Sao Paulo di Balik Gemerlap Piala Dunia

Di sebuah gang sempit di kawasan Diadema, pinggiran Kota Sao Paulo, bererapa remaja perempuan, tampak sedang berkumpul di depan sebuah bar yang cukup ramai dengan pengunjung.

Jam menunjukkan pukul 21.00 waktu setempat dan seorang remaja perempuan berusia sekitar 15 tahun tidak merasa perlu mengunakan jaket tebal meski suku sekitar 18 derajat, cukup dingin bagi orang Indonesia kebanyakan.

Ia malah dengan tenang duduk di atas motor ukuran besar dengan pakaian minim, dan matanya tampak mengawasi setiap pejalan kaki yang lewat. Dari penampilannya, terlihat bahwa anak yang masih di bawah umur tersebut sudah terbiasa berhadapan dengan laki-laki yang usianya jauh di atasnya.

“Di sekitar sini memang banyak anak-anak yang harus bekerja di tempat-tempat hiburan malam. Tapi selama Piala Dunia, pemerintah berusaha untuk membersihkan kawasan ini dari berbagai bentuk bisnis yang berhubungan dengan seks,” ujar Lucas, seorang warga Sao Paulo seperti dikutip dari Antara, Rabu (18/6/2014).

Selama berlangsungnya pesta olahraga empat tahunan tersebut, mobil patroli polisi menurut pemuda berusia 30 tahun itu sering melintasi kawasan itu, untuk memantau situasi.

Usaha Pemerintah Brasil untuk menjaga citra negara menjelang Piala Dunia 2014 ternyata berdampak serius terhadap kelangsungan hidup para pekerja seks.

Sekitar 600.000 tamu yang membanjiri Brasil dari berbagai belahan dunia, merupakan pangsa pasar potensial bagi pelaku bisnis seks. Tetapi yang membuat khawatir pemerintah adalah meningkatnya pelacuran yang melibatkan anak-anak di bawah umur.

Pekerja seks komersial (PSK) yang terbukti memasang iklan untuk memasarkan diri mereka melalui dunia maya, atau pun melalui iklan yang ditempel di pinggir jalan, diancam hukuman penjara.

Di antara 12 kota penyelenggara Piala Dunia, adalah Fortaleza di bagian utara yang memiliki reputasi tidak menggembirakan, yaitu ibukota wisata seks dan eksploitasi anak-anak.

Kekerasan seksual terhadap anak adalah kejahatan terbanyak kedua yang paling sering dilaporkan, dengan usia korban berkisar antara sepuluh sampai 14 tahun.

Karena seriusnya tingkat kejatahan tersebut, sebuah kelompok sosial asal London yang sebagian besar wilayah kerjanya di Brasil, beberapa waktu lalu meluncurkan sebuah kampanye untuk memberantas kejahatan seksual terhadap anak-anak.

Kampanye tersebut didukung oleh Badan Kejahatan Nasional Inggris dan pemain sepak bola papan atas, termasuk bintang tim nasional Inggris Frank Lampard dan David Luiz dari Brasil.

Tunjuan kampanye tersebut adalah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap eksploitasi seksual anak-anak dan sekaligus mengingatkan para pendukung sepak bola bahwa berhubungan seks dengan anak di bawah 18 tahun adalah sebuah kejahatan dan diancam hukuman di Inggris atau Brazil.

Kejahatan Serius

Sarah de Carvalho, ketua eksekutif lembaga swadaya masyarakat yang diberi nama “Happy Child’s” kepada media lokal di Brazil mengatakan bahwa anak-anak yang berusia antara 11 sampai 12 tahun telah menjadi korban para pekerja konstruksi selama pembangunan stadion Piala Dunia 2014.

Di Fortaleza, ibukota negara bagian Ceara, yang menjadi tuan rumah enam pertandingan, de Carvalho dan staf menggunakan strategi yang digunakan saat Piala Konfederasi tahun lalu, yaitu melipatgandakan jumlah pekerja sosial yang ditempatkan di jalan-jalan.

Meningkatnya jumlah pengaduan, dari 193 pada 2009 menjadi 2.122 pada 2012, menjadi bukti bahwa program mereka untuk meningkatkan kepedulian dan kewaspadaan sudah berjalan baik.

“Namun sayangnya, di banyak daerah di Brasil, masyarakat tidak menganggap kekerasan terhadap anak sebagai sebuah kejahatan,” katanya.

Para ahli di Brazil setuju bahwa bahaya yang dihadapi anak-anak sungguh nyata dan bahkan sudah sampai pada tahap yang sangat serius, melibatkan masyarakat Brazil sendiri dan orang asing.

Tapi menurut Thaddeus Blanchette, antropolog yang telah mendokumentasikan prostitusi di Rio de Janeiro sejak 2004, kekhawatiran seperti itu sebenarnya terlalu mengada-ada.

Adalah media, yang menurut Blanchette, yang membesar-besarkan asumsi bahwa para penonton sepak bola akan mencari pekerja seks atau mengincar mereka yang masih di bawah umur.

“Seks di bawah umur terus terjadi, tapi pendapat bahwa para ‘gringo’ mencari anak-anak tersebut sama sekali hanya mitos,” katanya. “Gringo” sebenarnya adalah sebutan bagi mereka yang berasal dari utara negara itu.

Selain itu, juga tidak ada sebuah bukti yang ditemukan bahwa sebuah event olahraga besar seperti Piala Dunia bisa meningkatkan bisnis prostitusi atau perdagangan manusia.

Keterangan Foto : Para demonstran protes atas penyelenggaraan Piala Dunia di Kota Sao Paulo, Brasil/ The Guardian

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.