai orang beriman kita semua
diharapkan senantiasa ‘memikirkan perkara yang di atas’, yaitu
nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan yang menyelamatkan jiwa manusia,
dengan kata lain hendaknya yang ada dalam pikiran kita hanya
keselamatan jiwa manusia saja. Atau seperti yang dinasihatkan oleh
Sidharta Gautama: “semoga seluruh ciptaan bahagia”, inilah yang ada
dalam pikiran kita.

Para orangtua maupun guru/pendidik kami harapkan senantiasa memikirkan
keselamatan jiwa anak-anak atau peserta didik. Dengan kata lain,
sekali lagi kami tegaskan, hendaknya anak-anak atau peserta didik
dibina dan dididik agar tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik,
bermoral dan berbudi pekerti luhur. Di sekolah-sekolah hendaknya
diperlakukan dengan ketat aturan “Dilarang menyontek baik dalam
ulangan maupun ujian”. Pendidikan di Indonesia ini sungguh sangat
memprihatinkan: sejak diberlakukan ujian nasional tumbuh berkembang
aneka pelanggaran dan penyelewengan dalam proses pendidikan di
sekolah-sekolah, antara lain ‘mark-up’ nilai, agar semua peserta didik
naik kelas atau lulus ujian. Saat ini ada paradigma bahwa semua
peserta didik harus naik kelas dan lulus ujian, tidak naik kelas atau
tidak lulus ujian dinilai tabu.

Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, kami ajak anda
sekalian untuk meneladan Yesus maupun SP Maria. Kiranya kita semua
tahu bahwa secara manusiawi baik Yesus maupun SP Maria gagal, karena
mati disalibkan dan SP Maria mengandung sebagai perawan. Paradigma
atau cara berpikir manusia memang berbeda dengan cara berpikir Allah.
Marilah kita sadari dan hayati bahwa sebagai manusia kita adalah
lemah, rapuh dan terbatas. Biarlah dalam kelemahan, kerapuhan dan
keterbatasan kita, Allah menggunakan kita sesuai dengan kehendakNya.
Kita semua adalah ‘alat-alat Allah’, hidup dan perkembangan maupun
pertumbuhan kita tergantung dari Allah.

2:21 Sebab, kalau ada orang berlelah-lelah dengan hikmat, pengetahuan
dan kecakapan, maka ia harus meninggalkan bahagiannya kepada orang
yang tidak berlelah-lelah untuk itu. Ini pun kesia-siaan dan
kemalangan yang besar.

“Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang
dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan
hatinya?Seluruh hidupnya penuh kesedihan dan pekerjaannya penuh
kesusahan hati, bahkan pada malam hari hatinya tidak tenteram. Ini pun
sia-sia.” (Pkh 2:22-23). Kutipan ini kiranya baik untuk kita
renungkan, mengakhiri refleksi kita bersama.

“Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: “Kembalilah,
hai anak-anak manusia!” Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti
hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di
waktu malam. Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi,
seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh,
di waktu petang lisut dan layu” (Mzm 90:3-6)

Ign 4 Agustus 2013

Berusaha untuk Menyadari Hidup

APA yang akan Anda lakukan, kalau Anda ‘terjerat’ oleh penderitaan dalam hidup ini? Tentu Anda akan mengendalikan diri Anda. Seorang petani kaya mati meninggalkan dua putranya. Sepeninggal ayahnya, kedua putra ini hidup bersama dalam satu rumah. Suatu hari mereka bertengkar dan memutuskan untuk berpisah. Mereka membagi dua harta warisan ayahnya. Setelah harta terbagi, masih tertingal […]

Logika Matematika Tuhan: Siapa Memberi, Ia Menerima

Tiba-tiba seorang teman datang ke rumah saya dengan panik menceritakan bahwa dia dilaporkan ke polisi oleh saudara kandungnya. Usut-punya usut ternyata dia selama ini sedang berselisih dengan saudara kandungnya karena pembagian warisan yang tidak pernah diselesaikan dan makin berlarut-larut selama setahun ini. Perselisihan yang sebenarnya ranah perdata tersebut akhirnya tanpa dia sadari telah menyentuh ranah […]

7 Maret – Tb 1:1a.2a. 3; 2:1b-8; Mrk 12:1-12

“Batu yang dibuang oleh tukang  bangunan telah menjadi batu penjuru” (Tb 1:1a.2a. 3; 2:1b-8; Mrk 12:1-12)   “Yesus mulai berbicara kepada mereka dalam perumpamaan: "Adalah seorang membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. […]