Ayat bacaan: 1 Petrus 3:7==============”Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.”…

Ayat bacaan: 1 Petrus 3:7==============”Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.”…

perhiasan by istPADA tanggal 16-17 Maret 2015 lalu berlangsung pertemuan Forum Pemerhati Keluarga yang ke-6, bertempat di Pusat Pendampingan Keluarga MSF, Jl. Guntur 20, Semarang. Hadir dalam pertemuan ini, 75 orang peserta terdiri dari: Ketua-Ketua Komisi Keluarga Keuskupan yang dipercayakan kepada MSF (Banjarmasin, Jakarta, Palangka Raya, Pangkal Pinang dan Semarang). Selain itu, juga hadir para Romo MSF, Projo, SJ dari paroki-paroki Kevikepan Semarang dan Solo beserta kaum awam pemerhati keluarga bersama sejumlah biarawati. Pertemuan dimulai pada Pk. 17. 30 WIB dengan menghadirkan narasumberara Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignasius Suharyo. Beliau secara khusus diundang untuk membagikan oleh-oleh dalam mengikuti Sinode Luar Biasa tentang Keluarga dengan Tema “Tantangan-tantangan Keluarga Dalam Konteks Evangelisasi di Roma, 5–20 Oktober 2014 yang lalu. Sinode ini menjadi luar biasa, karena dihadiri oleh para Ketua Konferensi Wali Gereja sedunia (ex-officio) beserta sejumlah undangan khusus, para ahli dan pengamat. Dalam sinode ini disampaikan beberapa hal yang menjadi gambaran umun yang dihadapi oleh keluarga-keluarga di seluruh dunia, seperti: kemiskinan, migrasi, kekerasan dalam rumah tangga, perpisahan yang berlanjut kepada ‘perceraian’ sipil yang pada akhirnya membuat pasutri hidup dalam situasi yang tidak biasa, kekerasan terhadap perempuan beserta perlakuan tidak adil yang mendahuluinya, perkawinan homoseksual, single parents dengan hak untuk mengadopsi anak dan perkawinan beda agama. Budaya individualisme Selain itu, juga dipaparkan mengenai situasi budaya kontemporer yang semakin menegaskan dirinya sebagai budaya individualisme yang membawa dampak dan pengaruh yang kuat bagi “pembangunan” keutuhan keluarga. Manakala budaya ini sudah menguasi keluarga dan hati setiap orang, maka akan sulit bisa menemukan titik temu dan kompromi dalam hidup bersama. Hidup dalam keluarga adalah hidup yang ditandai oleh kesediaan untuk menemukan titik temu atau berkurban bagi kepentingan keluarga dan siap melakukan kompromi bagi kebaikan bersama. Budaya individualisme, pada gilirannya mendorong kepada sikap dimana orang pada akhirnya hanya mau mencari dan memenuhi apa yang menjadi keinginan pribadinya. Dengan pola pikir semacam ini, maka sangat sulit untuk membangun dan mempertahankan suatu komitmen dalam hidup bersama. Kehidupan keluarga adalah salah satu bentuk dimana komitemn dari kedua belah pihak diperlukan. Komitmen, hanya mungkin bisa dilakukan jika orang rela dan bersedia untuk “berbagi” dan mengedepankan kepentingan bersama sebagai tujuan yang hendak dicapai secara bersama. Sayang sekali sikap individualisme telah mengikis nilai-nilai yang diperlukan untuk “pembangunan” sebuah komitmen dalam hidup perkawinan dan keluarga. Lebih lanjut disampaikan oleh Mgr Suharyo bahwa berhadapan dengan situasi iregularitas dari pasangan-pasangan Katolik, Gereja mengalami kesulitan dalam menentukan sikap bersama. Ada pihak yang dengan sangat keras menentang segala bentuk ”kemurahan”: (pemberian komuni kudus, sakramen tobat pada saat-saat khusus) yang dapat diberikan kepada pasangan-pasangan demikian itu dengan argumentasi bahwa “kemurahan” semacam itu akan menjungkirbalikan doktrin dan ajaran Gereja tentang perkawinan yang sudah dipertahankan berabad-abad lamanya. Posisi semacam ini, terutama muncul dari kalangan para Uskup Afrika dan sejumlah Uskup dari negara lain yang dikategorikan sebagai pihak konservatif. Mencoba mencari terobosan-teobosan baru dalam rangka membantu keluarga-keluarga yang hidup dalam situasi yang iregularitas itu tanpa mengkhianati kebenaran dan ortodoksi ajaran Gereja justru dianggap sebagai tindakan yang membahayakan eksistensi Gereja. Meskipun tidak secara langsung dapat dikatakan bahwa Sinode Keluarga ini mempersiapkan Pertemuan Keluarga Mondial, namun demikian permasalahan tentang keluarga yang dibicarakan dalam Sinode ini pasti akan memberikan inspirasi dalam Pertemuan Keluarga Mondial tahun 2016. Dengan demikian secara amat terbatas dapat dikatakan bahwa Sinode Keluarga ini dapat dipandang sebagai persiapan untuk pelaksanaan Pertemuan Keluaga Mondial 2016 yang akan datang. Beberapa issue menonjol yang dibicarakan selama sinode luar biasa ini antara lain yang kiranya juga akan dibahas dalam Pertemuan Keluarga Mondial antara lain: Kesetiaan pasangan suami-istri Tantangan besar yang dihadapi oleh keluarga dewasa ini adalah menyangkut soal kesetiaan dalam kasih antara suami-istri. Sudah bukan rahasia lagi bahwa cukup banyak pasangan Katolik pisah dan memilih hidup dengan pasangan baru. Janji kesetiaan yang diucapkan pada waktu melangsungkan perkawinan ternyata tidak mampu dipelihara dan dihayati dengan baik dalam keseharian hidup. Dan yang mengherankan bahwa kebersamaan hidup dengan pasangan baru justru memberikan kebahagiaan yang lebih dibandingkan dengan pasangan sebelumnya. Iman yang semakin lemah Iman yang semakin lemah, sikap acuh tak acuh terhadap nilai-nilai sejati, sikap individualisme yang semakin menguat dimana segala sesuatu diukur dari sudut pandang individu, pada akhirnya mengarahkan orang kepada sikap relativisme. Pola pandang semacam ini, yang merelatifkan semua hal, termasuk kebenaran iman dan moral, pada akhirnya akan mengarahkan orang untuk membangun tatanan moral berdasarkan pandangan pribadi semata, dengan demikian menolak semua hal atau pandangan lain yang tidak sesuai dengan pandangan pribadinya. Sikap semacam ini, tentu saja membahayakan tatanan nilai dan moralitas yang sudah diakui dan dihidupi secara bersama dalam suatu masyarakat. Iman sebagai salah satu tatanan nilai yang ditawarkan dari luar termasuk hal yang sulit untuk diterima dan dihayati dalam hidup pribadi. Kalaupun diterima, lebih sebatas ritualitas belaka yang baik untuk dilakukan sebagai penegasan atas identitas personal dan komunal, tetapi miskin pemaknaan dan penghayatan pribadi. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila iman tidak membawa dampak atau pengaruh dalam kehidupan pribadi maupun komunal. Kemiskinan relasi Relasi yang semakin miskin dan tekanan hidup yang tidak menyisakan waktu untuk merenung, mempengaruhi juga hidup keluarga. Tidak jarang terjadi krisis perkawinan yang seringkali dihadapi dengan tergesa-gesa, tidak sabar memberi waktu untuk merenung, berkurban dan saling memaafkan. Kegagalan ini membuka pintu untuk terjadinya relasi-relasi baru, hidup dengan pasangan baru yang didasarkan pada ikatan sipil semata dan kemungkinan terjadinya perkawinan baru dengan pasangan baru. Dengan semua situasi tersebut, keluarga-keluarga dimasukkan kedalam keadaan yang semakin kompleks dan penuh masalah untuk dapat mengambil keputusan secara Kristiani dan bertanggungjawab. Beban keluarga Di antara tantangan-tantangan tersebut diatas, juga terpikirkan mengenai beban yang ditimpakan kepada keluarga-keluarga oleh penderitaan hidup itu sendiri. Penderitaan yang dapat muncul karena adanya anak yang berkebutuhan khusus, sakit berat, melemahnya kesadaran karena usia lanjut serta kematian orang yang dikasihi. Meski demikian, patut digarisbawahi kesetiaan sekian banyak keluarga yang menghadapi cobaan-cobaan ini dengan keberanian, pengurbanan, iman dan kasih. Mereka tidak memandangnya sebagai beban yang ditimpakan ke atas mereka, tetapi sebagai sesuatu yang diberikan kepada mereka, sambil memandang Kristus yang menderita dalam kelemahan jasmani. Dalam arti ini, keluarga yang demikian telah berhasil mengatasi beban hidup itu dan bahkan telah mampu mengubahnya menjadi berkat dalam kehidupan mereka. Beban dan penderitaan yang dialami tidak membuat keluarga semakin lemah, justru sebaliknya, menguatkan dan memampukan mereka untuk mengubah penderitaan itu menjadi berkat bagi hidup mereka. Pemujaan uang Para Bapa Sinode juga berpikir mengenai kesulitan-kesulitan yang diakibatkan oleh sistem ekonomi, yang tidak mendatangkan kesejahteraan bagi keluarhga-keluarga, tetapi sebaliknya, justru kemiskinan. Sistim ekonomi yang bersifat impersonal, yang tidak memiliki tujuan manusiawi sejati” seperti ditegaskan oleh Paus Fransiscus dalam Evangelii Gaudium, no. 55 telah merendahkan martabat pribadi manusia dan pada gilirannya keluarga-keluarga. Pemujaan uang dan kediktatoran ekonomi yang sedang berkembang pesat dewasa ini telah menisbikan nilai-nilai luhur manusia sebagai citra Allah dan mendegradasikannya sebatas komoditi yang laku dijual. Dalam kaitan dengan ini, perlu digarisbawahi meluasnya praktik prostitusi yang dijalankan dalam bentuk profesional dan teroganisir oleh-oleh oknum tertentu, khususnya di kalangan negara-negara berkembang dan telah mendatangkan penderitaan dan korban untuk begitu banyak anak-anak. Senada dengan itu, human trafficking-perdagangan manusia juga marak terjadi dan melibatkan aparat pemerintahan. Perempuan-perempuan mengalami kekerasan serta eksploitasi. Demikian halnya dengan anak-anak yang dilecehkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungi dan menjamin perkembangan mereka. Fenomen tersebut mau menegaskan dalil yang telah disampaikan oleh Bapa Suci Fransiscus bahwa pemujaan terhadap uang yang sedemikian kuat telah menisbikan dan merelativirkan nilai-nilai dasariah manusia: hormat. Kredit foto: Ilustrasi (Ist)  

idul-fitri-1434-1UCAPAN SELAMAT DI AKHIR BULAN RAMADHAN DAN IDUL FITRI 1436 H/2015 A.D. Vatikan Saudara-saudari Muslim yang terkasih, Dengan senang hati, atas nama seluruh umat Katolik sedunia dan atas nama saya pribadi, saya mengucapkan selamat merayakan pesta Idul Fitri yang penuh kedamaian dan kebahagiaan. Dalam bulan Ramadhan, saudara sekalian sudah melaksanakan banyak kegiatan menyangkut agama dan sosial seperti puasa, doa, sedekah, bantuan kepada kaum miskin, kunjungan kepada sanak saudara dan sahabat. Saya berharap dan berdoa agar buah amal bakti ini dapat memperkaya kehidupan saudara sekalian! Bagi beberapa di antara saudara, demikian juga beberapa dari anggota komunitas agama lain, kegembiraan pesta ini dinaungi oleh ingatan sedih akan para kekasih yang telah kehilangan hidup atau harta-miliknya, atau menderita secara fisik, mental dan spiritual, disebabkan oleh kekerasan yang menimpa mereka. Beberapa komunitas etnik dan agama di sejumlah negara pun mengalami penderitaan yang amat besar dan tidak adil: pembunuhan anggota mereka, perusakan warisan kebudayaan dan keagamaan, pengusiran paksa dari rumah dan kota mereka, pelecehan dan pemerkosaan perempuan, perbudakan, perdagangan manusia, jual-beli organ tubuh dan bahkan penjualan mayat! Kita semua sadar akan beratnya kejahatan-kejahatan ini. Tetapi, yang membuatnya lebih menjijikkan lagi adalah usaha untuk membenarkannya atas nama agama. Sungguh jelas bahwa ini merupakan suatu penyalahgunaan agama untuk memperoleh kekuasaan dan kekayaan. Tak disangkal bahwa mereka yang diserahkan tanggung-jawab untuk menjaga keamanan dan ketenteraman umum, juga berkewajiban untuk melindungi orang dan harta-miliknya dari kekerasan buta para teroris. Namun, ada juga tanggung-jawab mereka yang bertugas untuk mendidik: keluarga, sekolah, buku pegangan sekolah, pemuka agama, wadah diskusi agama, media. Kekerasan dan terorisme lahir lebih dahulu di dalam pikiran orang yang menyimpang, kemudian dilaksanakan di lapangan. Mereka yang terlibat dalam pendidikan orang muda dan dalam beragam kancah pendidikan, seharusnya mengajar tentang kesakralan hidup dan keterkaitannya dengan martabat setiap pribadi, terlepas dari suku, agama, budaya, jenjang sosial, atau pilihan politiknya. Tidak ada orang yang hidupnya lebih berharga dari hidup orang lain hanya karena suku atau agamanya. Karena itu, tidak seorang pun boleh membunuh. Dan tidak seorang pun boleh membunuh atas nama Allah. Bahkan, itu merupakan kejahatan dua kali lipat: karena melawan Allah dan melawan manusia. Tidak bisa ada sikap mendua dalam pendidikan. Masa depan seseorang, atau suatu komunitas, bahkan seluruh umat manusia tidak boleh didirikan di atas ambiguitas itu atau di atas kebenaran yang semu. Baik umat Kristiani maupun umat Islam, sesuai dengan tradisi masing-masing, memandang Allah dan berhubungan dengan Dia sebagai wujud Kebenaran. Kehidupan kita dan tingkah laku kita harus mencerminkan keyakinan ini. Menurut Santo Yohanes Paulus II, kita, umat Kristiani dan umat Islam, mempunyai “privilese doa” (Pidato kepada Alim Ulama Muslim, Kaduna, Nigeria, 14 Februari 1982). Doa kita sangat dibutuhkan: untuk keadilan, perdamaian dan ketenteraman di dunia; bagi mereka yang telah menyimpang dari jalan kehidupan yang benar dan melakukan kekerasan atas nama agama, supaya berpaling kepada Allah dan memperbaiki hidupnya; bagi orang miskin dan sakit. Perayaan-perayaan kita, antara lain, memupuk harapan kita untuk masa kini dan masa depan. Kita memandang masa depan umat manusia dengan penuh harapan, terutama ketika kita berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan impian kita yang benar agar menjadi nyata. Bersama dengan Paus Fransiskus, kami berharap agar buah-buah bulan puasa Ramadhan dan kegembiraan Idul Fitri menganugerahkan kepada saudara sekalian kedamaian dan kesejahteraan, sambil meningkatkan perkembangan saudara sebagai manusia dan sebagai orang beriman. Selamat Hari Raya kepada saudara sekalian! Dari Vatikan, 12 Juni 2015 Jean-Louis Cardinal Tauran Presiden Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Agama Father Miguel Ángel Ayuso Guixot, M.C.C.I. Sekretaris Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

(sambungan)Mengajar atau menghukum anak bertujuan agar mereka menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik lagi bukan untuk menyiksa atau menjadikan mereka tempat pelampiasan emosi sesaat. Jelas dikatakan bahwa anak-anak haruslah dididik dalam ajaran dan na…

Mgr Julianus Kemo Sunarka SJ Uskup PurwokertoPengatar Redaksi Dalam sebuah surel tahun 2014 lalu, Uskup Keuskupan Purwokerto Mgr. Julianus Kema Sunarka SJ menulis artikel panjang bertema “Sejarah Peziarahan Keuskupan Purwokerto 1991-2016″ yang ditujukan untuk Majalah Rohani berkaitan dengan pesta HUT ke-60 tahun majalah ini. Kami ingin membagikannya untuk para pembaca sekalian untuk semakin mengenal misi dan visi Keuskupan Purwokerto yang dipimpin Mgr. Julianus Sunarka SJ. —————- Bulla Gravissimum Quo Fungimur Yoannes Paulus Uskup kepada Julianus Kema Sunarka Imam Serikat Jessus dan Ketua Lembaga “Caritas Indonesia” Uskup Terilih Keuskupan Purwokerto Salam dan Berkat Apostolik Yang teramat berat di antara sekian banyak tugas-tugas yang harus kami emban sebagai Gembala Tertinggi Gereja adalah dengan segala keprihatinan yang mendalam menentukan Uskup-Uskup yang sungguh cakap bagi keuskupan-keuskupan yang sedang lowong tak bergembala. Ketika harus ditetapkan Imam Agung untuk tahta Keuskupan Purwokertoyang telah lowong dengan wafatnya uskup terdahulu Paschalis Soedita Hardjasoemarta Almarhum, Ananda, putera terkasih dengan bakat dan keutamaan Anda yang cemerlang dan terpuji, dipandang layak untuk memegang puvuk pimpinan keuskupan ini. Oleh karena itu untuk memperhatikan saran dari Kongregasi Suci “Untuk Evangelisasi Bangsa-Bangsa” berdasarkan kekuasaan tertinggi Gereja yang ada pada kami, kami menetapkan Anda menjadi Uskup Purwokerto dengan segala hak dan kewajiban yang terkait dengan jabatan ini. Kepada Anda kami anugerahkan perkenanan kami untuk menerima tahbisan dari tangan uskup katolik mana pun di luar kota Roma, tentu saja dengan mematuhi ketentuan-ketentuan liturgi yang berlaku. Namun sebelum itu hendaklah Anda melaksanakan terlebih dahulu baik pengakuan iman katolik yang sejati maupun sumpah setia kepada kami dan para pengganti kami di hadapan seorang uskup katolik yang sah, kemudian mengirimkan kepada kami kedua pernyataan tersebut secara tertulis sebagai kenangan abadi. Selain dari pada itu hendaklah surat keputusan ini disampaikan kepada seluruh umat keuskupan maupun kepada seluruh jajaran imam-imamnya yang kami harapkan akan menerima uskupnya dengan senang hati dan akan senantiasa menjalin persekutuan dengannya. Akhirnya, putera terkasih, usahakanlah agar kepada seluruh umat yang dipercayakan kepada Anda teristimewa kaum mudanya dn mereka semua yang sedang mencari arti dan makna hidupnya dengan tidak menentu dapat Anda tunjukkan cemerlangnya cahaya Injil pengajar utama kebenaran dan kebijaksanaan serta keadilan, cinta kasih dan damai sejahtera sejati. Semoga anugerah Roh Kudus Sang Penghibur dan perlindungan Santa Perawan Maria senantiasa menyertai Anda bersama seluruh umat terkasih Gereja Indonesia di Purwokerto Dikeluarkan di Roma, di Gereja Santo Petrus, 10 Mei Tahun Yubelium Agung 2000 Tahun pontifical kami yang ke-22 Yohanes Paulus II Paus —————– SELAMA sepuluh tahun kurun waktu 1991-2001,  Keuskupan Purwokerto hidup dalam arah pengguliran visi Gereja Misioner. Gereja yang diutus Yesus Kristus untuk melaksanakan kerasulan memberikan kesaksian dan juga mewartakan kabar gembira. Jiwa haluan ini masih relevan untuk dilanjutkan. Penekanan butir baru dari jiwa itu perlu digali. Tahun 2001 lingkungan Keuskupan Purwokerto baik secara nasional maupun lokal berada dalam situasi sosial politik, ekonomi, budaya, religius, yang di samping ada kesamaan namun, juga mengalami perkembangan cukup berarti kalau dibandingkan dengan keadaan tahun 1991. Sehubungan dengan adanya perkembangan ini dengan jiwa dan semangat missioner. Keuskupan Purwokerto terpanggil untuk mawas diri atas keberadaannya sendiri sebagai yang diutus dan mengakui diri yang berada ditengah-tengah berbagai kelompok agama lain yang juga meyakini diri diutus menjadi saksi dan pewarta “pewahyuan Allah”. Gereja mengakui bahwa kebenaran juga terdapat dalam agama atau keyakinan bukan katolik. Maka dalam semangat misioner ini, Gereja diutus untuk hidup bersama umat lain yang beriman kepada Allah dan mengakui bersama bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta dan Penguasa alam semesta beserta isinya. Gereja bersama kelompok agama lain mengakui Allah yang sama, yang menghendaki manusia hidup dalam persaudaraan sejati untuk menuju kedamaian dan kesejahteraan dengan memegang nilai-nilai luhur kemanusiaan. Selaras dengan pengakuan ini Gereja Keuskupan Purwokerto menyadari diri dalam kebersamaannya dengan jemaat lain terpanggil untuk mewujudkan tegaknya Kuasa Allah atau Kerajaan Allah. Visi Keuskupan Purwokerto, dengan kenyataan umatnya dan lingkungannya adalah Gereja menuju Kerajaan Allah. VISI (Identitas “jatidiri” sekarang dan cita-cita): Gereja Kerajaan Allah Keuskupan Purwokerto adalah Persekutuan umat beriman katolik yang demi Tuhan Yesus Kristus dalam kesatuannya dengan Gereja Katolik sedunia khususnya Indonesia dan dalam kerjasama dengan umat berkeyakinan lain setempat terpanggil untuk memperjuangkan dan menghayati nilai-nilai luhur kemanusiaan sambil memelopori berdirinya Kerajaan Allah. A. Rujukan Kitab Suci tentang Kerajaan Allah Juga di kota-kota lain aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah, sebab untuk itulah Aku diutus (Lk.4, 43) Yesus memanggil ke-12 muridNya memberikan tenaga dan kuasa untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Yesus mengutus mereka untuk mewartakan Kerajaan allah (Luk 9, 2) kepadamu diberi karunia mengetahui rahasia Kerajaan Allah (Lk.8,10) Ketahuilah Kerajaan Allah sudah dekat (Lk 10,11) Dengan apa aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sampai khamir seluruhnya (Lk 13, 21). Kerajaan Allah seperti orang menabur benih ( 4,26-29) Kerajaan Allah seperti biji sesawi (Mrk.4,30. Mat.13. Lk 13,18) Hukum Taurat dan Kitab para nabi berlaku sampai pada zaman Yohanes, dan sejak itu Kerajaan allah diberitakan dan setiap orang menggagahinya berebut memasukinya (Lk 16,16). Atas pertanyaan orang-orang Farisi, kapan Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab kataNya: Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah; juga orang tidak dapat mengatakan. lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana; sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu (Lk 17,20-21) Aku berkata kepadamu: sesungguhnya barang siapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil ia tidak akan masuk kedalamnya (Lk. 18,17.Mat 19.Mrk.10)) Alangkah sukarnya orang yang ber-uang masuk ke dalam Kerajaan Allah (Lk 18,24. Mat. 19. Mrk 10) Demikian juga jika kamu melihat hal-hal ini terjadi, ketahuilah bahwa Kerajaan Allah sudah dekat (Lk 21,31) B. Rujukan Naskah Zaman Kita: Kerajaan Allah dalam Kontemplasi Menjadi petanyaan bagi kita Gereja itu sama dengan Kerajaan Allah, ataukah Gereja adalah sakramen Kerajaan Allah, ataukah Gereja hanyalah salah satu bagian dari Kerajaan? Jawab dari pertanyaan ini rasanya dapat kita gapai-gapai melalui dokumen zaman kita berikut: Pada zaman kita, dimana umat manusia makin hari makin erat dipersatukan dan hubungan antara berbagai bangsa ditingkatkan, Gereja meninjau dengan lebih cermat sikapnya terhadap agama-agama bukan Kristen. Dalam tugasnya memupuk kesatuan dan cinta kasih antara manusia bahkan antara bangsa-bangsa, Gereja pertama-tama memandang apa yang sama pada manusia dan yang membawa kepada kebersamaan hidup. Karena semua bangsa merupakan satu masyarakat, mempunyai satu asal, sebab Allah menempatkan seluruh manusia di seuruh muka bumi. Semua mempunyai tujuan akhir yang satu: Allah. PenyelenggaraanNya, bukti kebaikan-Nya dan rencana keselamatan-Nya mencakup semua orang, sampai semua orang pilihan dipersatukan dalam Kota Suci, yang akan diterangi kecemerlangan Allah, dimana bangsa-bangsa akan berada dalam cahaya-Nya. Manusia mengharapkan dari berbagai agama jawaban terhadap rahasia yang tersembunyi sekitar keadaan hidup manusia. Sama seperti dulu, sekarang pun rahasia tersebut menggelisahkan hati manusia secara mendalam: apa makna dan tujuan hidup kita, apa itu kebaikan, apa itu dosa, apa asal mula dan tujuan penderitaan, mana kiranya jalan untuk mencapai kebahagiaan sejati, apa itu kematian, apa pengadilan dan ganjaran sesudah kematian; akhirnya apa itu misteri terakhir dan tak terungkapkan, yang menyelimuti keberadaan kita, darinya kita berasal dan kepadanya kita menuju? a. Sejak zaman purba sampai ke zaman ini dalam berbagai bangsa terdapat sejenis tanggapan tentang kekuasaan gaib, yang hadir dalam perjalanan ikhwal dan kejadian hidup manusia. Bahkan kadang-kadang terdapat pengakuan akan Yang Mahatinggi atau juga Bapa. Tanggapan dan pengakuan ini meresapkan ke dalam hidup mereka perasaan keagamaan yang mendalam. Agama-agama yang berhubungan dengan kemajuan kebudayaan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sama dengan pengertian yang lebih rumit dan dengan bahasa yang lebih diolah. Begitu dalam Hinduisme , manusia meneliti misteri ilahi lalu mengungkapkan dengan perbendaharaan mitos yang kaya luar biasa dan dengan usaha filsafatnya yang tajam. Mereka mencari bentuk-bentuk hidup matiraga atau meditasi yang mendalam, atau pula dengan berpaling kepada Allah dengan cinta kasih dan pengharapan. b. Berbagai bentuk Buddhisme mengakui bahwa secara mendasar dunia yang fana ini tidak memadai. Maka diajarkan jalan dengannya -dalam semangat pengabdian dan harapan-manusia dapat mencapai tahap pembebasan, sempurna atau dapat menggapai pencerahan tertinggi dengan usaha-usaha sendiri atau dengan bantuan dari atas. Begitu pula agama-agama lain yang terdapat di seluruh dunia, berusaha menanggapi kegelisahan hati manusia dengan berbagai cara sambil menganjurkan jalan, yakni ajaran dan peratuan hidup serta ibadat suci. Gereja Katolik tidak menolak apa pun yang benar dan suci dalam agama-agama ini. Gereja memandang dengan penghargaan yang jujur, cara tindak dan cara hidup, peraturan dan ajaran itu, yang kendati dalam banyak hal berbeda dengan apa yang dipahami dan dianjurkannya, toh tidak jarang memantulkan cahaya Kebenaran, yang menerangi semua manusia. Oleh sebab itu mereka menghargai kehidupan moral dan menyembah Allah terutama dalam sembahyang, sedekah dan puasa.Mengingat bahwa dalam peredaran jaman telah timbul pertikaian dan permusuhan yang tidak sedikit antara orang Kristen dan Islam, maka Konsili mengajak semua pihak untuk melupakan luka-luka yang sudah, dan mengusahakan dengan jujur saling pengertian dan melindungi lagi memajukan bersama-sama keadilan, sosial, nilai-nilai moral serta perdamaian dan kebebasan untuk semua orang. Bapak Paus Johanes Paulus II daalam surat tugas untuk RP Julianus Sunarka SJ menjadi uskup Keuskupan Purwokerto, menekankan kebijaksanaan pastoral yang harus diikuti RP Julianus Sunarka SJ adalah: mengusahakan agar kepada seluruh umat yang dipercayakan kepada RP Julianus Sunarka SJ teristimewa kaum mudanya dan mereka semua yang sedang mencari arti dan makna hidupnya dengan tidak menentu dapat ditunjukkan cemerlangnya cahaya Injil pengajar utama kebenaran dan kebijaksanaan serta keadilan, cinta kasih dan damai sejahtera sejati. Dan gerak kerasulan inilah yang hendaknya secara tebal mewarnai pastoral Keuskupan Purwokerto. Dan menjadi opsi dari siapa saja yang terlibat pada penggembalaan di Keuskupan Purwokerto. C. Kekuatan Inti Keuskupan Purwokerto dalam Visi Penegakan Kerajaan Allah Menurut angka statistik penduduk 2009 yang ada di wilayah Keuskupan Purwokerto terlihat bahwa jumlah umat katolik kurang lebih 73.728 orang adalah 0,45% dari seluruh penduduk 17.309.100 orang. Secara jumlah, apa artinya angka 0,45 %? Begitu riilkah bahwa Keuskupan Purwokerto menggulirkan visi Kerajaan Allah. Kenyataan yang berada diluar jangkaunkah untuk perwujudan visi itu. Tergantung dari kelola penggembalaannya. Dengan menempuh sistem manajemen pastoral mono-energi sudah pasti tidak mungkin. Manajemen pastoral sel tidak mustahil. Maka kinerja untuk pastoral di Keuskupan Purwokerto mencoba menciptakan koinonia yang membentuk warganya untuk bergerak dimana pun untuk mewartakan kabar gembira dengan empan wapan, empan waktu dan empan orang. Pantas diteliti di Keuskupan ini ada tenaga ketatanegaraan atau kemasyarakatan berapa dari tingkat desa sampai tingkat pusat, tenaga pendidik dan tenaga kesehatan dokter serta ahli hukum, pedagang dan petani berapa. Mereka itulah yang mempunyai kemudahan menyusup kemana-mana. Demikian pula tenaga imam, bruder, suster, seminaris. Mereka itulah yang seharusnya kita usahakan untuk menjadi inti-inti sel kinerja tenaga-tenaga kunci dalam penegakan nilai-nilai kemanusiaan. Bagaimanakah seharusnya mereka perlu dikader. Inilah yang menjadi masalah pastoral kita para fungsionaris pastoral? D. Tantangan dan Peluang untuk Mewujudkan Visi menuju ke Misi Umat Katolik Keuskupan Purwokerto bersama dengan saudara-saudara berkeyakinan lain tidak lepas dari tantangan-tangan, namun sekaligus tantangan-tantangan itu menunjuk pada peluang untuk mengambil langkah secara tepat sesuai dengan kekuatan yang dimilki. Tantangan bagi umat Katolik Keuskupan Purwokerto yang mencakup eks Karesidenan Pekalongan, Banyumas dan Kedu sebelah barat antara lain: Tantangan merebaknya kekuatan sekularisasi kehidupan. Sekularisasi adalah gaya hidup tanpa agama, meski tidak anti agama. Sekularisasi adalah gaya hidup tanpa peduli akan Allah, meski tidak anti Allah. Penekanan karier, keluarga inti, profesionalisme, minat dan hobi-hobi serta nasionalisme tertutup akan menjadi pesaing kehidupan beragama. Dengan situasi seperti itu struktur kehidupan jemaat beriman yang kyaisentris, klerusentris apalagi pemerintahsentris dengan gaya yang rituaslistis mempunyai kemungkinan besar menjauhkan umat beriman dari Gereja dan Jemaat Agung yang mempunyai kandungan perutusan mewartakan nilai-nilai luhur universal. Gaya hidup terlalu sekuler akan membawa hidup orang begitu timpang. Ada peluang di situ untuk mewartakan nilai-nilai imani akan Allah yang transenden dan imanen. Tantangan berikut adalah masih adanya kemiskinan. Kita ditantang terus untuk mewujudkan kesetiakawanan dengan kaum miskin. Terwujudnya kesetiakawanan ini adalah menjadi ukuran kita hidup bermasyarakat. Patut diingat bahwa tantangan ini berada dalam arus yang jelas-jelas meningalkan kaum miskin. Globalisasi telah berhasil menawarkan budaya “glamour”, foya-foya, pemborosan, budaya mall supermarket, tv dsb, narkotika yang dapat memukau dan memonopoli fantasi manusia. Peluangnya adalah bagaimana kita dapat mewujudkan kesetiakawanan dalam alam yang anti kemiskinan. Tidak dapat kita sangkal adanya tantangan yang berkaitan dengan konteks sosial perutusan kita. Masyarakat kita berada dalam situasi rentan dengan kekerasan akibat adu domba dan konflik. Bukan rahasia lagi bahwa rekayasa dan adu domba dapat diagendakan oleh kelompok kepentingan dan kekuasaan. Sementara konflik lebih melekat pada masyarakat kita sebagai akibat dari adanya perbedaan agama, ras, suku, daerah, golongan, dan kelas. Di sini kita dituntut tidak terpancing dalam menajamkan konflik tersebut. Kita ditantang untuk menghadapinya sebagai situasi objektif masyarakat masa kini. Kita dituntut untuk menghadapinya sebagai peluang dalam menggalang kerukunan dan dialog. Dalam konteks sosial lebih-lebih dalam konteks pelaksanaan undang-undang otonomi, perutusan kita saat ini dituntut memberi perhatian lebih khusus kepada situasi kehidupan kenegaraan. Kehidupan kenegaraan yang dirasa berkembang semakin kompleks kini sedang dilanda berbagai krisis. Krisis kelola negara, krisis moneter yang langsung dibayangi oleh krisis kepercayaan. Diduga kuat bahwa krisis kepercayaan ini mempunyai sebab yang berkaitan dengan kemerosotan moralitas umum yang tidak terkendali. Ini nampak dalam tumbuh suburnya praktek korupsi, manipulasi dan korupsi, rekayasa terselubung dan berbagai penyelewengan dalam tubuh aparat kepemerintahan. Pembenahan mendasar memerlukan dukungan masyarakat mengingat praktik-praktik kotor tersebut terkait pula dengan sikap kondusif masyarakat akibat melemahnya mekanisme kontrol masyarakat: semangat apatisme, semangat aji mumpung sebagian masyarakat dll. Masalah lingkungan hidup Menurut para ahli, kerusakan hidup alami sudah menjadi ancaman serius bagi kelangsungan umat manusia. Hampir tidak dapat disangkal lagi oleh para ahli bahwa “suvival” umat manusia sedang dipertaruhkan. Umat manusia dirasa tidak dapat bertahan sampai 200 tahun lagi, kalau pola perekonomian kita tidak memperhatikan kelestarian lingkungan ini terus berkelanjutan. Di Indonesia kita telah berhadapan dengan ancaman serius seperti apa yang dapat kita saksikan dalam pengrusakan dan pembakaran hutan, bencara kekeringan rutin yang tidak ditangani secara serius. Kita ditantang untuk ikut mengusahakan bagaimana orang dapat merubah sikapnya terhadap alam. Kita perlu mengembangkan sikap mencintai pelestarian alam, sikap yang lahir dari spiritualitas penciptaan dan pemeliharannya. Masalah “bias gender”. Dominasi kaum pria atas kaum perempuan nampak dalam setiap segi kehidupan. Berbagi ketidakadilan menimpa kum perempuan dalam masalah sosial, politik, ekonomi, budaya, agama bahkan berbahasa. Dapat diambil sebagai contoh konkrit antara lain dalam diskriminasi untuk jabatan kepemerintahan, beban pekerjaan, masalah gaji, tindak kekerasan, turisme seks. Terhadap masalah ini Gereja telah menanggapinya secra tegas menentang diskriminasi terhadap perpemuan. Cita-cita kesetaraan antara pria dan perempuan supaya disiarkan menjadi kenyataan. Gereja bersama-sama umat berkeyakinan lain memperjuangkan transformasi sosial dalam masalah “gender”. Inilah peluang bagi kita untuk mewartakan martabat luhur manusia. Umat katolik meski berjumlah sedikit diajak untuk menaruh perhatian terhadap tantangan dan peluang tersebut di atas. Sesuai dengan kekuatan yang ada, umat katolik diajak bekerja sama dengn umat berkeyakinan lain untuk memasuki peluang- peluang yang ada sebagai perwujudan Gereja Kerajaan Allah, selaran dengan perutusan Sang Guru Sejati Tuhan Yesus Kristus. Misi Umum (Kiprah Mewujudkan Visi) Misi adalah gambaran menyeluruh ‘global’ agenda yang harus dirumuskan untuk menjadi proses langkah dalam terwujudnya visi. Ada dua kerangka kerja besar. yaitu bina ke dalam dan bina ke luar. Sebagai langkah kerja bina ke dalam, Keuskupan perlu menanamkan dan mengembangkan iman kristiani. Pembinaan ke dalam berjalan dengan geraknya umat sendiri, yang menyangkut umat non fungsional, kategis, prodiakon, pastor, uskup. Semuanya itu berada dalam dampingan keintian panitia-panitia kerja keuskupan paroki, stasi. Juga badan-badan kerasulan. Dengan demikian panitya dan badan-badan menggulirkan refleksi yang berwawasan lebih luas, sehingga isi iman katolik, yang menyangkut pengetahuan, peresapan kejiwaan dan penataan laku dalam waktu dan ruang dimantapkan. Segi-segi yang dirasa penting dalam kehidupan umat menyangkut kerygma, koinoia, leiturgia dan diakonia. Ini perlu diperhatikan oleh panitia kaderisasi pimpinan umat entah imam entah awam dalam katekese, kitab suci, liturgi. pendalaman spiritualitas, kepemudaan, kelompok-kelompok rohani, panitia keuangan. Dengan mantapnya isian gerakan bina ke dalam diharapkan umat mengalami rahmat Tuhan begitu melimpah. Dan umat dalam koinonianya terdorong mengalirkan luapan itu bagi orang lain di luar jemaatnya sendiri. Dan kelanjutannya dalam bina gerak keluar adalah gerakan yang bersangkutan dengan panitia , pendidikan, sosial ekonomi, kesehatan, komunikasi sosial, kedamaian dan keadilan, hubungan antar kepercayaan dan keyakinan . Gerak keluar umat katolik bersama dengan jemaat lain ialah kinerja menjalin hubungan Gereja dengan jemaat lain. Jemaat lain itu terdiri dari berbagai golongan. Masing masing golongan mempunyai perwujudan pengalaman iman secara tersendiri. Ada kelompok yang mudah untuk hidup bersama dalam pencukupan materi. Ada golongan yang mudah bersama untuk olah kejiwaan. Dan yang lain hanya mudah bersama dalam pendalaman pemikiran filsafat; serta lain lagi mudah bersama dalam masalah rohani, ketuhanan, kesusilaan. Maka butir gagasan operasional sebagai berikut perlu menjadi perhatian untuk mendapatkan waktu dan ruang. Untuk menukik pada kekhususan itu diperlukan keawaspadaan dan kepekaan dari para pelaku penggembalaan. Demikian pula kemampuan untuk menilai sejauh mana kebersamaan itu sudah dapat ditingkatkan ke tataran kebersamaan yang lain. Ulasan selintas ini mempunyai enam kerangka gerak misi dalam usaha mewujudkan visi Gereja Kerajaan Allah. 1. Memperhatikan pendalaman iman umat katolik 2. Mengembangkan Komunitas Basis Gerejani & Kemanusiaan di kota dan desa 3. Menyelenggarakan pendidikan kaum muda yang manusiawi dan kristiani 4. Memberdayakan kelompok miskin,tersingkir 5. Melakukan dialog antar umat beriman 6. Mengembangkan Komunitas Basis Kemanusiaan Strategi (Langkah yang diutamakan dari misi ) untuk Periode 2001-2016 Strategi adalah pengutamaan langkah kinerja. Pengutamaan langkah diambil dengan perhitungan adanya kekuatan pengaruh dan hasil ganda dari langkah tersebut; dalam arti berdaya menelusup ke berbagai segi. Orang menembak, sekali lepas tembakan mengena berbagai sasaran, berbagai hasil tercapai. Sekali mengayuh, dayung dua tiga pulau terlampaui.   Secara singkat dapat dikatakan bahwa strategi Keuskupan untuk lima tahun (2001-2005) bergerak dalam bidang-bidang kerasulan sebagai berikut: Memberikan perhatian pada pendidikan calon imam dan tokoh awam. Mengusahakan bentuk bentuk kerjasama umat katolik dengan umat lain. Menyelenggarakan pendidikan kaum muda yang manusiawi dan kristiani. Mengusahakan bantuan tenaga imam dari Keuskupan Tetangga. Meningkatkan pelayanan Komisi Komisi Pastoral Keuskupan. Mewujudkan berdirinya paroki paroki pedesaan. Mengembangkan komunitas Basis Gerejani yang sudah ada. Mengembangkan komunitas Basis Kemanusiaan yang sudah ada. Meningkatkan mutu dialog antar umat beriman dalam Forum Persaudaraan antar Umat Beriman. Mengusahakan dana untuk pengguliran prioritas karya. Strategi Keuskupan Purwokerto untuk lima tahun (2016 -2011) bergerak dalam bidang-bidang kerasulan sebagai berikut: Mengkader Orang Muda Katolik menjadi garam masyarakat. Mengembangkan pendidikan nilai dalam hidup berkeluarga. Mengentaskan umat dari formalisme agama. Mengentaskan masyrakat akar rumput dari kemiskinan. Mempopulerkan pertanian organik/lestari Strategi Keuskupan Purwokerto lima tahun (2012-1016) bergerak dalam bidang kerasulan berikut: Membina kedalaman iman umat dengan mencermati dokumen Konsili Vatikan II. Menggarap Pemberdayaan Paguyuban Paguyuban territorial, kategorial, profesional. Meningkatkan mutu Lembaga Pendidikan Katolik, menukiknya pada kerasulan persekolahan Dengan semboyan “NON MEA SED TUA VOLUNTAS FIAT”, penulis naskah ini mengimani dengan harapan yang begitu besar bahwa Almarhum Paus Johanes Paulus II, “yang akan diresmikan menjadi orang kudus untuk zaman postmodern ini ”, berdoa kepada Allah Tritunggal Mahakudus dan mohon restu kepada Bunda Maria gar visi, misi dan strategi Keuskupan Purwokerto sebagai Sakramen Kerajaan Allah menjadi keyataan. Purwokerto, 25 Maret 2014 Hari Raya Kabar Sukacita

Para-Waligereja-peserta-sidang-perdana-KWI-thn-1924Pengantar Dalam buku Sejarah Gereja Katolik Indonesia, jilid 3b, yang diterbitkan oleh Bagian Dokumentasi Penerangan Kantor Waligereja Indonesia dan dicetak oleh Percetakan Arnoldus Ende-Flores, 1974, pastor Dr. MPM Muskens Pr menulis tentang “Setengah Abad Majelis Agung Waligereja Indonesia (MAWI) 1924-1974” (halaman 1431-1524). Berdasarkan data dan tanggal yang tercantum dalam buku tersebut, maka diambillah sebagai pijakan […]

Nada dan GitaAWALNYA hanyalah sebuah panggung biasa. Tirai merah besar masih jatuh tergelar rapi di panggung utama. Dalam sekejap lalu muncullah Fanny Rahmasari, presenter sebuah program infotainment, mengantar masuk acara pentas Nada untuk Asa. Nah, gara-gara ulah nakal Mama Yuni (Christian Reynaldo), Fanny yang harus mengantar buka wicara pergelaran Nada untuk Asa di Teater Jakarta, TIM, 20-21 […]

Koptari suster taviana cb OKPANGGILAN religius bisa disebabkan oleh kemiskinan material yang membuat anak-anak muda berani untuk menjalani hidup membiara, karena sudah terbiasa dengan hidup yang sulit. Dalam kasus ini, kemiskinan bisa menjadi berkat yang tersembunyi (blessing in disguise) yang dipakai Tuhan untuk memanggilnya. Namun sering terjadi pula bahwa orang muda dari daerah miskin, menjadi “lahan pencarian panggilan” oleh […]

  • 1
  • 2