Sabda Hidup: Sabtu 12 Juli 2014, Peringatan St. Yoh. Gualbertus, Yoh. Jones, Yoh. Wall

St John Gualbert

WARNA liturgi Hijau.

Bacaan: Yes. 6:1-8; Mzm. 93:1ab,1c-2,5; Mat. 10:24-33. BcO Ams. 31:10-31.

Bacaan Injil:  Mat. 10:24-33:
24 Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya. 25 Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya. 26 Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. 27 Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah. 28 Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. 29 Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. 30 Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya. 31 Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit. 32 Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. 33 Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.”

Renungan:
Dalam suatu ekaristi, ujub saya minta tanggapan pada umat tentang tema surga dan neraka. Ada banyak yang mengutarakan pandangannya. Lalu seorang bapak menyampaikan sharingnya dengan bahasa yang indah dan sangat mudah dicerna.

Selepas misa saya menemui bapak itu. Beliau mengatakan, “Maaf Rama, saya tadi ngomong apa ya?”

Saya katakan bahwa apa yang bapak sharingkan indah dan gampang dimengerti.

Sang bapak  itu mengatakan, “Saya sendiri juga heran dengan omgan saya, maka tadi saya bertanya “saya omg apa”.

Tampaknya Tuhan Yesus yang membuka mulut saya.”

Kala itu aku tersenyum mendengar kata2 bapak itu “Tuhan Yesus yang membuka mulut saya”. Namun setelah kurasa-rasakan  apa yang beliau sampaikan merupakan gambaran sederhana dari sebuah kesaksian akan karya Tuhan Yesus.

Ia berani mengatakan bahwa Tuhan Yesus bekerja dalam hidupnya. Ia tidak takut memberitakan pengalaman imannya dengan Yesus.

Yesus pun mengajak kita untuk selalu mewartakan kasih Bapa dalam kehadiranNya. Kita tidak perlu takut karena, “kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit. Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga” (Mat 10:31-32).

Kontemplasi: Bayangkan Yesus berada di sampingmu. Ia mendampingimu bertemu dengan banyak orang untuk memberi kesaksian tentang pengalamanmu bersama Dia.

Refleksi: Sejauh mana anda telah menjadi saksi Yesus?

Doa: Ya Tuhan, ada banyak cara untuk memperkenalkanMu. Namun seringkali ada kebuntuan di mulutku utk menyampaikannya. Bukalah mulutku agar lebih ringan mewartakanMu. Amin.

Perutusan: Aku membawa Tuhan dalam kata dan tindakanku.

Kredit foto: Santo Yohanes Gualbertus (Ist)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.