Sabda Hidup: Kamis, 27 November 2014

efek perang

PERINGATAN Santo Fransiskus-Antonius Pasani

warna liturgi Hijau

Bacaan: Why. 18:1-2,21-23; 19:1-3,9a; Mzm. 100:2,3,4,5; Luk. 21:20-28.

BcO Dan. 9:1-4,18-27

Renungan:
Situasi perang tidak pernah menyenangkan bagi siapa pun. Bahkan mungki para tentara pun tidak menginginkan terlibat dalam perang. Banyak tentara AS yang dikirim ke daerah perang pun akan menjalani suasana haru berpisah dengan isteri dan keluarganya. Mereka yang berada di daerah perang pasti merasakan situasi yang sangat tidak nyaman dan selalu merasa terancam.

Dalam kondisi seperti itu, “Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau yang menyusukan bayi pada masa itu!” (Luk 21:23).

Kondisi semacam itu memang belum pernah kualami. Dan aku tidak berharap terjadinya perang. Namun hal senada pernah teralami kala terjadi bencana alam entah gempa atau pun gunung erupsi. Bayi dan perempuan menyusui pun menjadi korban pertama. Kepanikan membuat ibu itu tidak mampu menyusui dan menghasilkan susu yang baik. Dengan begitu bayi pun terkena akibatnya.

Kiranya kita tidak menginginkan murka itu datang. Kita tidak berharap kekejaman perang menghancurkan kedamaian dan ketentraman manusia, terlebih bayi-bayi suci. Maka marilah kita menjaga hidup dan perdamaian. Tidak perlu tergoda mengusik yang damai dan tertata. Bila tidak menginginkan berada dalam kondisi sulit maka lebih baik kita selalu menjaga perdamaian. Perdamaian dengan Allah dan sesama.

Kontemplasi: Bayangkan dirimu dalam situasi panik perang atau bencana.

Refleksi: Apa yang bisa anda lakukan untuk menjaga perdamaian dengan Allah dan sesama?

Doa: Tuhan jangan lepaskan murkaMu. Sudilah Engkau menunggu pertobatan kami, khususnya pertobatan para pengusik perdamaian. Amin.

Perutusan: Aku akan aktif mengusahakan perdamaian dengan Allah dan sesama.

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.