Salju

Ayat bacaan: Ayub 37:5-6
=====================
“…Ia melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tidak tercapai oleh pengetahuan kita; karena kepada salju Ia berfirman: Jatuhlah ke bumi..”

salju, natal, tahun baru

Bagi banyak orang Natal dan Tahun Baru identik dengan salju. Kita melihat begitu banyak kartu-kartu ucapan yang didesain dengan mengikutsertakan salju di dalamnya. Foto-foto pun demikian. Betapa indahnya melihat segala sesuatu yang putih bersih berpadu dengan kerlap kerlip lampu dan berbagai hiasan. Tidak jarang orang meletakkan kapas pula di pohon natalnya agar mendapatkan sedikit efek menyerupai salju. Ada pula yang membeli snow spray yang bentuknya lebih mirip lagi dibanding kapas. Sepuluh tahun yang lalu saya sempat merasakan sendiri bagaimana syahdunya natal di sebuah negara Skandinavia yang penuh salju. Benar-benar sangat indah. Saya masih ingat betul betapa bahagia rasanya ketika salju turun dengan lembut menerpa wajah ketika saya berjalan di luar rumah. “Christmas wouldn’t be complete without snow..” kata teman saya pada waktu itu. Teman dekat saya lainnya yang tinggal di Kanada pernah pula mengirimkan foto suasana penuh salju di dekat rumahnya, itu pun sangat indah. Terlepas dari dinginnya udara ketika musim dingin, tapi kehadiran salju memang sudah menjadi hal yang tidak terpisahkan dari sebuah suasana Natal dan Tahun Baru yang indah.

Bagaimana salju itu bisa dengan indahnya turun memutihkan bumi? Di saat musim dingin biasanya hari akan lebih banyak dalam kegelapan dibanding terang, dan kehadiran salju sungguh membantu memberikan cahaya tersendiri. Ketika hari terang pun, salju bisa terlihat berkilauan. Semua itu tidak lepas dari sentuhan tangan Tuhan dalam mendesain dunia ini dengan indahnya. Ayub menuliskan: “…Ia melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tidak tercapai oleh pengetahuan kita; karena kepada salju Ia berfirman: Jatuhlah ke bumi..” (Ayub 37:5-6). Meski kita berusaha mencari penjelasan ilmiah mengenai turunnya salju sedetail apapun, semua itu tidak akan pernah terlepas dari kreasi Tuhan sendiri yang membuat segala sesuatunya pada sebuah kondisi tertentu, sehingga salju pun turun di musim dingin. Segala sesuatu yang Dia perbuat itu sungguh terlalu luas. Ada begitu banyak hal yang belum mampu diselidiki oleh manusia. Jangankan untuk mempelajarinya secara tuntas, yang belum kita temukan pun masih banyak sekali. Itu bentuk kreatifitas Tuhan yang mampu membuat segalanya begitu indah, sehingga kita manusia bisa menikmatinya. Kita bisa berusaha menelusuri sesuatu dari sudut pandang ilmiah, yang paling tinggi sekalipun, namun pada suatu titik tetap saja kita harus mengakui bahwa ada sesuatu yang memulai itu semua. Mau tidak mau kita akhirnya harus mengakui bahwa kemampuan kita terbatas. Dan salju hanyalah satu dari keindahan yang diciptakan Tuhan yang jumlahnya tak terkira.

Warna putih yang menjadi warna salju seringkali diasosiasikan sebagai warna yang mencerminkan bersih dan suci. Itu pula yang menjadi dasar pemakaian warna putih dalam bendera kita. Pernahkah anda berpikir mengapa salju yang turun itu harus berwarna putih dan bukan hitam? Saya merasakan ada sesuatu yang penting dengan kehadiran warna putih yang turun ketika hari lebih banyak diisi dengan kegelapan untuk memberi secercah kecerahan. Kedatangan Kristus ke dunia ini pun merupakan terang yang menyinari dunia yang penuh dengan kegelapan. Di saat dunia tidak lagi berdaya mengatasi kegelapan dan terus terseret ke dalam kebinasaan, Tuhan Yesus hadir atas kasih karunia Allah yang akan memindahkan kita dari gelap kepada terang. Dari kebinasaan kepada hidup yang kekal. Yesus sendiri mengatakan “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” (Yohanes 8:12). Dan panggilan untuk menjadi terang pun diberikan kepada kita semua yang percaya padaNya. “Jika seluruh tubuhmu terang dan tidak ada bagian yang gelap, maka seluruhnya akan terang, sama seperti apabila pelita menerangi engkau dengan cahayanya.” (Lukas 11:36) “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16).

Ketika kita baru saja memasuki tahun yang baru, inilah saat yang tepat untuk memulai dengan sebuah awal yang baru dengan berbalik kepadaNya, menerima terang Tuhan dan mulai memancarkan terang ke sekeliling kita. Kita bisa meniru syair indah Daud mengenai pertobatannya dalam Mazmur 51. Lihatlah permohonannya berbunyi: “Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!” (Mazmur 51:9). Daud tahu benar bahwa Tuhan mampu mentahirkan dirinya, memutihkan kembali dosa-dosanya bahkan melebihi putihnya salju. Yesaya mengatakan: “Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat.” (Yesaya 1:17). Dan ketika kita melakukannya, semerah apapun dosa kita Tuhan akan siap memutihkannya kembali menjadi suci. “..Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” (ay 18). Selagi tahun masih baru dimulai, selagi salju masih turun, mari kita semua memulai hidup yang baru, yang kudus, bersih dan suci, seputih salju. Kekudusan seputih salju ini akan jauh lebih bermakna ketimbang salju asli yang indah memenuhi bumi.

Mulailah tahun baru ini dengan hidup seputih salju

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.