Senin, 23 Oktober 2017Bacaan : Lukas 12:13-21 “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah […]

DALAM khotbah di bukit, Yesus menegaskan bahwa saat seseorang mempunyai hasrat yang mendalam untuk memiliki wanita atau pria lain yang […]

Selasa, 16 Februari 2016
Pekan Prapaskah I
Yes 55:10-11; Mzm 34:4-7.16-19; Mat 6:7-15

DALAM khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Dalam doamu janganlah kamu bertele-tele… Karena itu berdoalah begini: “Bapa kami yang di sorga …”

Dalam Injil hari ini Yesus mengajarkan kepada kita cara berdoa. Pertama, dalam berdoa, hendaklah tidak bertele-tele. Dengan sabda ini Yesus mengajak kita memahami bahwa berdoa itu lebih mendengarkan dari pada berkata-kata.

Kedua, Ia menyampaikan kepada kita bahwa Allah adalah Bapa kita yang mengetahui kebutuhan kita sebelum kita meminta kepada-Nya. Maka, kita harus mohon kepada Allah hal-hal yang sungguh paling kita perlukan demi keselamatan kita.

Ketiga, Ia memberi kita model doa yang terbaik. Kita menyebutnya “Doa Bapa Kami”. Dalam berdoa “Doa Bapa Kami” secara mendasar kita memusatkan perhatian pada tiga hal. Pertama, Allah harus mendapat tempat yang utama dalam kehidupan kita dengan memuliakan nama-Nya. Kedua, Bapa akan memberikan kepada kita keperluan kita baik materi maupun rohani. Ketiga, Bapa akan mengampuni kita hingga kita juga harus mengampuni sesama dan Bapa akan membebaskan kita dari segala yang jahat.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi kita menyembah Yesus Kristus dalam keheningan. Kita dapat mendaraskan doa terbaik yang diajarkan Yesus dengan penuh kasih dan iman kepercayaan.

Tuhan Yesus Kristus, terima kasih telah mengajar kami berdoa kepada Bapa. Bantulah kami untuk berdoa lebih dan lebih baik lagi. Bantulah kami dengan segenap hati berupaya mengutamakan Allah dalam hidup kami. Ampunilah dosa kami seperti kami pun mengampuni kesalahan sesama dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari segala yang jahat kini dan selamanya. Amin.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Selasa, 16 Februari 2016
Pekan Prapaskah I
Yes 55:10-11; Mzm 34:4-7.16-19; Mat 6:7-15

DALAM khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Dalam doamu janganlah kamu bertele-tele… Karena itu berdoalah begini: “Bapa kami yang di sorga …”

Dalam Injil hari ini Yesus mengajarkan kepada kita cara berdoa. Pertama, dalam berdoa, hendaklah tidak bertele-tele. Dengan sabda ini Yesus mengajak kita memahami bahwa berdoa itu lebih mendengarkan dari pada berkata-kata.

Kedua, Ia menyampaikan kepada kita bahwa Allah adalah Bapa kita yang mengetahui kebutuhan kita sebelum kita meminta kepada-Nya. Maka, kita harus mohon kepada Allah hal-hal yang sungguh paling kita perlukan demi keselamatan kita.

Ketiga, Ia memberi kita model doa yang terbaik. Kita menyebutnya “Doa Bapa Kami”. Dalam berdoa “Doa Bapa Kami” secara mendasar kita memusatkan perhatian pada tiga hal. Pertama, Allah harus mendapat tempat yang utama dalam kehidupan kita dengan memuliakan nama-Nya. Kedua, Bapa akan memberikan kepada kita keperluan kita baik materi maupun rohani. Ketiga, Bapa akan mengampuni kita hingga kita juga harus mengampuni sesama dan Bapa akan membebaskan kita dari segala yang jahat.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi kita menyembah Yesus Kristus dalam keheningan. Kita dapat mendaraskan doa terbaik yang diajarkan Yesus dengan penuh kasih dan iman kepercayaan.

Tuhan Yesus Kristus, terima kasih telah mengajar kami berdoa kepada Bapa. Bantulah kami untuk berdoa lebih dan lebih baik lagi. Bantulah kami dengan segenap hati berupaya mengutamakan Allah dalam hidup kami. Ampunilah dosa kami seperti kami pun mengampuni kesalahan sesama dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari segala yang jahat kini dan selamanya. Amin.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Selasa, 16 Februari 2016
Pekan Prapaskah I
Yes 55:10-11; Mzm 34:4-7.16-19; Mat 6:7-15

DALAM khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Dalam doamu janganlah kamu bertele-tele… Karena itu berdoalah begini: “Bapa kami yang di sorga …”

Dalam Injil hari ini Yesus mengajarkan kepada kita cara berdoa. Pertama, dalam berdoa, hendaklah tidak bertele-tele. Dengan sabda ini Yesus mengajak kita memahami bahwa berdoa itu lebih mendengarkan dari pada berkata-kata.

Kedua, Ia menyampaikan kepada kita bahwa Allah adalah Bapa kita yang mengetahui kebutuhan kita sebelum kita meminta kepada-Nya. Maka, kita harus mohon kepada Allah hal-hal yang sungguh paling kita perlukan demi keselamatan kita.

Ketiga, Ia memberi kita model doa yang terbaik. Kita menyebutnya “Doa Bapa Kami”. Dalam berdoa “Doa Bapa Kami” secara mendasar kita memusatkan perhatian pada tiga hal. Pertama, Allah harus mendapat tempat yang utama dalam kehidupan kita dengan memuliakan nama-Nya. Kedua, Bapa akan memberikan kepada kita keperluan kita baik materi maupun rohani. Ketiga, Bapa akan mengampuni kita hingga kita juga harus mengampuni sesama dan Bapa akan membebaskan kita dari segala yang jahat.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi kita menyembah Yesus Kristus dalam keheningan. Kita dapat mendaraskan doa terbaik yang diajarkan Yesus dengan penuh kasih dan iman kepercayaan.

Tuhan Yesus Kristus, terima kasih telah mengajar kami berdoa kepada Bapa. Bantulah kami untuk berdoa lebih dan lebih baik lagi. Bantulah kami dengan segenap hati berupaya mengutamakan Allah dalam hidup kami. Ampunilah dosa kami seperti kami pun mengampuni kesalahan sesama dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari segala yang jahat kini dan selamanya. Amin.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

terdamparPanggilan SUATU hari seorang pastor paroki mengunjungi rumah umatnya. Keluarga tersebut memiliki seorang remaja laki-laki. Kedua orangtuanya khawatir akan pilihan karir anak tersebut nantinya. Pastor paroki mereka mengatakan bahwa ia memiliki sebuah tes sederhana yang bisa memprediksi masa depan remaja tersebut. Pastor meminta mereka agar menempatkan tiga benda di atas meja dan membiarkan anak itu memilih mana yang ingin dimilikinya: alkitab, dompet, atau sebotol wiski. Jika anak itu memilih alkitab, ia mungkin akan menjadi seorang imam; jika ia memilih dompet, ia akan menjadi bankir; dan jika ia memilih wiski, ia mungkin menjadi pemalas yang luntang lantung saja. Maka kedua orangtua itu memanggil anaknya agar masuk ke ruangan, dan pastor mengatakan bahwa ia bisa memiliki objek mana saja yang dia kehendaki. Ketika anak itu segera meraih ketiga barang tersebut, pastor paroki itu spontan berteriak, “Wah, dia akan menjadi Jesuit!” (Baca juga: Humor Jesuit 7: Tukang Cukur) ——————– Pulau Terpencil SEORANG imam Jesuit, Dominikan, dan Trappis terdampar di sebuah pulau terpencil. Mereka menemukan sebuah lampu ajaib, dan setelah diskusi mereka putuskan untuk menggosok lampur tersebut. Seketika seorang jin muncul di hadapan mereka dan menawarkan tiga permintaan yang akan dipenuhinya. Mereka memutuskan untuk adilnya masing-masing dari mereka memilih satu permintaan. Pastor Jesuit itu mengatakan bahwa ia ingin mengajar di universitas yang paling terkenal di dunia, dan seketika, ia menghilang! Pastor Dominikan meminta agar dia bisa berkhotbah di gereja terbesar di dunia, dan ia pun menghilang! Kemudian pastor Trappist itu berkata, “Ah, saya sudah mendapatkan keinginan saya!” Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Koptari 10 okPAUS Fransiskus ingin menggarisbawahi peranan lembaga hidup bakti dengan mencanangkan Tahun Hidup Bakti: Oktober 2014 – November 2015. Dokumen Lumen Gentium no 43 – 47 tentang Hidup Religius dan Dekrit Perfectae Caritatis tentang Hidup Bakti dianggap telah memungkinkan pembaruan Hidup Bakti dengan buah-buah yang baik. Tantangan ke depan adalah: kualitas kehadiran Hidup Religius sebagai Mistikus […]

kitab suci membaca dalam keluarga by motherhoodPERTEMUAN  II: Ibadah Keluarga sebagai Sekolah Iman Tujuan Peserta menyadari tanggung jawab mewujudkan Gereja Rumah Tangga dan mendidik anak-anak dalam iman Katolik. Peserta menyadari bahwa ibadah keluarga merupakan kesempatan untuk bersama-sama mendengarkan Sabda Tuhan dan mewujudkan kehendak-Nya dalam kehidupan seharihari. Peserta memiliki motivasi yang benar dalam beribadah kepada Tuhan. Gagasan Pokok Pada saat perkawinan suami-istri […]

Injil Matius Dalam tahun liturgi A ini perhatian akan dipusatkan pada Injil Matius. Injil ini didasarkan pada Injil Markus dan beberapa bahan baru. Kedua bahan itu disusun kembali oleh Matius dalam bentuk lima kumpulan ajaran Yesus yang diselingi kisah mengenai sang guru dan murid-muridnya. Secara ringkas, Injil Matius dapat diikhtisarkan menurut bab-babnya sebagai berikut: 1-4: […]

  • 1
  • 2