Sabtu, 8 November 2014: Setialah Mulai dari Yang Kecil-kecil, Luk 16:9-16

YESUS bersabda:”Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barang siapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia juga tidak benar dalam perkara-perkara besar. Jadi jika kalian tidak setia mengurus mamon yang tidak jujur, siapa mempercayakan harta sejati kepadamu.”

Berjalanlah menurut irama kehidupan. Sejak kecil kita sudah diajar untuk berjalan setapak demi setapak, lalu kita bisa melangkah dan berjalan normal. Dulu kita belum tahu apa-apa, kemudian mulai diajak belajar, mulai dari TK, SD, SMP, SLA, lalu yang mampu dapat meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Tidak ada orang yang langsung jadi profesor tanpa melalui jenjang yang lebih rendah.

Tidak ada pemimpin atau pejabat masyarakat tanpa lebih dahulu menapaki jenjang yang biasa-biasa. Tidak ada orang yang langsung menjadi kaya dan mempunyai pusat usaha yang besar tanpa melalui proses menjadi pedagang loakan atau bakul kecil-kecil.

Dalam hal ini tidak ada loncatan. Orang kecil tidak mungkin secara mendadak menjadi orang besar dan punya jabatan tinggi kalau mulus jalannya. Kalau terjadi bahwa orang kecil secara mendadak dapat meraih jabatan, hal ini terjadi, ini pasti menunjukkan adanya salah jalan, dengan kolusi, manipulasi,sogokan dsb.

Orang miskin tak mungkin langsung menjadi orang kaya kalau berjalan melalui jalan biasa. Kalau toh hal ini terjadi orang miskin tiba-tiba menjadi kaya, pasti ada sesuatu yang salah. Orang ini berjalan tidak melalui proses dari bawah, tetapi melakukan perbuatan tidak adil, merampas milik orang lain atau korupsi.

Maka Yesus menganjurkan agar orang setia dalam mengurus perkara-perkara kecil. Kalau orang setia dengan jujur menempuh kehidupan bawah dengan pasti, justru orang itu akan dipercaya untuk mengurus hal yang besar. Untuk menjadi pengajar atau dosen orang perlu menguasai materi yang nanti akan disampaikan pada calon mahasiswanya dulu. Baru kalau lulus ia dapat menjadi pengajar yang baik, dan kalau setia tekun pasti akan naik jenjangnya. Begitu kalau mau menjadi dokter atau pimipinan masyarakat.

Demikian pula dalam soal keagamaan, seperti yang dikatakan Yesus kepada orang-orang Farisi: “Kalian membenarkan diri dihadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia dibenci Allah.”
Artinya: Manusia bisa saja jadi tokoh agama atau pempinan agama, tetapi kalau tidak melewati jalan Tuhan, melaksanakan FirmanNya dan mendekatkan hidupNya kepada Tuhan, tak mungkin jadi panutan orang lain. Marilah kita refleksi: yang dipentingkan disini adalah belajar hidup suci menurut anjuran Tuhan.

Kredit foto: Ilustrasiyesus dan domba

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.