Ilustrasi (Jesus la Porte)Sabtu, 12 November 2016Pekan Biasa XXXIIPW S. Yosafat, Uskup dan Martir3Yoh 1:5-8; Mzm 112:1-6; Luk 18:1-8Yesus menceriterakan […]

Selasa, 9 Februari 2016Pekan Biasa V1Raj 8:22-23.27-30; Mzm 84:3.4.5.10.11; Mrk 7:1-13Jawab Yesus kepada mereka, “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai […]

menjadi dewasaSEBAGAI manusia kita akan selalu bertumbuh, fisik kita akan terus bertumbuh dan kemudian selanjutnya akan menua. Namun, bagaimana dengan kepribadian kita? Tuhan menciptakan manusia dengan keunikannya masing-masing, Dia menciptakan kita sebagai pribadi-pribadi yang berbeda satu sama lain. Menjadi pribadi yang bertumbuh merupakan salah satu proses yang harus kita alami dalam hidup kita agar kita bisa menjadi manusia yang lebih bermanfaat dan berguna untuk diri kita sendiri dan orang-orang di sekeliling kita. Proses bertumbuh diawali dengan kita mengetahui dan sadar apa yang baik dalam diri kita. Setelah kita mengetahuinya, kita mengembangkan hal-hal baik dalam diri kita tersebut agar menjadi lebih baik dari sebelumnya. Selain mengetahui kebaikan dalam diri masing-masing, kita juga harus tahu hal-hal apa saja dalam diri kita yang musti dibenahi. Kelemahan diri mungkin tidak bisa kita hilangkan begitu saja, namun kita dapat menggunakan kelebihan diri kita untuk membentengi kelemahan tersebut. Selanjutnya, dalam proses bertumbuh kita juga harus menetapkan target atau tujuan yang hendak dicapai dalam hidup dan membuat jalan untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam menjalani proses ini kita pasti akan menemukan trial & error. Trial memiliki arti mencoba dan error artinya salah. Sebaiknya kita mengganti kata “mencoba” dengan “lakukan” untuk menstimulasi pikiran kita agar dapat melakukan sesuatu hal, meskipun hanya mencoba, dengan semaksimal mungkin. Setelah berbenah dengan faktor internal, maka dalam proses bertumbuh juga harus mengandalkan Tuhan. Karena kita adalah makhluk yang lemah, maka kita bergantung pada Tuhan. Hanya Tuhan lah yang dapat membuat semuanya menjadi mungkin. Saat belajar mengenai “Pribadi yang Bertumbuh” ada suatu film menarik yang dapat memberikan inspirasi bagi kita untuk mau terus berkarya meskipun kita hidup di dalam suatu keterbatasan. Film berjudul Soul Surfer mengisahkan tentang seorang remaja perempuan yang memiliki impian untuk menjadi peselancar professional. Di tengah puncak hidupnya, ia menghadapi sebuah masalah yang tidak pernah ia bayangkan, tangan kirinya putus karena digigit oleh ikan hiu di laut. Ia menjadi putus asa dan tidak bisa mengerti apa hikmah dari kejadian yang dialaminya itu. Film ini memberikan suatu pesan yang sangat menarik bagi saya, yaitu bahwa rencana Tuhan terkadang tidak dapat kita pahami dalam waktu yang singkat, butuh waktu lama untuk dapat memahaminya dan menyadari apa yang Tuhan inginkan dalam hidup kita. Sama seperti bertumbuh, saat kita melewati proses ini, kita tidak bisa serta merta menjadi pribadi yang baik, yang Tuhan kehendaki, dalam waktu yang singkat. Dalam bertumbuh kita juga belajar memahami kehendak Tuhan agar selanjutnya kita dapat hidup dengan baik dan menghasilkan buah bagi sesama. Suatu karya muncul karena keterbatasan, contohnya saja, pada masa lampau sangatlah susah sekali untuk berkomunikasi dengan seseorang yang berada jauh dari kita. Komunikasi hanya terbatas dengan menggunakan surat, namun dari keterbatasan itu, sekarang muncul lah suatu karya yang dapat membuat orang-orang berkomunikasi dengan lancar meskipun dipisahkan dengan jarak yang sangat jauh. Itulah makna keterbatasan bagi saya, yaitu sesuatu yang bisa membuat kita berkarya bukan hanya untuk kesejahteraan diri sendiri, tapi juga untuk orang lain. Dari ulasan di atas, dapat ditarik 3 hal penting dari proses bertumbuh. Pertama, yaitu tantangan, dalam bertumbuh kita pasti akan melewati berbagai tantangan. Kedua, adalah melampaui kelemahan, kita harus dapat melewati batas kita agar dapat bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Terakhir, menyalurkan berkat Tuhan kepada orang lain melalui tangan-tangan kita. Tantangan dari proses bertumbuh adalah melampaui kelemahan kita, dari melampaui kelemahan itu kita dapat menghasilkan buah dan menyalurkan berkat Tuhan yang telah kita terima kepada orang lain. Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

19 Juli - RmA 2Minggu, 19 Juli 2015 Minggu Biasa XVI Yer 23:1-6; Mzm 23:1-3a,3b-4,5,6; Ef 2:13-18; Mrk 6:30-34 … tergeraklah Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba tanpa gembala… MINGGU lalu kita membaca bagaimana Yesus mengutus para murid-Nya berdua-dua. Mereka diutus dan bekerja keras untuk mewartakan sukacita Injil, menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan. Hari ini kita membaca bagaimana para murid kembali kepada Yesus dan menyampaikan kepada-Nya semua yang telah mereka ajarkan dan kerjakan. Yesus lalu mengundang mereka dan berkata, “Marilah kita pergi ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah sejenak!” Maka mereka pun pergi mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Namun, begitu banyak orang melihat mereka pergi dan mereka tahu mereka serta ke mana mereka (Yesus dan para murid-Nya) akan pergi.  Maka mereka mendahului Yesus dan murid-murid-Nya dengan berjalan kaki. Maka saat mendarat, Yesus melihat orang yang begitu banyak itu dan tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka hingga Ia dan para murid pun tak jadi beristirahat. Namun sesungguhnya, para murid beristirahat dalam damai Yesus sebab kali itu Yesus sendirilah yang mengajar orang banyak itu tentang banyak hal. Apa makna Injil hari ini bagi kita? Yesus dan para murid-Nya tidak dapat beristirahat sama sekali. Mereka ingin beristirahat sejenak namun tidak bisa. Mereka bekerja dan bekerja namun mereka tidak mabuk kerja. Mereka melayani orang lain dengan hati yang penuh belas kasihan, terlebih Yesus sendiri melakukannya. Ketika Yesus melihat orang banyak yang memerlukan perhatian dan perlindungan itu, hati-Nya tergerak oleh belas kasihan. Di sini kita juga berjumpa dengan Yesus Kristus sebagai Gembala Sejati. Ia mengorbankan hidup-Nya untuk membela kawanan domba-Nya. Ia sendiri membimbing kita sebagai Gembala Baik dan membawa kita ke tempat yang aman. Bahkan Ia telah menyerahkan nyawa-Nya bagi kita domba-domba-Nya. Yesus Kristus mengasihi kita semua masing-masing. Kasih-Nya adalah kasih personal bagi kita yang mau datang mencari Dia. Dalam Adorasi Ekaristi Abadi kita datang kepada Yesus Kristus dan menyembah Dia. Di sana kita dapat beristirahat sejenak dalam penggembalaan-Nya yang penuh kasih dalam doa. Ia adalah Gembala Baik bagi jiwa kita. Di sana kita menemukan tempat yang aman dan damai dalam penyerahan diri kepada Yesus, Gembala Baik kita. Tuhan Yesus Kristus, dalam Dikau, kami menemukan kemurahan dan kesabaran kasih Allah yang tak pernah berhenti. Dalam perjuangan melawan dosa dan kejahatan, Dikau selalu siap sedia memberi kami pertolongan, kekuatan dan perlindungan. Kami mengandalkan rahmat-Mu dan pertolongan-Mu dalam seluruh kehidupan kami selamanya. Amin. Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

5 Juli - RmA 2Minggu, 05 Juli 2015 Minggu Biasa XIV Yeh 2:2-5; Mzm 123:1-4; 2Kor 12:7-10; Mrk 6:1-6 … Lalu mereka kecewa dan menolak Dia (= Yesus)… Yesus merasa heran atas ketidakpercayaan mereka… YESUS kembali ke tempat asal-Nya, tak hanya sebagai anak tukang kayu tetapi sebagai Guru (= Rabbi) bersama para murid-Nya. Sebagai Rabbi, ia pergi ke sinagoga untuk pelayanan hari Sabat dan membacakan Kitab Suci. Ia juga mengajar dan berkotbah orang-orang sekampung-Nya dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia. Penginjil menggambarkan, mereka semua mendengarkan Yesus dengan takjub. Mereka sudah mendengar banyak mujizat yang dibuat-Nya di kota lain. Namun, sayangnya, mereka tidak mau menerima Dia. Mengapa? Sebab mereka tidak mengenal Yesus secara mendalam. Mereka hanya tahu tentang Yesus seperti yang mereka pikirkan dan katakan, “Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya?Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.” (Mrk 6:2-3) Karena perspektif sempit dan karakter pikiran mereka yang tertutup dan ketidakpercayaan kepada-Nya, mereka kecewa dan menolak Yesus. Mereka tak hanya tidak mau mendengarkan Dia, tetapi juga tidak mau percaya kepada-Nya. Itulah sebabnya Yesus berkata kepada mereka, “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri.” Yesus bahkan tidak bisa melakukan banyak mukjizat di kota-Nya sendiri selain hanya menyembuhkan beberapa orang sakit dengan menumpangkan tangan-Nya atas mereka. Bagaimana dengan kita semua? Apakah kita juga menolak Dia karena latar belakang keluarga-Nya yang biasa? Apakah kita juga menolak untuk mendengarkan Dia hari ini? Apakah kita mengandalkan Dia? Apakah kita juga mudah menolak sesama karena prasangka kita? Yesus datang untuk kita semua. Ia mengajar dan berkotbah tentang kabar baik bagi kita. Ia menawarkan persaudaraan sejati kepada kita. Ia datang dalam kuasa Roh Kudus untuk  membebaskan dan menyembuhkan kita tak hanya secara fisik, mental dan spiritual, melainkan juga dari belenggu perbudakan dosa dan ketakutan akan kehilangan hidup kita. Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kita datang kepada Yesus Kristus tak hanya untuk mendengarkan Dia tetapi juga untuk mengalami daya penebusan-Nya. Hanya daya kuasa-Nyalah yang dapat menyelamatkan kita dari keputusasaan, kekeringan rohani (desolasi) dan kehampaan hidup. Tuhan Yesus Kristus, Dikaulah Injil keselamatan bagi kami. DIkau adalah kabar baik bagi setiap orang yang mau menerima-Mu. Biarkan kami mengenal sukacita dan kemerdekaan yang Kau tawarkan dalam kehadiran-Mu sebagai Engkau adalah kepenuhan seluruhan damba dan asa kami. Kobarkan hati kami dengan api kasih dan kebenaran-Mu hingga kami mampu dengan penuh kasih melayani Dikau dan sesama kini dan selamanya. Amin. Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

1 Juli - RmNHari biasa warna liturgi Hijau Bacaan Kej. 21:5,8-20; Mzm. 34:7-8,10-11,12-13; Mat. 8:28-34. BcO 1Sam. 11:1-15 Bacaan Injil: Mat. 8:28-34. 28 Setibanya di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang kerasukan setan menemui Yesus. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak seorangpun yang berani melalui jalan itu. 29 Dan mereka itupun berteriak, katanya: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?” 30 Tidak jauh dari mereka itu sejumlah besar babi sedang mencari makan. 31 Maka setan-setan itu meminta kepada-Nya, katanya: “Jika Engkau mengusir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu.” 32 Yesus berkata kepada mereka: “Pergilah!” Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu. Maka terjunlah seluruh kawanan babi itu dari tepi jurang ke dalam danau dan mati di dalam air. 33 Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan setibanya di kota, diceriterakannyalah segala sesuatu, juga tentang orang-orang yang kerasukan setan itu. 34 Maka keluarlah seluruh kota mendapatkan Yesus dan setelah mereka berjumpa dengan Dia, merekapun mendesak, supaya Ia meninggalkan daerah mereka. Renungan: DUA orang yang kerasukan setan berkata pada Yesus, “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?” (Mat 8:29). Mereka bersaksi siapa Yesus, Anak Allah, dan mengenal waktu kehadiranNya untuk menyingkirkan mereka. Walau demikian mereka pun tidak berani berhadapan dengan Yesus. Daya dan kekuatan Yesus begitu dahsyat. Kekuatan roh yang luar biasa pun tidak mampu menandinginya. Yesus yang penuh kuasa melepaskan roh-roh yang merasuki kedua orang itu. Percaya pada Tuhan Yesus adalah percaya pada pribadi yang menguasai segalanya. PadaNya kita bersandar dan mengharap pembebasan dari yang jahat. Hanya padaNyalah daya itu tak tertandingi. Kontemplasi: Pejamkan sejenak matamu. Hadirlah dalam kisah di Injil Mat. 8:28-34. Letakkan kepercayaanmu pada Tuhan Yesus. Refleksi: Bagaimana anda mengandalkan Tuhan Yesus dalam hidupmu? Doa: Tuhan Yesus padamu aku mengandalkan diri. Engkaulah yang akan membebaskanku dari segala yang jahat. Amin. Perutusan: Aku akan mengandalkan Yesus dalam menghadapi kuasa jahat. -nasp- Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

30 Juni - RmNPara Martir Pertama di Roma warna liturgi Hijau Bacaan Kej. 19:15-29; Mzm. 26:2-3,9-10,11-12; Mat. 8:23-27. BcO 1Sam. 9:1-6,14-10:1 Bacaan Injil: Mat. 8:23-27. 23 Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nyapun mengikuti-Nya. 24 Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur. 25 Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” 26 Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. 27 Dan heranlah orang-orang itu, katanya: “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?” Renungan: BANYAK orang bercerita bahwa dirinya kesulitan tidur. Bahkan ada yang sampai beberapa hari tidak bisa tidur. Namun ada pula orang yang gampang sekali tidur. Di mana pun, dalam kondisi apa pun ia bisa tidur. Tidur memang gampang-gampang sukar. Ketika kita tidak bisa tidur dan memikirkan kenapa tidak bisa tidur kita malah semakin tidak bisa tidur. Namun kala kita melepaskan segala pikiran itu maka kita bisa tidur dengan baik. Tampaknya tidur berkaitan erat dengan ketenangan pikiran dan raga. Yesus pun bisa tidur kala kapalnya dihantam oleh badai. “Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” (Mat 8:25). Kontemplasi: Berbaringlah di ranjangmu. Pejamkan matamu. Rasakan udara. Dengarkan suara-suara di sekitarmu. Tenangkan hatimu dan biarkan tidur merengkuhmu. Refleksi: Tulislah pengalamanmu tentang tidur. Doa: Bapa, terima kasih atas anugerah istirahat tidur yang selama ini boleh kurasakan. Semoga kala tidur aku tetap tenang karena mengandalkan yang menjagaiku. Amin. Perutusan: Aku akan tenang dan percaya pada karya Allah. -nasp- Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

KEHADIRAN Yesus membawa angin segar bagi masyarakat Yahudi. Ia tidak hanya berteori, mengajarkan tentang cinta kasih, tapi Ia juga mempraktikkan apa yang diajarkanNya.

Dengan SabdaNya, Ia berkuasa mengusir roh jahat dan membawa keselamatan kepad…

Ignatius antiokiaPERINGATAN  Wajib St. Ignatius dr Antiokhia Warna liturgi Merah. Bacaan: Ef. 1:11-14; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7.8-9; Luk. 12:1-7; BcO Sir. 17:15-32 Renungan:  “Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia!” (Luk 12:5). Neraka. Banyak lukisan yang menggambarkan tentang neraka. Banyak ajaran yang kita dengar tentang neraka. […]

fokus by JonbatemanAPA yang akan Anda lakukan, ketika Anda mesti melakukan suatu pekerjaan? Anda fokus pada pekerjaan itu? Atau Anda mudah meninggalkannya? Penyanyi, pemain film, dan komedian Kemal Palevi (25) belakangan ini memilih untuk fokus pada seni peran dan film layar lebar saja. Ia ingin lebih serius dalam menekuni akting dan menjiwai setiap perannya. Kemal telah menyelesaikan […]

Jepara Benteng Portugis objek wisata okBAGI pencinta sejarah maritim, ada baiknya melongok situs bangunan kuno yakni Benteng Portugis di pinggir Pantai Donorojo, Jepara. Memang tidak ada bangunan yang kokoh, tembok raksasa, menara pengawas, meriam besar apalagi galangan kapal. Tidak ada kisah petualangan heroik di laut seperti wiracarita La Galigo di Bugis atau Hikayat Hang Tuah di Melayu. Bukankah dalam kesusastraan […]

  • 1
  • 2