Saling Bantu

Ayat bacaan: Pengkotbah 4:12
====================
“Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.”

saling bantu

Sudah tahu kita lemah, tapi malah membiarkannya dan terus saja menjalaninya sendirian. Ada banyak orang yang memilih sikap seperti ini. Semakin mereka lemah, semakin pula mereka menutup rapat diri mereka. Mereka mengira dengan lari dari kenyataan mereka bisa semakin baik. Itu tidak pernah terjadi. Yang justru terjadi adalah kita akan semakin kehilangan arah dan itu tidak akan membuat apapun menjadi lebih baik. Lari jauh dari realita kehidupan bukanlah jawaban, karena biar bagaimanapun semuanya tetap harus kita hadapi. Kelemahan memang merupakan bagian hidup semua orang, siapapun punya kelemahannya masing-masing, tapi itu bukan berarti bahwa kita harus menyerah atas kelemahan itu. Kemarin kita sudah melihat bahwa Tuhan pun telah mengingatkan kita akan pentingnya mengatasi kelemahan, “Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh” (Ibrani 12:12-13), dan lewat Daud kita tahu bahwa kita selalu bisa bertumpu pada Tuhan agar tidak gampang goyah. “Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.” (Mazmur 16:8). Selain daripada itu, adalah penting pula bagi kita untuk membangun hubungan yang saling dukung, saling bantu, saling mengingatkan atau kalau perlu saling menegur agar kita tidak terperangkap oleh kelemahan-kelemahan kita sendiri. Manusia sejatinya adalah mahluk sosial, seperti itulah kita diciptakan Tuhan. Kita adalah bagian dari masyarakat, alangkah baiknya apabila kita menyadari bahwa kita butuh orang lain untuk bisa tetap berjalan dengan baik dan benar atau bahkan semakin baik lagi dari hari ke hari.

Dalam banyak kesempatan Firman Tuhan berulang kali mengingatkan kita agar tidak berjalan sendiri. Kita tidak pernah dirancang untuk menjadi manusia yang absolut dan merasa kita sanggup melakukan segalanya sendirian. Firman Tuhan berkata: “Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya…Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.” (Pengkotbah 4:9-10,12). Dalam berbagai aspek kehidupan itu berlaku, dalam hal kerohanian pun demikian. Kita butuh membangun network yang kokoh, bukan saja untuk kepentingan kita, kelompok atau sesama manusia secara umum, tetapi juga untuk menyatakan terang Allah dan memperluas KerajaanNya di muka bumi ini.

Kita tidak pernah sanggup berjalan sendirian, karena tekanan dan godaan akan selalu ada disekitar kita setiap saat. Dunia yang kita hidupi ini tidaklah mudah. Cepat atau lambat kita kekuatan kita akan habis. Kita akan mengalami kelelahan dan menjadi lemah. Atau berbagai titik lemah kita pun rawan untuk menjadi santapan empuk baik oleh iblis atau orang-orang yang berhati jahat. Disaat seperti itulah kita butuh dukungan dari teman-teman terutama yang seiman agar kita bisa tetap kuat, atau apabila sudah terlanjur jatuh bisa kembali bangkit dari keterpurukan. Sebuah network yang baik adalah kumpulan orang-orang yang memiliki tujuan yang sama, berjalan ke arah yang sama dan berisi orang-orang yang saling peduli satu sama lain dan tidak mementingkan diri sendiri serta diarahkan kepada tujuan-tujuan yang positif, baik dan membangun. Itulah yang ideal. Saling menasihati, memberi masukan, menegur jika perlu, dan saling mengulurkan tangan untuk membantu, itu akan membuat kita semua bisa bertumbuh dengan baik dan dapat kembali bangkit dari keterpurukan. Dikala kita butuh ada teman, dikala teman butuh ada kita. Indah bukan?

Dalam Ibrani kita bisa memperoleh ayat yang menyatakan hal ini dengan jelas. “Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.” (Ibrani 10:24) Inilah kuncinya. Saling memperhatikan, saling mendorong. Dalam apa? Ayat ini menyebutkan: dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Untuk itulah kita diingatkan agar tidak menjauh dari pertemuan-pertemuan dimana kita bisa saling mengisi dan menguatkan lewat firman Tuhan, saling mengingatkan akan janji-janji Tuhan termasuk apa yang harus kita lakukan untuk menuainya. Ayat selanjutnya berbunyi: “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (ay 25). Cara hidup jemaat mula-mula yang dicatat dalam Kisah Para Rasul 2:41-47 bisa kita jadikan cerminan akan hal ini.

Untuk memperluas Kerajaan Allah dan menyatakan kemuliaanNya di muka bumi ini pun demikian. Kita tidak bisa melakukan segala sesuatunya sendirian saja. Tuhan telah mengaruniai talenta atau bakat-bakat tersendiri kepada setiap anakNya yang akan bisa menjadi sesuatu yang luar biasa jika disinergikan dengan orang-orang lain yang memiliki talenta berbeda untuk mencapai tujuan yang sama, berjalan ke arah yang sama. Talenta-talenta itu tidak akan pernah bisa dipakai maksimal apabila kita hanya berjuang sendirian. Paulus telah mengingatkan hal tersebut dalam surat Roma. “Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita..” (Roma 12:4-6). Dan ingatlah bahwa kita semua adalah anggota-anggota tubuh dengan Kristus sendiri sebagai Kepala (Efesus 4:15), “Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, –yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota–menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.” (ay 16).

Kita perlu mengisi hari-hari kita dengan merenungkan firman Tuhan, membahasnya bersama teman-teman dalam persekutuan, saling mempehatikan lewat pertemuan, telepon, email, sms dan sebagainya agar kita tidak lemah dan bisa terus bertumbuh meski dalam kondisi apapun. Kita harus mau mengakui bahwa kita adalah manusia yang terbatas dan punya kelemahan. Jangan biarkan kelemahan menggerogoti kita dan terus menjauhkan kita dari janji-janji Tuhan. Jangan biarkan kelemahan kita menghilangkan damai sukacita dalam diri kita. Jangan biarkan kelemahan terus terbuka sehingga gampang untuk diserang. Oleh karena itu jangan abaikan kesempatan untuk saling berbagi dan menguatkan selagi kesempatan masih ada. Selain agar kita bisa bertumbuh bersama-sama mengatasi kelemahan-kelemahan kita, temukanlah potensi-potensi yang telah diberikan Tuhan. Pergunakan dan kembangkanlah secara bersama-sama, sehingga masing-masing potensi yang berbeda itu bisa bersatu menjadi sebuah kekuatan yang luar biasa dimana Tuhan bisa kita permuliakan di dalamnya.

Never let your weakness overcome you

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. khotbah pengkhotbah 4:9-10
  2. renungan ibrani 12:12-13
  3. renungan pengkhotbah 4 7 16
Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.