Sabda Hidup: Senin 14 Juli 2014, Peringatan St. Kamillus de Lellis, Fransiskus Solanus

StCamillus

Warna liturgi Hijau

Bacaan: Yes. 1:11-17; Mzm. 50:8-9,16bc-17,21,23; Mat. 10:34 – 11:1. BcO Ayb. 2:1-13.

Bacaan Injil Mat. 10:34 – 11:1:
34 “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. 35 Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, 36 dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. 37 Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. 38 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. 39 Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. 40 Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. 41 Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. 42 Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.” 1 Setelah Yesus selesai berpesan kepada kedua belas murid-Nya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka.

Renungan:
Ada banyak keterikatan di dunia ini yang menghalangi kita untuk membalas cinta Allah dengan sungguh2. Keterikatan itu bukan hanya menempel pada harta dan kuasa. Ia juga bisa menempel pada keluarga dan bahkan agama. Ketika kita mementingkan semua itu di atas segalanya maka kita pun masuk dalam perangkap meng-allah-kan mereka dan menggeser Allah yang sesungguhnya. Kepekaan kita akan kebutuhan dan harapan sesama pun gampang dikesampingkan.

Suatu kali ada seorang anak yang merasa iba pada pengemis di depan rumah makan tempat dia dan orang tuanya sedang makan malam. Orang tuanya mencegah ketika ia akan mendekati pengemis itu. Ada banyak kata yang dilontarkan untuk menggagalkan keinginan anak tersebut. Seorang anak pasti takut kala mendapat larangan seperti itu. Dan kemungkinan besar kepekaannya pada yang membutuhkan pun bisa makin kendor. Hal seperti itu banyak kita temui. Banyak anak jadi kehilangan kepekaan menolong karena ada tembok2 ketakutan yang menutupnya. Namun sang anak ini tidak menyerah. Ketika orang tuanya ke toilet, ia mengambil nasi dan lauk dan memberikannya kepada si pengemis.
Kata2 Yesus sungguh hidup dalam pemandangan itu, “Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya” (Mat 10:42). Mari kita belajar tidak menghambat hati2 yang tergerak. Belajar memberi peluang karya Allah hidup di sekitar kita, dan melepaskan diri dari ikatan2 yang menghalanginya.

Kontemplasi: Pejamkan sejenak matamu. Hadirkan gerakan2 Allah ada dalam dirimu. Liatlah dengan cermat apa saja yang bisa menggagalkanmu menghadirkan gerakan Allah tsb.

Refleksi: Apa yang akan anda lakukan untuk menghidupkan kasih pada Allah?

Doa:
Tuhan, semoga aku memegang teguh kasihMu dan mempunyai kekuatan yang cukup untuk membalas kasihMu. Amin.

Perutusan:
Aku akan memberikan secangkir air pada yang haus. -nasp-

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.