Konggres Muntilan Penutupan tarianPengantar Redaksi Sejak tahun 2011, Keuskupan Agung Semarang (KAS) selalu menempatkan (menetapkan) salah satu Hari Minggu dalam rentang tanggal 18-25 Januari sebagai Hari Minggu HAK KAS. Sejak tahun 2012, Bapak Uskup Agung Semarang, Mgr. Johannes Pujasumarta berkenan menyampaikan Surat Gembala kepada kita. Berikut kami tampilkan urat Gembala Hari Minggu HAK KAS 2015 yang mesti kita bacakan/terangkan kepada umat dalam Perayaan Ekaristi Minggu 17-18 Januari 2015 sebagai Hari Minggu HAK KAS 2015. Semoga bermanfaat. Salam n doa, Berkah Dalem Pastor Aloysius Budipurnomo Pr, Komisi HAK KAS ——————– SURAT GEMBALA HARI MINGGU HAK 2015 KAS “Mensyukuri Kehadiran Tuhan dalam Persaudaraan Sejati Bersumber dari Sakramen Ekaristi!” Saudari-saudaraku yang terkasih, Tema Pekan Doa Sedunia (PDS) untuk Kesatuan Umat Kristiani, tanggal 18-25 Januari 2015 didasarkan pada Injil Yohanes 4:1-42. Tema dikutip dari kalimat Yesus yang ditujukan kepada perempuan Samaria, “Berilah Aku Minum!” (Yoh 4:7). Bersama seluruh Umat Kristiani seluruh dunia, kita berdoa untuk Kesatuan Umat Kristiani. Tema dan bahan PDS 2015 dipersiapkan oleh Kerja sama antara Dewan Kepausan untuk Kesatuan Umat Kristiani (Gereja Kristen Katolik Roma di Vatikan) dan Komisi Iman dan Hukum Dewan Gereja-Gereja Sedunia (Gereja Kristen Protestan di Geneva). “Berilah Aku minum!” Kalimat ini disampaikan Yesus kepada perempuan Samaria yang sedang menimba air di Sumur Yakub. Saat mengatakan kalimat itu, Yesus sedang dalam perjalanan ke Galilea bersama para murid, lelah, haus dan berada di tempat asing di daerah Samaria. Kita semua tahu, orang Yahudi dan orang Samaria tidak saling bergaul. Hubungan mereka tidak harmonis, bahkan, cenderung diwarnai oleh kebencian dan dendam. Namun Yesus membongkar suasana kebekuan relasi dengan memulai menyapa perempuan yang akan menimba dengan cara meminta air untuk minum. Pada awalnya tidak mudah, namun selanjutnya kita membaca dalam Injil Yohanes, Yesus yang semula meminta air justru menawarkan air kehidupan yang membuat perempuan Samaria itu diubah hidupnya. Ia bahkan menerima Yesus dan mengimani-Nya sebagai Mesias. Bukan hanya itu, perempuan Samaria itu mewartakan pengalaman iman perjumpaannya dengan Yesus – Sang Mesias kepada orang-orang se kota yang kemudian menjadi percaya kepada-Nya. Bahkan ditegaskan oleh penginjil Yohanes bahwa “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia” (Yoh. 4:42). Terdapat pengalaman rohani yang diawali dari perjumpaan sehari-hari dengan keperluan dasar yaitu minum. Perjumpaan Yesus Kristus dengan perempuan Samaria itu memberi inspirasi perjumpaan budaya dan agama. Kelompok-kelompok yang saling bertikai bisa berdamai, yang bermusuhan berjabat tangan, yang saling curiga menjadi saling percaya. Prasyarat untuk perubahan itu jelas. Pertama, perjumpaan dengan Yesus Kristus. Kedua, perjumpaan itu membuat kita – laksana perempuan Samaria – meninggalkan “tempayan” masing-masing karena telah menemukan rahmat yang jauh lebih besar, yakni sosok pribadi Yesus Kristus, Sang Penebus. Dalam teks Yohanes bab 4, Yesus adalah orang asing yang datang, singgah dalam perjalanan, lelah dan haus. Dia membutuhkan bantuan dan meminta air. Wanita Samaria itu ada di negerinya sendiri; memiliki ember untuk menimba air dan paham dengan situasi sekitar. Tetapi perempuan ini ternyata juga haus. Yesus dan Perempuan Samaria bertemu dan bercakap-cakap. Perjumpaan ini membawa nilai yang mendalam. Yesus tidak serta merta menjadi orang Samaria karena minum dari air yang diberikan oleh wanita Samaria. Orang Samaria tetaplah sebagai orang Samaria meski perjumpaannya dengan Yesus. Percakapan dan perjumpaan yang mengubah sikap hidup untuk menjadi “penyembah-penyembah benar yang menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran” (Yoh. 4:23).   Ketika kita menyadari bahwa kita memiliki kebutuhan timbal balik, saling melengkapi dan ada keterbukaan hati, maka hidup kita diperkaya satu sama lain. Ungkapan “Berilah Aku minum!” mengandaikan bahwa baik Yesus dan orang Samaria meminta apa yang mereka butuhkan satu sama lain. Ungkapan “Berilah Aku minum!” mendorong kita untuk mengakui bahwa kita sebagai warga masyarakat, budaya, agama dan etnis saling membutuhkan. Peristiwa perjumpaan Yesus yang haus dengan perempuan Samaria membawa kita pada peristiwa saat Yesus disalibkan. Penginjil Yohanes menulis, pada saat tergantung di kayu salib, Yesus berkata, “Aku haus!” (Yoh. 19:28). Dan dari lambung Yesus yang telah wafat dan kemudian ditikam, mengalir darah dan air (Yoh. 19:34) yang melambangkan Sakramen-Sakramen dan menjadi sumber kehidupan bagi kita. Bersumber dari Sakramen-Sakramen itu, terutama Sakramen Ekaristi, kita dipanggil dan diutus mewartakan Kristus di tengah kehidupan bersama yang ditandai perbedaan, keberagaman dan berbagai macam tantangan dan kesulitan. Saudari-saudaraku yang terkasih, Pada tahun 2015 ini, kita mensyukuri bahwa Arah Dasar KAS 2011-2015 mencapai puncaknya, dengan syukur, evaluasi dan refleksi atas kasih Tuhan yang dilimpahkan kepada kita. Kita syukuri Kongres Ekaristi Keuskupan yang pertama dan kedua di Keuskupan Agung Semarang, sebab dari sana kita diingatkan bahwa Yesus Kristus sebagai sumber berkat atas lima roti dan dua ikan, untuk selalu tinggal dalam Kristus dan berbuah. Kita syukuri pula bahwa Keuskupan Agung Semarang telah menyelenggarakan Kongres Persaudaraan Sejati Lintas Iman yang pertama tingkat Keuskupan yang melibatkan banyak pihak dari agama-agama dan kepercayaan lain. Kita syukuri keterlibatan Kaum awam perwakilan dari paroki maupun komunitas atau paguyuban, tidak sedikit biarawan-biarawati, pertapa, dan anggota Institut Sekulir yang terlibat dalam Kongres Ekaristi Keuskupan maupun Kongres Persaudaraan Sejati Lintas Iman. Tentu, ini menjadi bagian dari Sukacita Injil yang membuat kita beriman Cerdas, Tangguh dan Misioner. Kita bersama bersyukur karena boleh mengenal dan mengimani Yesus Kristus yang menawarkan air kehidupan kepada kita, di samping bahwa Yesus Kristus sendiri tak pernah berhenti haus untuk menyelamatkan semakin banyak orang. Melalui Kongres Ekaristi Keuskupan dan Kongres Persaudaraan Sejati Lintas Iman, kita dipanggil untuk memusatkan hidup kepada Yesus Kristus kemudian mewartakan Yesus Kristus sebagai Juruselamat bagi semua orang. Itulah alasan kita merajut persaudaraan sejati lintas iman, baik dengan Umat Kristen lainnya melalui gerakan dialog dan kerja sama ekumenis, maupun dengan Umat non-Kristen, yakni penganut agama Islam, Hindu, Budha, Konghucu serta aliran Kepercayaan yang ada di sekitar kita. Saudari-saudaraku yang terkasih, Pada tahun 2015 ini, kita mensyukuri “Indahnya mengikuti Yesus Kristus dengan melaksanakan Ardas KAS 2011-2015 pada Tahun Hidup Bhakti”. Bersumber dari Sakramen Ekaristi dan Adorasi Ekaristi yang berbuah dalam terwujudnya persaudaraan sejati lintas iman; ungkapan syukur, evaluasi dan refleksi kita tempatkan. Kita telah dan terus mengupayakan pelbagai bentuk perwujudan kepedulian kepada masyarakat dalam pelbagai gerakan, aneka usaha dan cara hidup demi kelestarian keutuhan ciptaan, maupun pemberdayaan kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel serta perhatian bagi mereka yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba. Seperti Samuel yang dipanggil Tuhan dan bersedia mematuhi kehendakNya (1Sam 3:3b-10,19 bacaan I), kita pun dipanggil untuk mewartakan Kristus di tengah keberagaman. Dengan seluruh jiwa raga kita, kita bersyukur dan memuliakan Allah kita dengan hidup pantas (1Kor 6:13c-15a,17-20; bacaan II). Semoga perjumpaan kita dengan Yesus Kristus melalui Sakramen Ekaristi membuat iman kita kian teguh kepada Yesus Sang Anak Domba Allah yang mengajak kita -seperti murid-murid pertama- untuk selalu tinggal bersama-sama dengan Dia (Yoh 1:35-42,). Semarang, 25 Desember 2014, Pada Hari Raya Natal Salam, doa dan Berkah Dalem, + Johannes Pujasumarta Uskup Keuskupan Agung Semarang — KOMISI HUBUNGAN ANTARAGAMA DAN KEPERCAYAAN KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG Majalah bulanan Kristiani INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan, Semarang “Merajut peradaban damai melalui budaya dialog interreligius yang liberatif!” “Gereja Katolik mendorong para puteri-puteranya, supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerja sama dengan para penganut agama-agama lain, sambil memberi kesaksian tentang iman serta perihidup kristiani, mengakui, memelihara dan mengembangkan harta-kekayaan rohani dan moral serta nilai-nilai sosio-budaya,yang terdapat pada mereka.” (Konsili Vatikan II, Deklarasi Nostra Aetate 2)

Pope_Francis_embraces_a_boy_prior_to_his_first_Urbi_et_Orbi_blessing_on_Easter_Sunday_March_31_2013_Credit_Franco_Origlia_Getty_Images_News_Getty_Images_CNA_4_3_13PESAN PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI KOMUNIKASI SEDUNIA KE-49 Mengkomunikasikan Keluarga:  Tempat Istimewa Perjumpaan Karunia Kasih KELUARGA adalah sebuah pokok refleksi mendalam Gereja dan sebuah proses yang melibatkan dua Sinode: Sinode luar biasa baru-baru ini dan Sinode biasa yang dijadwalkan pada Oktober mendatang. Maka, hemat saya, tepatlah bila tema untuk Hari Komunikasi Sedunia yang akan datang semestinya menjadikan keluarga sebagai titik acuannya. Bagaimana pun juga, dalam konteks keluarga itulah kita pertama-tama belajar bagaimana berkomunikasi. Memusatkan perhatian pada konteks ini dapat membantu menjadikan komunikasi kita lebih autentik dan manusiawi, seraya pada saat yang sama membantu kita melihat keluarga seturut perspektif baru. Kita dapat menimba ilham dari perikop Injil yang mengisahkan kunjungan Maria kepada Elisabet (Luk 1:39-56). ”Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: ‘Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu’” (ay. 41-42). Kisah perikop itu sekali lagi memperlihatkan bagaimana komunikasi itu pada dasarnya juga melibatkan bahasa tubuh. Respon Elisabet atas salam Maria pertama-tama diekspresikan oleh bayi di dalam kandungannya yang melonjak kegirangan. Merasakan sukacita karena berjumpa sesama –suatu pengalaman personal yang kita alami, bahkan sebelum lahir pun- dalam artian tertentu merupakan wujud asali dan simbol dari semua bentuk komunikasi. Rahim adalah “sekolah” komunikasi yang pertama, tempat mendengarkan dan kontak fisik di mana kita mulai mengakrabkan diri dengan dunia luar dalam sebuah lingkungan yang terlindung, dengan suara yang menenteramkan dari detak jantung sang ibu. Pertemuan di antara dua orang, yang saling terkait begitu erat namun tetap berbeda satu sama lain, sebuah pertemuan yang sarat janji, adalah pengalaman komunikasi kita yang pertama. Ini adalah pengalaman yang kita semua miliki, karena masing-masing kita terlahir dari seorang ibu. Bahkan setelah kita terlahir ke dunia, dalam arti tertentu kita masih tetap berada dalam sebuah “rahim”, yakni keluarga. Sebuah rahim terdiri dari berbagai orang yang saling terkait: keluarga adalah tempat “di mana kita, meskipun berbeda, belajar hidup bersama orang lain” (Evangelii Gaudium, 66). Betapapun ada perbedaan jenis kelamin dan usia di antara mereka, namun para anggota keluarga menerima satu sama lain karena ada ikatan di antara mereka. Semakin lebar cakupan relasi ini dan semakin besar perbedaan usia, maka akan semakin kaya lingkungan hidup kita. Ikatan inilah yang merupakan akar bahasa, yang pada gilirannya memperkuat ikatan tersebut. Kita tidak menciptakan bahasa kita; kita dapat menggunakan bahasa karena kita telah mewarisinya. Di dalam keluarga inilah kita belajar menuturkan “bahasa ibu” kita, yaitu bahasa dari mereka yang telah mendahului kita. (Bdk. 2 Makabe 7:25, 27). Di dalam keluarga kita menyadari bahwa ada orang-orang lain yang telah mendahului kita, mereka memungkinkan kita untuk berada dan pada gilirannya kita mesti menghasilkan kehidupan dan melakukan sesuatu yang baik lagi indah. Kita mampu memberi karena kita telah menerima. Lingkaran luhur ini merupakan intipati kemampuan keluarga untuk berkomunikasi di antara para anggotanya dan dengan orang-orang lain. Secara umum, lingkaran tersebut adalah model untuk semua komunikasi. Pengalaman tentang relasi yang “mendahului” kita memungkinkan keluarga untuk menjadi latar di mana bentuk komunikasi yang paling dasar, yaitu doa, diwariskan. Ketika para orangtua menidurkan anak-anak mereka yang baru lahir, mereka sering kali mempercayakan anak-anak itu kepada Tuhan, seraya memohon agar Ia menjaga mereka. Ketika anak-anak itu bertambah usia, para orangtua membantu mereka untuk mendaraskan beberapa doa sederhana, seraya mengenang kasih sayang orang-orang lain, seperti kakek-nenek, para kerabat, orang-orang sakit dan menderita, dan semua orang yang membutuhkan pertolongan Tuhan. Di dalam keluarga itulah sebagian besar kita mempelajari dimensi rohani komunikasi, yang di dalam Kekristenan diresapi dengan kasih, yaitu kasih yang Allah anugerahkan kepada kita dan yang kemudian kita tawarkan kepada orang-orang lain. Di dalam keluarga itulah kita belajar bagaimana masing-masing bisa saling berbagi dan mendukung, belajar mampu mengartikan secara tepat ekspresi wajah orang dan membaca isi hatinya sekalipun diam tak berkata-kata; kita tertawa dan menangis bersama pribadi-pribadi yang tidak saling memilih tetapi begitu berarti satu sama lain. Realitas ini tentu saja sangat membantu kita untuk memahami makna komunikasi sebagai kedekatan pertalian batin yang saling meneguhkan dan mempertautkan. Manakala kita mengurangi jarak dengan bertumbuh lebih dekat dan saling menerima, maka kita mengalami rasa syukur dan sukacita. Salam Maria dan lonjakan sukacita anaknya merupakan sebuah berkat bagi Elisabet; disusul madah indah Magnificat, di mana Maria memuji rencana kasih Allah bagi dirinya dan bagi kaumnya. Sebuah “ya” yang diujarkan dengan iman dapat memiliki dampak yang melampaui diri kita dan tempat kita di dunia ini. ”Mengunjungi” berarti membuka pintu, tidak tinggal tertutup di dunia kecil kita, melainkan pergi mendatangi orang-orang lain. Demikian pula keluarga menjadi hidup lantaran ia melampaui dirinya. Keluarga-keluarga yang melakukan hal demikian mengkomunikasikan pesan mereka tentang hidup dan persekutuan, seraya memberikan penghiburan dan pengharapan kepada keluarga-keluarga yang lebih rapuh, dan dengan demikian membangun Gereja itu sendiri, yang merupakan keluarga semua keluarga. Lebih daripada apa pun juga, keluarga adalah tempat di mana kita setiap hari mengalami aneka keterbatasan kita sendiri dan keterbatasan orang-orang lain, pelbagai masalah besar dan kecil yang termaktub dalam kehidupan yang damai dengan orang-orang lain. Sebuah keluarga yang sempurna tidak ada. Kita tidak perlu takut akan cacat cela, kelemahan atau bahkan konflik, tetapi sebaliknya belajar untuk mengatasi semuanya secara konstruktif. Keluarga, di mana kita tetap mengasihi satu sama lain meskipun ada serba keterbatasan dan dosa-dosa kita, karenanya merupakan sebuah sekolah pengampunan. Pengampunan itu sendiri merupakan sebuah proses komunikasi. Ketika penyesalan diungkapkan dan diterima, maka ada kemungkinan untuk memulihkan dan membangun kembali komunikasi yang putus. Seorang anak yang belajar dalam keluarga bagaimana mendengarkan orang lain, bagaimana berbicara dengan hormat dan mengungkapkan pandangannya tanpa menafikan orang lain, akan menjadi sebuah kekuatan bagi dialog dan rekonsiliasi di tengah masyarakat. Ketika bersinggungan dengan tantangan dalam berkomunikasi, maka keluarga-keluarga yang punya anak-anak dengan keterbatasan fisik maupun mental mengajarkan banyak hal kepada kita. Keterbatasan gerak (motorik), perasaan (sensorik) atau mental dapat menjadi alasan untuk kemudian menutup diri, namun sebaliknya –berkat kasih orangtua, saudara kandung dan teman—juga bisa menjadi pendorong untuk terbuka, kemauan berbagi dan kesiapan menjalin komunikasi dengan siapa saja. Hal ini juga bisa membantu sekolah, paroki, dan kelompok-kelompok orang untuk semakin terbuka dan inklusif bagi siapa pun. Di dunia nyata dimana orang sering kali dengan gampangnya mengumpat, menggunakan kata-kata kasar, membicarakan kejelekan orang lain, menabur pertentangan dan meracuni pergaulan sosial dengan gosip, maka keluarga menjadi acuan tentang bagaimana seharusnya memahami komunikasi sebagai rahmat. Dalam banyak situasi yang secara nyata dikekang oleh nafas kebencian dan aroma kekerasan, dimana banyak keluarga terpisah satu sama lain oleh kokohnya tembok batu atau jurang pemisah lantaran prasangka buruk dan rasa tidak suka, dimana terjadi situasi yang memungkinkan mengatakan ‘cukuplah sudah sekarang ini!’, rasanya hanya dengan berkah daripada kutukan, dengan jalan berkunjung daripada mengusir, dengan menerima daripada mengajak ribut, maka kita akan mampu mematahkan rantai spiral kejahatan; juga mampu memperlihatkan bahwa kebaikan itu selalu saja mungkin dan mendidik anak-anak kita untuk menghargai pertemanan. Dewasa ini media modern, yang merupakan bagian hakiki dari kehidupan kaum muda khususnya, dapat menjadi bantuan namun juga halangan bagi komunikasi di dalam dan di antara keluarga. Media bisa merupakan halangan jika dijadikan cara untuk mencegah kita mendengarkan orang lain, untuk mengelakkan kontak fisik, untuk mengisi setiap saat hening dan istirahat, sehingga kita lupa bahwa “keheningan adalah bagian terpadu dari komunikasi; tanpa keheningan, kata-kata yang kaya pesan tak akan ada”, (BENEDIKTUS XVI, Pesan Untuk Hari Komunikasi Sedunia Tahun 2012 ). Media dapat menjadi bantuan bagi komunikasi ketika media memungkinkan orang untuk berbagi kisah, untuk tetap menjalin kontak dengan teman-teman yang jauh, untuk mengucapkan terima kasih kepada orang lain atau meminta pengampunan mereka, dan untuk membuka pintu bagi perjumpaan-perjumpaan baru. Dengan berkembang setiap hari dalam kesadaran kita akan betapa pentingnya berjumpa dengan orang-orang lain, “peluang-peluang baru” ini, maka kita akan memakai teknologi secara bijaksana, alih-alih membiarkan diri kita dikuasai media. Di sini juga, para orangtua adalah pendidik utama, tetapi mereka tidak boleh dibiarkan sendirian. Komunitas Kristen dipanggil untuk membantu mereka mengajarkan anak-anak bagaimana hidup dalam sebuah lingkungan media secara sepadan dengan martabat mereka sebagai pribadi manusia dan demi melayani kesejahteraan umum. Tantangan besar yang kita hadapi saat ini ialah untuk mempelajari kembali bagaimana berbicara satu sama lain, tidak sekadar bagaimana untuk menghasilkan dan memakai informasi. Yang terakhir tadi adalah kecenderungan yang dapat didorong oleh media komunikasi modern kita yang terbilang penting dan berpengaruh. Informasi memang penting, tetapi tidak cukup. Sekian sering hal-hal disederhanakan, aneka posisi dan sudut pandang berbeda diadu satu sama lain, dan orang-orang diajak memihak, alih-alih melihat hal-hal itu secara utuh. Kesimpulannya, keluarga bukanlah pokok bahasan atau sumber darimana pertentangan ideologis muncul. Melainkan, keluarga harus dipandang sebagai ruang sosial dimana kita semua belajar berkomunikasi yang ditandai oleh pengalaman akan keakraban satu sama lain. Keluarga adalah ruang sosial dimana komunikasi itu terjadi, sebuah komunitas manusia yang saling berkomunikasi. Keluarga adalah suatu komunitas yang senantiasa menyediakan pertolongan, yang menyegarkan kehidupan dan membuahkan hasil. Begitu kita menyadari hal ini, maka kita sekali lagi akan dimampukan melihat bahwa keluarga senantiasa menjadi sumber daya manusia yang begitu kaya manakala bila bertabrakan dengan masalah. Banyak kali, media suka menampilkan keluarga lazimnya sebuah model abstrak yang bisa ditolak, dibela atau diserang dan bukannya pertama-tama melihatnya sebagai realitas sosial yang hidup. Sering juga keluarga diperlakukan sebagai sumber darimana pertentangan ideologis itu muncul daripada melihatnya sebagai ruang sosial dimana kita semua ini belajar apa artinya berkomunikasi dalam bingkai kasih yang diwarnai semangat saling memberi-menerima. Berpijak pada pengalaman nyata inilah kita menjadi sadar bahwa ternyata hidup kita ini terjalin bersama sebagai suatu realitas tunggal, bahwa kita masing-masing itu banyak perbedaannya namun sekali lagi setiap orang pada dasarnya tetaplah pribadi yang unik. Keluarga-keluarga harus dilihat sebagai sumber daya alih-alih sebagai masalah bagi masyarakat. Keluarga-keluarga berkomunikasi secara aktif melalui kesaksian mereka tentang keindahan dan kekayaan relasi antara lelaki dan perempuan, dan antara para orangtua dan anak-anak. Kita tidak sedang berjuang untuk membela masa lalu. Sebaliknya, dengan kesabaran dan kepercayaan, kita bekerja untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi dunia di mana kita hidup. Diberikan di Vatikan, 23 Januari 2015, Vigilii Pesta Santo Fransiskus dari Sales PAUS FRANSISKUS    

IYD-2102-karnaval“Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Mat 5:8) BERIKUT adalah pesan Bapa Suci untuk Hari Orang Muda Sedunia tahun 2015, yang akan diselenggarakan pada Hari Minggu Palma, 29 Maret 2015, di tingkat keuskupan. Sahabat-sahabat muda yang terkasih, Kita melanjutkan peziarahan rohani kita menuju Krakow, di mana pada bulan Juli 2016 Hari Orang Muda Sedunia berikutnya secara internasional akan diadakan. Sebagai panduan kita untuk perjalanan tersebut kita telah memilih Sabda Bahagia. Tahun lalu kita merefleksikan sabda bahagia dari orang yang miskin di hadapan Allah, dalam konteks yang lebih besar dari Khotbah di Bukit. Bersama-sama kita menemukan makna revolusioner Sabda Bahagia dan panggilan yang kuat dari Yesus untuk memulai dengan teguh hati pencarian yang mengasyikkan untuk kebahagiaan. Tahun ini kita akan merefleksikan Sabda Bahagia yang keenam: “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Mat 5:8). 1. Keinginan untuk kebahagiaan Kata “berbahagia”, atau “gembira”, muncul sembilan kali dalam hal ini, khotbah besar Yesus yang pertama (bdk. Mat 5:1-12). Ini seperti sebuah refren yang mengingatkan kita akan panggilan Tuhan untuk maju bersama-sama bersama-sama Dia di jalan yang, bagi semua orang banyak tantangannya, menuntun kepada kebahagiaan sejati. Sahabat-sahabat muda yang terkasih, pencarian untuk kebahagiaan ini dibagikan oleh orang-orang dari segala zaman dan segala usia. Allah telah menempatkan dalam hati setiap pria dan wanita sebuah keinginan yang tak tertahankan untuk kebahagiaan, untuk penggenapan. Apakah kalian tidak menyadari bahwa hati kalian gelisah, selalu mencari sebuah harta yang dapat memuaskan kehausan mereka untuk yang tak terbatas? Bab-bab pertama Kitab Kejadian menunjukkan kepada kita maraknya “sabda bahagia” yang kepadanya kita dipanggil. Ini meliputi persekutuan sempurna dengan Allah, dengan orang lain, dengan alam, dan dengan diri kita sendiri. Mendekati Allah secara bebas, memandang-Nya dan menjadi dekat dengan-Nya, merupakan bagian dari rencana-Nya bagi kita sejak awal; cahaya ilahi-Nya dimaksudkan untuk menerangi setiap hubungan manusia dengan kebenaran dan keterbukaan. Dalam keadaan kemurnian asali, di sana tidak perlu memakai topeng, untuk terlibat dalam kesenangan bersama atau untuk mencoba saling menyembunyikan diri kita. Segalanya jelas dan murni. Ketika Adam dan Hawa menyerah pada godaan dan mematahkan hubungan mempercayai persekutuan dengan Allah ini, dosa masuk ke dalam sejarah manusia (bdk. Kej 3). Pengaruhnya segera jelas, di dalam diri mereka, dalam hubungan mereka satu sama lain dan dengan alam. Dan alangkah dramatisnya pengaruh itu! Kemurnian asali kita tercemar. Sejak saat itu, kita tidak lagi mampu dekat dengan Allah. Pria dan wanita mulai menyembunyikan diri mereka, menutupi ketelanjangan mereka. Kurangnya cahaya yang berasal dari melihat Tuhan, mereka melihat segala sesuatu di sekitar mereka dengan cara yang menyimpang, secara dangkal. Pedoman batin yang telah menuntun mereka dalam pencarian mereka untuk kebahagiaan kehilangan titik acuannya, dan daya tarik kekuasaan, kekayaan, harta benda, dan sebuah keinginan untuk kesenangan berapapun harganya, membawa mereka ke jurang kesedihan dan penderitaan. Dalam Mazmur kita mendengar permohonan tulus yang dibuat manusia kepada Allah: “Apa yang bisa membawakan kita kebahagiaan? Biarlah cahaya wajah-Mu menyinari kami, ya TUHAN!” (Mzm 4:7). Bapa, dalam kebaikan-Nya yang tak terbatas, menanggapi permohonan ini dengan mengutus Putra-Nya. Di dalam Yesus, Allah telah mengambil rupa manusia. Melalui penjelmaan, kehidupan, kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus membebaskan kita dari dosa dan membuka cakrawala-cakrawala baru dan yang tak terbayangkan sampai sekarang. Para pria dan wanita muda yang terkasih, di dalam Kristus kalian menemukan terpenuhinya setiap keinginan kalian untuk kebaikan dan kebahagiaan. Hanya Dialah yang dapat memuaskan kerinduan terdalam kalian, yang sering tertutup oleh janji-janji duniawi yang menipu. Seperti dikatakan oleh Santo Yohanes Paulus II: “Ia adalah keindahan yang kepadanya kalian begitu tertarik, Dialah yang memancing kalian dengan kehausan akan kepenuhan itu yang tidak akan membiarkan kalian puas akan kompromi, Dialah yang mendesak kalian untuk melepaskan topeng dari sebuah kehidupan palsu, Dialah yang membaca dalam hati kalian pilihan-pilihan kalian yang paling asali, pilihan-pilihan yang orang lain coba lumpuhkan. Yesuslah yang membangkitkan di dalam diri kalian keinginan untuk melakukan sesuatu yang besar dengan hidup kalian” (bdk. Wacana pada Vigili Doa. di Tor Vergata, 19 Agustus 2000: Insegnamenti XXIII/2, [2000], 212). 2. Berbahagialah orang yang suci hatinya … Mari kita sekarang mencoba untuk memahami secara lebih lengkap bagaimana keberbahagiaan ini terjadi melalui kemurnian hati. Pertama-tama, kita perlu memahami makna biblis kata “hati”. Dalam pemikiran Ibrani, hati adalah pusat perasaan, pikiran dan kehendak pribadi manusia. Karena Alkitab mengajarkan kita bahwa Allah tidak memandang penampilan, tetapi hati (bdk. 1 Sam 16:7), kita juga dapat mengatakan bahwa dari hatilah kita melihat Allah. Ini karena hati benar-benar manusia dalam totalitasnya sebagai kesatuan tubuh dan jiwa, dalam kemampuannya untuk mengasihi dan dikasihi. Mengenai definisi kata “murni”, akan tetapi, kata Yunani yang digunakan oleh penginjil Matius adalah katharos, yang pada dasarnya berarti bersih, murni, tanpa noda. Dalam Injil kita melihat Yesus menolak pengartian kemurnian ritual tertentu yang berkaitan dengan penerapan-penerapan lahiriah, penerapan yang melarang semua orang berkontak dengan hal-hal dan orang-orang (termasuk orang kusta dan orang asing) yang dianggap tidak murni. Kepada orang-orang Farisi yang, seperti begitu banyak orang Yahudi pada zaman mereka, tidak makan apa pun tanpa terlebih dahulu melakukan pembersihan ritual dan memperhatikan banyak tradisi yang berhubungan dengan bejana pembersihan, Yesus menjawab tegas: “Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya. Sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan” (Mrk 7:15,21-22). Lalu, terkandung dalam apakah kebahagiaan yang lahir dari hati yang murni? Dari daftar Yesus tentang kejahatan yang membuat seseorang tidak murni, kita melihat bahwa pertanyaan harus dilakukan terutama dengan wilayah hubungan kita. Kita masing-masing harus belajar untuk membedakan apa yang dapat “mencemari” hatinya dan untuk membentuk hati nuraninya secara benar dan bijaksana, sehingga mampu “membedakan kehendak Allah, apa yang baik serta yang berkenan dan sempurna” (Rm 12:2). Kita perlu menunjukkan perhatian yang baik terhadap ciptaan, terhadap kemurnian udara, air dan makanan kita, tetapi berapa banyak lagi yang kita butuhkan untuk melindungi kemurnian apa yang paling berharga dari semuanya : hati kita dan hubungan kita. “Ekologi manusia” ini akan membantu kita untuk menghirup udara murni yang berasal dari keindahan, dari kasih sejati, dan dari kesucian. Saya pernah bertanya kepada kalian : “Di mana hartamu? Dalam apakah hatimu menemukan sandarannya?” (bdk. Wawancara dengan Orang Muda dari Belgia, 31 Maret 2014). Hati kita dapat terikat pada harta yang benar atau salah, mereka dapat menemukan sandaran asali atau mereka hanya bisa terlelap, menjadi malas dan lesu. Kebaikan terbesar yang dapat kita miliki dalam hidup adalah hubungan kita dengan Allah. Apakah kalian meyakini hal ini? Apakah kalian menyadari berapa banyak kalian layak di mata Allah? Apakah kalian tahu bahwa kalian dikasihi dan disambut oleh-Nya tanpa syarat, sebagaimana adanya? Pernah kita kehilangan perasaan kita akan hal ini, kita manusia menjadi sebuah teka-teki yang tidak dapat dimengerti, karena itu adalah pengetahuan bahwa kita dikasihi tanpa syarat oleh Allah yang memberi makna pada hidup kita. Apakah kalian ingat percakapan yang dilakukan Yesus dengan pemuda kaya (bdk. Mrk 10:17-22)? Penginjil Markus mengamati bahwa Tuhan memandangnya dan mengasihinya (ayat 21), dan mengundangnya untuk mengikuti-Nya dan dengan demikian menemukan kekayaan sejati. Saya harap, sahabat-sahabat muda yang terkasih, supaya tatapan Kristus yang penuh kasih itu akan menemani kalian masing-masing sepanjang hidup. Masa muda adalah sebuah masa kehidupan ketika keinginan kalian akan suatu kasih yang tulus, indah dan meluap-luap mulai mekar di dalam hati kalian. Alangkah kuatnya kemampuan untuk mengasihi dan dikasihi ini! Jangan biarkan harta yang berharga ini direndahkan, dihancurkan atau dirusak. Itulah yang terjadi ketika kita mulai menggunakan sesama kita untuk tujuan egois kita sendiri, bahkan sebagai obyek kesenangan. Hati yang patah dan kesedihan mengikuti atas pengalaman-pengalaman negatif ini. Saya mendesak kalian : Jangan takut akan kasih sejati, kasih yang diajarkan Yesus kepada kita dan yang digambarkan oleh Santo Paulus sebagai “sabar dan murah hati”. Paulus berkata: “Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1 Kor 13:4-8). Dalam mendorong kalian untuk menemukan kembali keindahan panggilan manusia untuk mengasihi, saya juga mendesak kalian untuk memberontak terhadap kecenderungan yang meluas untuk mengurangi kasih menjadi sesuatu yang dangkal, menguranginya menjadi aspek seksualnya semata, kehilangan karakteristik keindahan, persekutuan, kesetiaan dan tanggung jawabnya yang sangat penting. Sahabat-sahabat muda yang terkasih, “dalam sebuah budaya penisbian dan kefanaan, banyak orang memberitakan pentingnya ‘menikmati’ saat ini. Mereka mengatakan bahwa tidaklah layak membuat komitmen seumur hidup, membuat sebuah keputusan definitif, ‘untuk selamanya’, karena kita tidak tahu apa yang akan dibawa esok. Saya meminta kalian, sebagai gantinya, untuk menjadi revolusioner, saya meminta kalian untuk berenang melawan arus; ya, saya sedang meminta kalian untuk memberontak terhadap budaya ini yang melihat segala sesuatu sebagai sementara dan bahwa pada akhirnya meyakini kalian tidak mampu bertanggung jawab, yang meyakini bahwa kalian tidak mampu akan kasih sejati. Saya memiliki keyakinan dalam diri kalian dan saya berdoa untuk kalian. Milikilah keberanian untuk ‘berenang melawan arus’. Dan juga milikilah keberanian untuk menjadi bahagia”(Pertemuan dengan para relawan Hari Orang Muda Sedunia XXVIII, 28 Juli 2013). Kalian orang-orang muda adalah para petualang yang berani! Jika kalian membiarkan diri kalian menemukan ajaran-ajaran Gereja yang kaya akan kasih, kalian akan menemukan bahwa kekristenan tidak terdiri dari serangkaian larangan yang menghambat keinginan kita akan kebahagiaan, melainkan sebuah proyek untuk kehidupan yang mampu menawan hati kita. 3. … karena mereka akan melihat Allah Di dalam hati setiap pria dan wanita, undangan Tuhan terus bergema: “Carilah wajah-Ku!” (Mzm 27:8). Pada saat yang sama, kita harus selalu menyadari bahwa kita adalah orang-orang berdosa yang malang. Misalnya, kita membaca dalam Kitab Mazmur: “Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus? Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya” (Mzm 24:3-4). Tetapi kita tidak pernah harus takut atau putus asa: seluruh Alkitab dan dalam sejarah kita masing-masing, kita melihat bahwa selalu Allahlah yang mengambil langkah pertama. Ia memurnikan kita sehingga kita bisa datang ke dalam hadirat-Nya. Ketika Nabi Yesaya mendengar panggilan Tuhan untuk berbicara dalam nama-Nya, ia ketakutan dan berkata: “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir” (Yes 6:5). Namun Tuhan memurnikannya, mengutus kepadanya seorang malaikat yang menyentuh bibirnya, mengatakan: “kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni” (ayat 7). Dalam Perjanjian Baru, ketika di tepi danau Genessaret Yesus memanggil murid-murid-Nya yang pertama dan melakukan tanda penangkapan ikan yang ajaib, Simon Petrus tersungkur di kaki-Nya, berseru: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa” (Luk 5:8). Yesus segera menjawab : “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia” (ayat 10). Dan ketika salah seorang murid Yesus bertanya kepadanya : “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami”, Sang Guru menjawab : “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh 14:8-9). Undangan Tuhan untuk menjumpai-Nya dibuat untuk kalian masing-masing, dalam tempat atau situasi apa pun kalian menemukan diri kalian. Cukuplah memiliki keinginan untuk “sebuah pertemuan pribadi yang diperbarui dengan Yesus Kristus, atau setidaknya sebuah keterbukaan untuk membiarkan Dia menjumpai kalian; saya meminta kalian semua untuk melakukan hal ini tanpa henti setiap hari” (bdk. Evangelii Gaudium, 3). Kita semua orang berdosa, yang perlu dimurnikan oleh Tuhan. Tetapi cukuplah mengambil sebuah langkah kecil menuju Yesus untuk menyadari bahwa Ia menanti kita selalu dengan tangan terbuka, terutama dalam Sakramen Rekonsiliasi, sebuah kesempatan istimewa untuk berjumpa kerahiman ilahi itu yang memurnikan kita dan memperbaharui hati kita. Orang-orang muda yang terkasih, Tuhan ingin bertemu kita, membiarkan diri-Nya “dilihat” oleh kita. “Dan bagaimana?”, Anda mungkin bertanya kepada saya. Santa Teresa dari Avila, yang lahir di Spanyol lima ratus tahun yang lalu, bahkan sebagai seorang gadis muda, berkata kepada orang tuanya, “Saya ingin melihat Allah”. Ia kemudian menemukan cara doa sebagai “sebuah persahabatan yang intim dengan Dia yang membuat kita merasa dikasihi” (Autobiografi, 8,5). Jadi pertanyaan saya kepada kalian adalah ini: “Apakah kalian sedang berdoa?” Apakah kalian tahu bahwa kalian dapat berbicara dengan Yesus, dengan Bapa, dengan Roh Kudus, seperti kalian berbicara kepada seorang sahabat. Dan bukan sembarang sahabat, tetapi yang terbesar dan yang paling dipercaya dari sahabat-sahabat kalian! Kalian akan menemukan apa yang dikatakan salah seorang dari umat parokinya kepada Sang Imam dari Ars : “Ketika saya berdoa di depan tabernakel, ‘Saya menatap-Nya, dan Ia menatapku’” (Katekismus Gereja Katolik, 2715). Sekali lagi saya mengajak kalian untuk menemukan Tuhan dengan sering membaca Kitab Suci. Jika kalian belum terbiasa melakukannya, mulailah dengan Injil. Membaca satu atau dua baris setiap hari. Biarkan sabda Allah berbicara kepada hati kalian dan mencerahkan jalan kalian (bdk. Mzm 119:105). Kalian akan menemukan bahwa Allah dapat “dilihat” juga dalam wajah saudara-saudara dan saudari-saudari kalian, terutama mereka yang paling terlupakan: orang-orang miskin, orang-orang lapar, mereka yang haus, orang-orang asing, orang-orang sakit, orang-orang yang dipenjara (bdk. Mat 25:31-46). Apakah kalian pernah memiliki pengalaman ini? Orang-orang muda yang terkasih, untuk masuk ke dalam logika Kerajaan Surga, kita harus menyadari bahwa kita miskin bersama orang miskin. Hati yang murni adalah semestinya hati yang telah ditelanjangi, hati yang tahu bagaimana membungkuk dan berbagi hidup dengan mereka yang paling membutuhkan. Berjumpa Allah dalam doa, pembacaan Alkitab dan dalam kehidupan persaudaraan akan membantu kalian lebih mengenal Tuhan dan diri kalian. Seperti para murid dalam perjalanan ke Emaus (bdk. Luk 24:13-35), suara Tuhan akan membuat hati kalian berkobar-kobar di dalam diri kalian. Ia akan membuka mata kalian untuk mengenali kehadiran-Nya dan menemukan rencana kasih yang Ia miliki untuk hidup kalian. Beberapa dari kalian merasakan, atau akan segera merasakan, panggilan Tuhan untuk hidup menikah, untuk membentuk sebuah keluarga. Banyak orang hari ini berpikir bahwa panggilan ini “usang”, tetapi itu tidak benar! Sesungguhnya karena alasan ini, jemaat gerejani telah terlibat dalam sebuah periode refleksi khusus tentang panggilan dan perutusan keluarga dalam Gereja dan dunia masa kini. Saya juga meminta kalian untuk mempertimbangkan apakah kalian sedang dipanggil untuk hidup bakti atau imamat. Alangkah indahnya melihat orang-orang muda yang merangkul panggilan untuk mengabdikan diri mereka sepenuhnya kepada Kristus dan pelayanan Gereja-Nya! Tantanglah diri kalian, dan dengan hati yang murni tidak takut akan apa yang Allah sedang minta dari kalian! Dari “ya” kalian terhadap panggilan Tuhan, kalian akan menjadi benih-benih harapan baru dalam Gereja dan dalam masyarakat. Jangan lupa: kehendak Allah adalah kebahagiaan kita! 4. Dalam perjalanan ke Krakow “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Mat 5:8). Para pria dan wanita muda yang terkasih, seperti yang kalian lihat, sabda bahagia ini berbicara langsung kepada kehidupan kalian dan merupakan sebuah jaminan kebahagiaan kalian. Jadi sekali lagi saya mendesak kalian : Milikilah keberanian untuk menjadi bahagia! Hari Orang Muda Sedunia tahun ini memulai tahap akhir persiapan untuk pertemuan agung orang-orang muda dari seluruh dunia di Krakow pada tahun 2016. Tiga puluh tahun yang lalu Santo Yohanes Paulus II melembagakan Hari Orang Muda Sedunia dalam Gereja. Peziarahan orang-orang muda dari setiap benua di bawah bimbingan Penerus Petrus ini telah benar-benar menjadi sebuah prakarsa penyelenggaraan ilahi dan kenabian. Bersama-sama marilah kita bersyukur kepada Tuhan atas buah-buah berharga yang telah dihasilkan Hari Orang Muda Sedunia ini dalam kehidupan orang-orang muda yang tak terhitung jumlahnya di setiap bagian dunia! Berapa banyak penemuan-penemuan yang menakjubkan telah dibuat, terutama penemuan bahwa Kristus adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup! Berapa banyak orang telah menyadari bahwa Gereja adalah sebuah keluarga besar dan menyambut! Berapa banyak pertobatan, berapa banyak panggilan telah dihasilkan pertemuan-pertemuan ini! Semoga Paus yang kudus, Pelindung Hari Orang Muda Sedunia, mengantarai atas nama peziarahan kita menuju Krakownya yang tercinta. Dan semoga tatapan keibuan Santa Perawan Maria, penuh rahmat, seluruhnya indah dan seluruhnya murni, menemani kita pada setiap langkah di sepanjang jalan. Dari Vatican, 31 Januari 2015 Peringatan Santo Yohanes Bosco FRANSISKUS ref: katekesekatolik.blogspot.com/2015/02/pesan-paus-fransiskus-untuk-hari-orang.html] www.orangmudakatolik.net

paus fransiskus dan anak by catholic newsMengkomunikasikan Nilai dan Makna Keluarga: Tempat Istimewa Perjumpaan dengan Karunia Kasih KELUARGA adalah sebuah pokok refleksi mendalam Gereja dan sebuah proses yang melibatkan dua Sinode: Sinode luar biasa baru-baru ini dan Sinode biasa yang dijadwalkan pada Oktober mendatang. Maka, hemat saya, tepatlah bila tema untuk Hari Komunikasi Sedunia yang akan datang semestinya menjadikan keluarga sebagai titik acuannya. Bagaimanapun juga, dalam konteks keluarga itulah kita pertama-tama belajar bagaimana berkomunikasi. Memusatkan perhatian pada konteks ini dapat membantu menjadikan komunikasi kita lebih autentik dan manusiawi, seraya pada saat yang sama membantu kita melihat keluarga seturut perspektif baru. Kita dapat menimba ilham dari perikop Injil yang mengisahkan kunjungan Maria kepada Elisabet (Luk 1:39-56). ”Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: ‘Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu’” (ay. 41-42). Kisah perikop itu sekali lagi memperlihatkan bagaimana komunikasi itu pada dasarnya juga melibatkan bahasa tubuh. Respon Elisabet atas salam Maria pertama-tama diekspresikan oleh bayi di dalam kandungannya yang melonjak kegirangan. Merasakan sukacita karena berjumpa sesama –suatu pengalaman personal yang kita alami, bahkan sebelum lahir pun- dalam artian tertentu merupakan wujud asali dan simbol dari semua bentuk komunikasi. Rahim adalah “sekolah” komunikasi yang pertama, tempat mendengarkan dan kontak fisik di mana kita mulai mengakrabkan diri dengan dunia luar dalam sebuah lingkungan yang terlindung, dengan suara yang menenteramkan dari detak jantung sang ibu. Pertemuan di antara dua orang, yang saling terkait begitu erat namun tetap berbeda satu sama lain, sebuah pertemuan yang sarat janji, adalah pengalaman komunikasi kita yang pertama. Ini adalah pengalaman yang kita semua miliki, karena masing-masing kita terlahir dari seorang ibu. Bahkan setelah kita terlahir ke dunia, dalam arti tertentu kita masih tetap berada dalam sebuah “rahim”, yakni keluarga. Sebuah rahim terdiri dari berbagai orang yang saling terkait: keluarga adalah tempat “di mana kita, meskipun berbeda, belajar hidup bersama orang lain” (Evangelii Gaudium, 66). Betapapun ada perbedaan jenis kelamin dan usia di antara mereka, namun para anggota keluarga menerima satu sama lain karena ada ikatan di antara mereka. Semakin lebar cakupan relasi ini dan semakin besar perbedaan usia, maka akan semakin kaya lingkungan hidup kita. Ikatan inilah yang merupakan akar bahasa, yang pada gilirannya memperkuat ikatan tersebut. Kita tidak menciptakan bahasa kita; kita dapat menggunakan bahasa karena kita telah mewarisinya. Di dalam keluarga inilah kita belajar menuturkan “bahasa ibu” kita, yaitu bahasa dari mereka yang telah mendahului kita. (Bdk. 2 Makabe 7:25, 27). Di dalam keluarga kita menyadari bahwa ada orang-orang lain yang telah mendahului kita, mereka memungkinkan kita untuk berada dan pada gilirannya kita mesti menghasilkan kehidupan dan melakukan sesuatu yang baik lagi indah. Kita mampu memberi karena kita telah menerima. Lingkaran luhur ini merupakan intipati kemampuan keluarga untuk berkomunikasi di antara para anggotanya dan dengan orang-orang lain. Secara umum, lingkaran tersebut adalah model untuk semua komunikasi. Pengalaman tentang relasi yang “mendahului” kita memungkinkan keluarga untuk menjadi latar di mana bentuk komunikasi yang paling dasar, yaitu doa, diwariskan. Ketika para orangtua menidurkan anak-anak mereka yang baru lahir, mereka sering kali mempercayakan anak-anak itu kepada Tuhan, seraya memohon agar Ia menjaga mereka. Ketika anak-anak itu bertambah usia, para orangtua membantu mereka untuk mendaraskan beberapa doa sederhana, seraya mengenang kasih sayang orang-orang lain, seperti kakek-nenek, para kerabat, orang-orang sakit dan menderita, dan semua orang yang membutuhkan pertolongan Tuhan. Di dalam keluarga itulah sebagian besar kita mempelajari dimensi rohani komunikasi, yang di dalam Kekristenan diresapi dengan kasih, yaitu kasih yang Allah anugerahkan kepada kita dan yang kemudian kita tawarkan kepada orang-orang lain. Di dalam keluarga itulah kita belajar bagaimana masing-masing bisa saling berbagi dan mendukung, belajar mampu mengartikan secara tepat ekspresi wajah orang dan membaca isi hatinya sekalipun diam tak berkata-kata; kita tertawa dan menangis bersama pribadi-pribadi yang tidak saling memilih tetapi begitu berarti satu sama lain. Realitas ini tentu saja sangat membantu kita untuk memahami makna komunikasi sebagai kedekatan pertalian batin yang saling meneguhkan dan mempertautkan. Manakala kita mengurangi jarak dengan bertumbuh lebih dekat dan saling menerima, maka kita mengalami rasa syukur dan sukacita. Salam Maria dan lonjakan sukacita anaknya merupakan sebuah berkat bagi Elisabet; disusul madah indah Magnificat, di mana Maria memuji rencana kasih Allah bagi dirinya dan bagi kaumnya. Sebuah “ya” yang diujarkan dengan iman dapat memiliki dampak yang melampaui diri kita dan tempat kita di dunia ini. ”Mengunjungi” berarti membuka pintu, tidak tinggal tertutup di dunia kecil kita, melainkan pergi mendatangi orang-orang lain. Demikian pula keluarga menjadi hidup lantaran ia melampaui dirinya. Keluarga-keluarga yang melakukan hal demikian mengkomunikasikan pesan mereka tentang hidup dan persekutuan, seraya memberikan penghiburan dan pengharapan kepada keluarga-keluarga yang lebih rapuh, dan dengan demikian membangun Gereja itu sendiri, yang merupakan keluarga semua keluarga. Lebih daripada apa pun juga, keluarga adalah tempat di mana kita setiap hari mengalami aneka keterbatasan kita sendiri dan keterbatasan orang-orang lain, pelbagai masalah besar dan kecil yang termaktub dalam kehidupan yang damai dengan orang-orang lain. Sebuah keluarga yang sempurna tidak ada. Kita tidak perlu takut akan cacat cela, kelemahan atau bahkan konflik, tetapi sebaliknya belajar untuk mengatasi semuanya secara konstruktif. Keluarga, di mana kita tetap mengasihi satu sama lain meskipun ada serba keterbatasan dan dosa-dosa kita, karenanya merupakan sebuah sekolah pengampunan. Pengampunan itu sendiri merupakan sebuah proses komunikasi. Ketika penyesalan diungkapkan dan diterima, maka ada kemungkinan untuk memulihkan dan membangun kembali komunikasi yang putus. Seorang anak yang belajar dalam keluarga bagaimana mendengarkan orang lain, bagaimana berbicara dengan hormat dan mengungkapkan pandangannya tanpa menafikan orang lain, akan menjadi sebuah kekuatan bagi dialog dan rekonsiliasi di tengah masyarakat. Ketika bersinggungan dengan tantangan dalam berkomunikasi, maka keluarga-keluarga yang punya anak-anak dengan keterbatasan fisik maupun mental mengajarkan banyak hal kepada kita. Keterbatasan gerak (motorik), perasaan (sensorik) atau mental dapat menjadi alasan untuk kemudian menutup diri, namun sebaliknya –berkat kasih orangtua, saudara kandung dan teman—juga bisa menjadi pendorong untuk terbuka, kemauan berbagi dan kesiapan menjalin komunikasi dengan siapa saja. Hal ini juga bisa membantu sekolah, paroki, dan kelompok-kelompok orang untuk semakin terbuka dan inklusif bagi siapa pun. Di dunia nyata dimana orang sering kali dengan gampangnya mengumpat, menggunakan kata-kata kasar, membicarakan kejelekan orang lain, menabur pertentangan dan meracuni pergaulan sosial dengan gosip, maka keluarga menjadi acuan tentang bagaimana seharusnya memahami komunikasi sebagai rahmat. Dalam banyak situasi yang secara nyata dikekang oleh nafas kebencian dan aroma kekerasan, dimana banyak keluarga terpisah satu sama lain oleh kokohnya tembok batu atau jurang pemisah lantaran prasangka buruk dan rasa tidak suka, dimana terjadi situasi yang memungkinkan mengatakan ‘cukuplah sudah sekarang ini!’, rasanya hanya dengan berkah daripada kutukan, dengan jalan berkunjung daripada mengusir, dengan menerima daripada mengajak ribut, maka kita akan mampu mematahkan rantai spiral kejahatan; juga mampu memperlihatkan bahwa kebaikan itu selalu saja mungkin dan mendidik anak-anak kita untuk menghargai pertemanan. Dewasa ini media modern, yang merupakan bagian hakiki dari kehidupan kaum muda khususnya, dapat menjadi bantuan namun juga halangan bagi komunikasi di dalam dan di antara keluarga. Media bisa merupakan halangan jika dijadikan cara untuk mencegah kita mendengarkan orang lain, untuk mengelakkan kontak fisik, untuk mengisi setiap saat hening dan istirahat, sehingga kita lupa bahwa “keheningan adalah bagian terpadu dari komunikasi; tanpa keheningan, kata-kata yang kaya pesan tak akan ada”, (BENEDIKTUS XVI, Pesan Untuk Hari Komunikasi Sedunia Tahun 2012 ). Media dapat menjadi bantuan bagi komunikasi ketika media memungkinkan orang untuk berbagi kisah, untuk tetap menjalin kontak dengan teman-teman yang jauh, untuk mengucapkan terima kasih kepada orang lain atau meminta pengampunan mereka, dan untuk membuka pintu bagi perjumpaan-perjumpaan baru. Dengan berkembang setiap hari dalam kesadaran kita akan betapa pentingnya berjumpa dengan orang-orang lain, “peluang-peluang baru” ini, maka kita akan memakai teknologi secara bijaksana, alih-alih membiarkan diri kita dikuasai media. Di sini juga, para orangtua adalah pendidik utama, tetapi mereka tidak boleh dibiarkan sendirian. Komunitas Kristen dipanggil untuk membantu mereka mengajarkan anak-anak bagaimana hidup dalam sebuah lingkungan media secara sepadan dengan martabat mereka sebagai pribadi manusia dan demi melayani kesejahteraan umum. Tantangan besar yang kita hadapi saat ini ialah untuk mempelajari kembali bagaimana berbicara satu sama lain, tidak sekadar bagaimana untuk menghasilkan dan memakai informasi. Yang terakhir tadi adalah kecenderungan yang dapat didorong oleh media komunikasi modern kita yang terbilang penting dan berpengaruh. Informasi memang penting, tetapi tidak cukup. Sekian sering hal-hal disederhanakan, aneka posisi dan sudut pandang berbeda diadu satu sama lain, dan orang-orang diajak memihak, alih-alih melihat hal-hal itu secara utuh. Kesimpulannya, keluarga bukanlah pokok bahasan atau sumber darimana pertentangan ideologis muncul. Melainkan, keluarga harus dipandang sebagai ruang sosial dimana kita semua belajar berkomunikasi yang ditandai oleh pengalaman akan keakraban satu sama lain. Keluarga adalah ruang sosial dimana komunikasi itu terjadi, sebuah komunitas manusia yang saling berkomunikasi. Keluarga adalah suatu komunitas yang senantiasa menyediakan pertolongan, yang menyegarkan kehidupan dan membuahkan hasil. Begitu kita menyadari hal ini, maka kita sekali lagi akan dimampukan melihat bahwa keluarga senantiasa menjadi sumber daya manusia yang begitu kaya manakala bila bertabrakan dengan masalah. Banyak kali, media suka menampilkan keluarga lazimnya sebuah model abstrak yang bisa ditolak, dibela atau diserang dan bukannya pertama-tama melihatnya sebagai realitas sosial yang hidup. Sering juga keluarga diperlakukan sebagai sumber darimana pertentangan ideologis itu muncul daripada melihatnya sebagai ruang sosial dimana kita semua ini belajar apa artinya berkomunikasi dalam bingkai kasih yang diwarnai semangat saling memberi-menerima. Berpijak pada pengalaman nyata inilah kita menjadi sadar bahwa ternyata hidup kita ini terjalin bersama sebagai suatu realitas tunggal, bahwa kita masing-masing itu banyak perbedaannya namun sekali lagi setiap orang pada dasarnya tetaplah pribadi yang unik. Keluarga-keluarga harus dilihat sebagai sumber daya alih-alih sebagai masalah bagi masyarakat. Keluarga-keluarga berkomunikasi secara aktif melalui kesaksian mereka tentang keindahan dan kekayaan relasi antara lelaki dan perempuan, dan antara para orangtua dan anak-anak. Kita tidak sedang berjuang untuk membela masa lalu. Sebaliknya, dengan kesabaran dan kepercayaan, kita bekerja untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi dunia di mana kita hidup. Diberikan di Vatikan, 23 Januari 2015, Vigilii Pesta Santo Fransiskus dari Sales PAUS FRANSISKUS © Hak Cipta – Libreria Editrice Vaticana Kredit foto: Ilustrasi (Catholic News)