Santo Aloysius yang Saleh dan Tekun Berdoa

Tawarikh 24:17-25; Mazmur 89:4-5.29-34; Matius 6:24-34
“Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33)

Hari ini adalah peringatan wajib St. Aloysius Gonzaga. Putra sulung dari tujuh bersaudara dari pasutri Ferrante Gonzaga dan Marta Tana. Nama Aloysius merupakan terjemahan bahasa Latin dari “Luigi” dalam bahasa Italia atau “Louis” dalam bahasa Sepanyol. Nama Aloysius sering disingkat Aloys.

Aloysius berasal dari keluarga bangsawan yang berkuasa dan kaya raya di Italia Utara. Ia diharapkan meneruskan wangsa kebangsawanan keluarganya. Ayahnya berharap agar Aloysius menjadi tentara.

Bahkan sejak usia dini, ia sudah dilatih untuk itu. Dalam usia 5 tahun, ia sudah dikirim ke kam militer untuk memulai karirnya sebagai tentara. Ia bahkan menjadi komandan pleton tentara kala itu.

Kekerasan dan brutalitas Renaisans serta kematian adiknya dalam situasi itu serta kondisi kesehatannya membuat Aloysius berubah! Alih-alih melanjutkan cita-cita menjadi tentara, ia justru mengabdikan hidupnya untuk Tuhan yang sudah dia cita-citakan sejak usia 7 tahun. Ya, sejak usia 7 tahun, Aloysius sudah bercita-cita untuk menjadi seorang biarawan.

Kendati ayahnya menolak dan melarang Aloysius, namun ia tidak gentar. Pada usia 19 tahun Aloysius diterima sebagai seorang Novis Serikat Jesus di Roma. Aloysius merupakan frater yang cerdas dalam ilmu-ilmu kemanusiaan.

Dia juga seorang yang saleh, rajin berdoa dan membaktikan hidupnya dalam karya karitatif bagi para penderita pes. Pilihan ini merupakan hal yang langka bagi seorang Jesuit kala itu. Aloysius sendiri terjangkit penyakit pes dan meninggal dunia pada usia 23 tahun, sebelum ia ditahbiskan menjadi imam.

Ada hal unik menjelang kematiannya. Ia sudah merasakan bahwa saat kematian sudah dekat, yakni menjelang Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Setelah menerima Sakramen Pengurapan Suci dari tangan St. Robertus Belarminus.

Kepadanya pula St. Aloysius mengatakan saat kematian yang akan dialaminya itu. Ternyata semua menjadi kenyataan. Pada tengah malam menjelang Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, St. Aloysius pulang ke rumah Bapa di sorga.

Jenazahnya dimakamkan di Gereja San Inigo (St. Ignasius) di Roma sampai hari ini. Paus Benediktus XIII menetapkannya sebagai Santo (orang suci) pada tanggal 31 Desember 1726. Secara liturgis, pesta dan peringatannya dikenang tiap tanggal 21 Juni, pada hari kematiannya yang indah.

Seluruh hidup St. Aloysius menghayati kebenaran sabda Tuhan, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33).

Ia tanggalkan warisan wangsa kebangsawanan dan harta warisannya. Ia mengabdikan diri sebagai seorang Jesuit yang saleh, rajin berdoa dan tekun dalam karya pelayanan bagi orang sakit.

Saya bersyukur diberi nama pelindung saat dibaptis ketika masih bayi dengan nama Aloysius. Saya juga bersyukur pada bulan Agustus tahun 2002 boleh berdoa seharian di dekat makamnya di Gereja San Inigo Roma.

Semoga saya yang lemah, rapuh, ringkih dan berdosa ini pun boleh mencontoh hidupnya yang suci, saleh, tekun berdoa dan terlibat dalam karya pelayanan bagi sesama.

Satu hal yang ingin saya contoh dari hidupnya yang saleh dan suci adalah ketekunannya dalam berdoa sebagai dasar bagi karya pelayanannya. Inilah yang antara lain menjadi alasan saya untuk mencintai dan mewartakan Adorasi Ekaristi Abadi.

Adorasi Ekaristi Abadi merupakan salah satu upaya terbaik di zaman ini untuk mencari Kerajaan Allah dan mewartakan kasih Tuhan demi terwujudnya damai-sejahtera, kerukunan, keadilan dan harmoni.

Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah memanggil St. Aloysius menjadi orang yang suci, saleh dan terlibat dalam karya pelayanan sampai akhir hidupnya. Semoga kami pun Kau anugerahi semangat yang sama, kini dan selamanya. Amin.

St. Aloysius, doakanlah aku dan kami. Amin.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.