“Sastra Meneguhkan Panggilan” di Malam Surgawi Jelang 100 Tahun Seminari Mertoyudan (5)

Rosa Herliany yang hingga saat ini telah menerbitkan sekitar 20 buku puisi dan esai itu menyatakan senang terhadap tema pembacaan puisi malam itu. Peristiwa itu menyadarkan hadirnya mandat surgawi atau panggilan tugas dari alam semesta kepada manusia.

“Bahwa ada banyak hal di sekitar kita baik peristiwa kecil, yang tampak biasa saja atau juga peristiwa besar, yang perlu dituliskan dalam bentuk puisi atau secara umum sastra,” kata Rosa yang juga Direktur Rumah Buku Dunia Tera Borobudur itu.

Rektor Seminari Mertoyudan Romo Sumarya SJ mengemukakan, pembacaan sastra dalam dunia pendidikan bermanfaat mengembangkan imajinasi dan cita-cita para seminaris, serta meneguhkan panggilan mereka sebagai imam Katolik.

Jauh sebelum Rektor Sumarya naik pentas untuk menyajikan tembang refleksi “Wiwit Aku”, Sutanto Mendut yang juga pengukuh Komunitas Lima Gunung Magelang kejatah naik panggung.

Dia menyebut karyanya “Anak Bulan dan Cucu Matahari Lima Gunung” bukan puisi tetapi lontaran materi-materi kata dan kalimat untuk menyulut inspirasi menjadi puisi oleh sejumlah perempuan yang dipanggilnya naik panggung.

Pada kesempatan itu seniman dari Gunung Prahu Kabupaten Kendal, Taufik, mengolaborasi penampilan Sutanto bersama sejumlah perempuan seperti Dorothea Rosa, Wicahyanti, Endah Pertiwi, Nana Ayom, dan Atika melalui ciptaan bunyi-bunyian tentang aneka satwa gunung.

Sutanto juga menyebut bahwa sastra memperkaya hidup manusia karena terus berubah.

“’Anak cucu, bulan dan matahari lima gunung. Di mana cucuku, kata kakek, di mana cucuku kata nenek. Di mana kakekku, kata cucu, di mana nenekku, kata cucu. Bapak ibu cemburu termangu, para ibu diam, tidak ada inspirasi atau cuma termangu di atas panggung. Politik menyediakan para wanita. Agama menyediakan para ibu. Ekonomi memberikan kesaksian tentang kekuatan bangsa dari para gadis, para wanita. Gunung adalah ibu karena gunung memberi air susu, memberi sungai. Gunung adalah ibu yang menggendong anak dan cucu’,” demikian syair yang diucapkan spontan oleh Sutanto.

Apa yang disebut Sutanto sebagai bahan puisi dan mendapat respons berupa “satu dua kata”, bunyian satwa, dan sekelumit tembang kolaborasi spontan melalui pelantang oleh sejumlah mereka yang naik di panggung bersamanya itu membuat gelak tawa para penonton.

Atmosfer “Malam Sastra Surgawi” pun terbangun semakin cair sejak penampilan Sutanto Mendut, sedangkan Wicahyanti yang juga guru Bahasa Indonesia di SMP Kristen 1 Kota Magelang menyebut peristiwa tebaran puisi di halaman Seminari Mertoyudan itu sebagai “asyik”.

Artikel Terkait

Malam Surgawi, Jelang 100 Tahun Seminari Mertoyudan (1)

Malam Surgawi Jelang 100 Tahun Seminari Mertoyudan (2)

“Pasukanku Nyaris Hancur” di Malam Surgawi Jelang 100 Tahun Seminari Mertoyudan (3)

“Lelaki Penikmat Malam” di Malam Surgawi Jelang 100 Tahun Seminari Mertoyudan (4)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: