Satan, The Accuser

Ayat bacaan: Ayub 1:12
===============
“…Satan (the adversary and the accuser)…” (English AMP)

Bagi pelaku tindak kejahatan yang sudah menjalani hukuman dalam kurungan sesuai vonis yang ditetapkan hakim, seringkali cap narapidana itu akan mengikuti hidup mereka selamanya. Ketika mereka ditahan mereka disebut sebagai napi atau narapidana, dan setelah keluar ternyata cap itu masih menempel, hanya saja ditambah kata “mantan” di depannya. Artinya status itu akan terus melekat pada mereka, meski mereka sudah menjalani hukuman atau bahkan menyesali perbuatannya dan bertobat. Pola seperti ini ternyata sangat disukai oleh iblis. Lihatlah betapa banyaknya orang yang sulit bangkit dari masa lalu yang buruk. Mereka terus dihantui masa lalu mereka dan tidak yakin mereka bisa mendapat pengampunan karena merasa apa yang mereka perbuat dahulu sangatlah buruk. Seorang teman pernah berkata bahwa ia tidak yakin ia sudah diampuni Tuhan. Ia masih sering dicekam rasa takut meski ia sudah menyadari kesalahannya di waktu lampau dan bertobat. Perasaan seperti ini mungkin banyak dialami orang, bahkan masih banyak dirasakan diantara orang-orang percaya sekalipun yang sudah menjaga hidupnya. Mereka hidup bagai memanggul beban berat, menjalani setiap langkah dengan perasaan tertuduh. Dengarlah, iblis selalu berupaya mencegah atau menghalangi pertumbuhan iman kita dan akan terus berusaha menggagalkan kita dari semua janji yang sudah diberikan Tuhan. Salah satu caranya adalah dengan mempergunakan pola menuduh atau mendakwa kita lewat kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan di masa lalu.

Iblis dikatakan sebagai pendusta dan bapa segala dusta. (Yohanes 8:44). Dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan “a liar and the father of lies and all that is false.” Iblis memang tukang tipu yang ulung. Betapa sering kita terperdaya oleh tipu muslihatnya. Dan itu sudah terjadi sejak awal sekali, seperti yang dialami oleh Adam dan Hawa. Selain sebagai bapa segala dusta, iblis pun disebut dalam Alkitab sebagai penuduh atau pendakwa. Ini bisa kita lihat dalam awal kisah Ayub, yaitu dalam pasal 1 ayat 12. Dalam Alkitab versi Terjemahan Baru yang kita pakai memang tidak disebutkan demikian, tapi lihatlah versi English amplified-nya. Disana ada penekanan di depan kata iblis yang ditulis dalam tanda kurung, dimana iblis disebutkan sebagai “the adversary and the accuser”. Dalam bahasa Indonesia berarti “musuh dan pendakwa atau penuduh”. Seperti inilah salah satu metode kerja iblis. Dia  terus berusaha melemahkan kita. Iblis tidak ingin kita diselamatkan. Iblis akan terus berusaha mendakwa atau menuduh kita sampai kita putus asa dan semakin lama semakin jatuh dalam rasa bersalah. Yang dipakai untuk mendakwa adalah dosa kita, maka untuk membungkam dan mematahkan tuduhan iblis, kita harus segera mengakui dosa kita. Begitu kita mengakui dosa kita dan memohon ampun, saat itu pula Allah mengampuni kita. Tidak ada alasan untuk meragukan itu, karena itu berasal dari janji Tuhan sendiri. Karenanya imani dan percayalah akan hal itu. Jadi intinya, untuk mematahkan dakwaan iblis, kita harus mengakui dosa dan segera bertobat. Jika itu kita lakukan, tidak ada alasan lagi bagi iblis untuk mendakwa kita, karena kita sudah mengakuinya dan sudah diampuni.

Bukti dari hal itu bisa kita lihat dalam ayat berikut. “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yohanes 1:9). Dosa semerah kirmizi bisa putih seputih salju, semerah kain kesumba sekalipun bisa seputih bulu domba. (Yesaya 1:18). Ingatlah syaratnya adalah mengakui dosa, karena bagaimana Tuhan mengampuni jika kita tetap menyimpan dosa di dalam diri kita? Dosa yang tidak diakui akan merintangi dan merusak hubungan antara kita dengan Tuhan. Dan itupun sudah diingatkan pada kita dalam Alkitab. “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar;tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (59:1-2).

Sebagai manusia kita tentu tidak luput dari berbuat kesalahan. Tapi itu bukan berarti bahwa kita boleh membiarkan berbagai kesalahan terus terjadi dan memakai alasan kita manusia yang lemah sebagai pembenaran. Kita harus mengawasi betul masuknya dosa, dan jika sudah terlanjur terjadi, segeralah bereskan, baik langsung kepada orang yang bersangkutan terlebih dengan mengakuinya di depan Tuhan dan memohon pengampunan. Kalau perlu, pengalaman kita itu bisa pula kita angkat sebagai kesaksian bagi banyak orang. Bukankah Wahyu 12:11 mengatakan bahwa iblis dikalahkan oleh darah anak domba dan oleh kesaksian kita?

Jangan pernah ragu akan pengampunan Tuhan. “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya,yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian.” (Efesus 1:7). Kita memilki Allah yang luar biasa yang sangat ingin kita diselamatkan. Karena itulah Yesus turun ke dunia untuk menebus dosa-dosa manusia. Jika kita berbuat dosa, segeralah berbalik pada Tuhan, mohon pengampunan lalu hiduplah dalam terang. “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.” (1 Yohanes 1:7). Jika anda masih merasa dakwaan iblis seakan membelenggu anda, katakanlah segera bahwa anda telah mengakui segalanya dan menerima pengampunan dari Yesus. Bebaslah dari dakwaan iblis, dan bertumbuhlah dalam kasih Kristus.

Iblis tidak bisa mendakwa dosa yang sudah kita buka dan sudah diampuni

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.