Sea Hearts

Ayat bacaan: Pengkotbah 3:11
=========================
“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.”

indah pada waktunya

Tahukah anda tentang “sea hearts”? Saya tidak tahu apa bahasa Indonesianya, karena saya juga baru mendengar jenis tumbuhan yang termasuk kacang-kacangan yang biasanya tumbuh di hutan-hutan tropis ini. Dari bentuknya saja sudah menarik, karena menyerupai bentuk hati. Tapi ada yang jauh lebih menarik daripada bentuknya, yaitu kisah perjalanan tanaman ini seperti yang baru saja saya baca di sebuah majalah. Sea heart tumbuh seperti tanaman merambat jauh di tempat tinggi. Tingginya curah hujan di hutan-hutan tropis sering membuat benih-benihnya jatuh dan terbawa arus sungai, lautan atau samudera. Dan inilah hebatnya: Benih sea heart ini bisa terus mengambang dibawa arus selama berbulan-bulan, bahkan tidak jarang bertahun-tahun, mengikuti ombak naik dan turun, lautan yang tenang dan berombak bahkan badai sekalipun hingga akhirnya mendarat di pantai, di sebuah tempat baru yang sangat jauh dari tempatnya semula. Di tempat baru ini benih sea heart akhirnya akan tumbuh menjadi sebuah tanaman baru yang subur.

Ketika membaca fakta menakjubkan dari sebuah tanaman yang jarang kita dengar namanya ini saya pun terkesima. Betapa tidak, apa yang digambarkan oleh jenis kacang ini membawa saya berpikir kepada perjalanan hidup kita. Tidakkah kita sering harus menempuh perjalanan yang panjang, terkadang penuh riak dan gelombang dalam kehidupan kita, untuk sampai kepada sesuatu yang indah pada akhirnya?  Seringkali kesabaran kita diuji. Seringkali kita harus terus bersabar menantikan Tuhan, menantikan pertolonganNya, menantikan yang terbaik buat kita sesuai waktu Tuhan dan bukan waktu kita. Dan waktu Tuhan ini bisa jadi terasa sangat lama dalam ukuran waktu kita. Ada banyak orang yang tidak sabar akhirnya terjatuh kepada berbagai hal yang salah. Bersungut-sungut, patah semangat, hilang harapan, putus asa dan menyerah, atau bahkan mulai ragu dan mempertanyakan keberadaan Tuhan hingga menghujat Tuhan.

Maka ayat hari ini akan menegaskan kembali bagaimana ukuran waktu Tuhan dibanding waktu kita, bagaimana kemampuan kita yang terbatas ini seringkali sulit dipakai untuk memahami rencana Tuhan, Allah yang tidak terbatas. Ayatnya berbunyi demikian: “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” (Pengkotbah 3:11). Meski kita sudah menjalani hidup benar sekalipun ada kalanya kita harus mengalami masa-masa menangis dalam penderitaan. Mengapa demikian? Karena ada rencana Tuhan yang indah, ada sebuah “grand design” yang telah dipersiapkan Tuhan di depan, dan penderitaan kita itu merupakan bagian dari prosesnya. It’s a part of the process. Mungkin Tuhan sedang melatih kekuatan otot rohani kita, mungkin Tuhan sedang mengajarkan kita untuk berhenti mengandalkan kekuatan sendiri dan kembali mengandalkanNya, mungkin Dia sedang menguji iman kita apakah kita masih berada dalam keyakinan teguh ketika berada dalam kesusahan atau tidak, mungkin kita sedang diajar Tuhan untuk bersabar dan sebagainya. Tapi satu hal yang pasti, meski hidup kita tengah bergejolak hari ini, selama kita tetap berada dalam firmanNya dengan taat, selama kita tetap setia berpegang teguh kepadaNya, ada rencana Tuhan yang indah di balik semua itu. We are in the process of a grand concept, and in the end it’s going to be beautiful.

Hidup ini tidak bisa selamanya baik. Ada kalanya kita harus masuk ke dalam kesukaran. Sebuah ayat yang bagi saya sangat indah menjelaskan konsep Tuhan akan hal ini. “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.” (Pengkotbah 3:1). Dalam versi bahasa Inggrisnya dikatakan “TO EVERYTHING there is a season, and a time for every matter or purpose under heaven.” Selanjutnya kita bisa melihat berbagai “season” atau masa ini, dan tidak semuanya menyenangkan. Namun di ayat ke sebelas kita melihat tujuan Tuhan dibalik musim atau masa itu: “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.” Pada suatu ketika kita akan sampai kepada sesuatu yang indah yang telah dirancangkan Tuhan. Tidak peduli kita berada di musim apa saat ini, suatu ketika nanti kita akan mengalami rancanganNya yang indah. Karena itulah kita harus bersabar dan terus menanti-nantikan Tuhan dengan tekun.

Ada banyak tokoh Alkitab yang mengalami langsung masa-masa proses atau penantian ini. Berapa lama Abraham harus besabar hingga janji Tuhan untuk memberikannya seorang anak di masa tua digenapi dalam hidupnya? Berapa lama waktu yang dibutuhkan Nuh untuk membangun bahtera super besar, dimana setiap hari mungkin ia harus menghadapi cemooh orang-orang yang tidak mengerti tujuannya pada waktu itu? Berapa lama waktu yang dibutuhkan Daud untuk menanti waktu Tuhan untuk mengangkatnya sebagai raja sesuai janji Tuhan? Bagaimana dengan Musa? Yusuf? Ayub? Dan ada banyak lagi contoh yang bisa kita lihat mengenai hal ini. Meski dalam proses itu mungkin terasa berat bahkan menyakitkan, pada akhirnya semua itu indah pada waktunya. In the end it was beautiful.

Sebuah benih sea heart tidak memiliki kemampuan untuk bersabar, tetapi kita punya itu. Jika benih-benih itu sanggup menempuh jarak ribuan mil selama bertahun-tahun untuk ahirnya sampai kepada sebuah destinasi dan tumbuh dengan subur, mengapa kita tidak? Firman Tuhan mengajarkan kita demikian: “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah  dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” (Roma 12:12). Sabarlah, dan terus bertekun, tetaplah dalam sukacita, karena ada rancangan yang indah dari Tuhan menanti kita di depan. Kita bisa meneladani seruan Daud berikut:“Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.” (Mazmur 25:5). Ini sebuah bentuk kesabaran yang harus kita miliki. Sementara menanti, kita bisa belajar banyak. Belajar mengandalkan Tuhan, belajar menahan diri dan bersabar, belajar untuk tetap bersukacita meski dalam kesesakan, dan semua itu akan menumbuhkan iman kita lebih lagi. Mungkin saat ini kita sedang menghadapi ombak besar, tetapi seperti benih-benih sea heart itu, pada suatu saat kita akan sampai kepada tujuan yang indah. Karena itu bertahanlah, jangan menyerah dan raihlah apa yang direncanakan Tuhan untuk anda dan saya di depan sana.

Pakailah saat-saat sukar sebagai kesempatan untuk menumbuhkan iman

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: