Sahabat Yesus

Ayat bacaan: Yohanes 15:14
========================
“Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.”

sahabat Yesus

Dua lagu secara kebetulan terdengar di playlist saya. “No Greater Love” yang dinyanyikan Rachel Lampa dan “What a Friend We Have in Jesus” dibawakan oleh Alan Jackson. Betapa indahnya kedua lagu ini, dan akan jauh lebih indah lagi apabila kita menggabungkan keduanya. Dari gabungan keduanya kita akan mendapat gambaran besarnya kasih dari Kristus kepada kita, sahabat-sahabatnya. Di saat-saat lelah seperti sekarang ini, ketika saya sedang kecapaian akibat banyak pekerjaan dan merasa harus menyelesaikan semuanya sendirian, ternyata saya diingatkan bahwa ada Yesus sahabat saya yang selalu menemani, menguatkan, meneguhkan dan siap meringankan beban. Otak dan tubuh saya terasa lebih ringan sehingga saya masih bisa menyempatkan untuk menulis renungan ini.

Sahabat. Kata ini punya makna yang jauh lebih dalam ketimbang teman. Sahabat biasanya adalah orang yang kita anggap sangat dekat, kita percaya dan akan selalu menemani kita baik dalam suka maupun duka. Mereka biasanya mengenal kita luar dalam dan mengetahui jauh lebih banyak daripada sekedar kulit luarnya saja. Kepada mereka kita bisa berkeluh kesah menceritakan hal-hal yang sedang terjadi dalam diri kita tanpa takut dihakimi atau dinilai salah. Betapa indahnya ketika Yesus menyatakan secara langsung bahwa kita punya kesempatan untuk menjadi sahabatNya. Yesus berkata demikian: “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.” (Yohanes 15:14). Ini sebuah kesempatan besar yang alangkah sayangnya jika kita lewatkan. Jika seorang sahabat yang sama-sama manusia saja sudah begitu membahagiakan apalagi jika sosok sahabat itu datang dari Tuhan yang berkuasa atas segalanya.

Kesempatan besar untuk menjadi sahabat Tuhan. Itu sudah dinyatakan Yesus, yang berarti pintu kesempatan itu terbuka bagi kita semua. Yang lebih luar biasa lagi, Yesus sejak awal sudah menempatkan diriNya sebagai sahabat terlebih dahulu, bahkan ketika kita masih berdosa. Lihatlah apa yang dikatakan Yesus. “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (ay 13). No one has greater love than to lay down or give up his own life for his friends. There’s no greater love than this. Dan itu sudah dilakukan Yesus. Dia memberikan diriNya sendiri sebagai penebus dosa-dosa kita. Ketika kita masih hidup dalam kegelapan, tenggelam dalam lumpur dosa dan terus meluncur ke arah jurang kebinasaan, Yesus datang memberikan nyawaNya. Dan itu merupakan kasih yang terbesar dari seorang sahabat untuk sahabatnya. Kita belum tentu sanggup berbuat seperti itu, tetapi Yesus sudah membuktikannya.

Sebagai manusia yang penuh kelemahan ada kalanya kita mengecewakan sebagai seorang sahabat. Kenyataannya, ada waktu-waktu di mana kita gagal menjadi seorang sahabat yang baik. Lupa melakukan apa yang seharusnya kita lakukan, atau kita membiarkan ego menguasai diri kita hingga mengabaikan sahabat kita, dan sebagainya. Oleh karena itu alangkah susahnya kita untuk mencapai standar seorang sahabat seperti yang dikatakan Yesus. Tetapi bukankah melegakan ketika Tuhan menganggap kita sebagai sahabatNya, seorang sahabat yang memegang otoritas tertinggi dengan kuasa di atas segalanya, sahabat yang tidak pernah gagal dalam menepati janjiNya, sahabat yang setia dan begitu mengasihi kita? Tidakkah ini luar biasa ketika kita renungkan? Betapa besar kasih Yesus sebagai seorang sahabat sehingga Dia mau meninggalkan tahtaNya, “mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Filipi 2:7), yang “tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya? (Yesaya 53:2). Saya merasa sangat bersyukur setiap ingat akan hal ini, dan saya harap anda pun demikian.

Yesus mengatakan bahwa kita dianggap sebagai seorang sahabat dan bukan lagi hamba apabila kita melakukan perintahNya. Apa yang menjadi perintah Yesus? Apakah Yesus meminta sesuatu yang menguntungkan diriNya atas tawaran yang sungguh bernilai besar itu? Sama sekali tidak. Lihat apa yang menjadi perintah Yesus sebagai syarat untuk masuk dalam kumpulan sahabatnya. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” (Yohanes 15:12). Sekali lagi Yesus mengulangi perintahNYa: “Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.” (ay 17). Love one another, saling mengasihi. Itulah perintahNya.

Yesus sudah menyerahkan nyawaNya sendiri bagi kita. Dia juga berjanji untuk tidak akan pernah meninggalkan kita sendirian. “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5b) Sudahkah kita menyadari hal ini? Terlebih ketika kita sedang merasa kesepian atau sendirian menanggung beban pekerjaan dan masalah, apakah kita sadar bahwa ada Sahabat yang luar biasa yang menaruh kasih setiaNya atas diri kita? Sadarilah bahwa kita tidak pernah sendirian. Ada seorang Sahabat yang siap meringankan beban berat kita. Ada seorang Sahabat yang rela menyerahkan nyawaNya bagi kita, dan ada sahabat yang berjanji untuk selalu bersama dengan kita, tidak akan pernah meninggalkan kita. Dan itulah Yesus, sahabat kita yang luar biasa. He is a true friend. What a Friend We Have in Jesus.

Yesus adalah Sahabat terbaik yang bisa kita punyai

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: