anomanHanoman harus berjaga sepanjang hayatnya agar arwah Rahwana tidak bangkit dari kubur dan merusak dunia. Alkisah putra Sulung Begawan Wisrawa, -Rahwana-, adalah raksasa mahasakti karena dalam dirinya bersemayam ajian Pancasona. Kerusakan bahkan kehancuran fisik seperti apa pun selagi Rahwana masih menjejak tanah, sosok yang dalam dirinya bersemayam aji Pancasona itu akan kembali hidup. Itulah ajian yang hanya dimiliki oleh tiga sosok tokoh dalam pewayangan: Subali, Setija Bomanarakasura, dan Rahwana. Dalam cerita wayang, Rahwana juga disebut Dasamuka. Dasa berarti sepuluh, dan muka artinya wajah menggambarkan bahwa seluruh sifat jahat yang ada di dunia ini ada pada diri Rahwana. Tragisnya, kesepuluh sifat jahat yang berada di dalam diri Rahwana itu berpadu dengan ajian Pancasona yang digenggam Rahwana. Alhasil kejahatan yang ada dalam diri Rahwana tidak pernah bisa dimatikan oleh kekuatan apa pun di jagad ini. Karena itulah Hanoman, si Kera Putih penjaga kebenaran itu manakala sudah meringkus Rahwana harus menguburnya hidup-hidup. Tidak cukup itu! Hanoman harus berjaga di atas kuburan Rahwana sepanjang hayatnya agar Rahwana tidak lagi bangkit dan merongrong dunia. Rahwana dengan sepuluh wajah kejahatannya itu ternyata telah menyusup ke dalam hati dan pikiran kita dalam wujud tujuh akar dosa: kesombongan, ketamakan, kedengkian, kemurkaan, percabulan, kerakusan, dan kelambanan (Santo Yohanes Kasianus dan Santo Gregorius Agung). Atau dalam tiga penyebab dosa: lobha, kemelekatan tinggi kita terhadap harta benda, kekuasaan, seseorang; dosa, kebencian yang menjadi penyebab paling besar dalam suatu kejahatan; dan moha, kebodohan batin, orang yang tidak bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk. (ajaran Budha) Kita mendapati dalam diri kita telah bercokol tujuh akar dosa dan tiga penyebab kejahatan beraji Pancasona. Berapa kali pun kita tumpas tujuh akar dosa dan tiga penyebab dosa itu selalu saja muncul, muncul, dan muncul lagi. Kera Putih Hanoman yang bersemayam dalam hati kita harus selalu kita siagakan untuk selalu mengawasi sekecil apa pun upaya dan gerak-gerik Rahwana untuk bangkit menguasai hidup kita. “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang, menjelang malam, atau tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta, . . . (Markus 13:35) dapat kita baca, “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah Rahwana itu datang, menjelang malam, atau tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta, . . . “  

misa sura paroki pekalongan 2JUMAT  petang , tanggal 24 Oktober 2014, pukul 18.00 WIB, umat Gereja St. Petrus Pekalongan mengadakan perayaaan Ekaristi 1 Sura 1948 yang dihadiri oleh umat dari paroki maupun stasi. Perayaan Ekaristi 1 Sura 1948 merenungkan tema “Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti”. Perayaan ekaristi dipimpin oleh Romo MB Sheko Swandi Marlindo didampingi oleh Romo M. […]

Di Merauke, Papua, ada daerah yang dihuni oleh para transmigran. Salah satu lokasi itu namanya Semangga dan penduduknya mayoritas suku Jawa.  Saya singgah  di sana berbincang-bincang dengan keluarga tersebut. Bapak keluarga berkata bahwa  dalam minggu ini semestinya keluarga mengadakan pesta Perak Perkawinan. Namun berhubung salah satu anaknya yang bernama Sri Suprihatini sedang menderita sakit yang […]