Hari Biasa

warna liturgi Hijau

Bacaan

Yeh. 16:1-15,60,63 atau Yeh. 16:59-63; MT Yes. 12:2-3,4bcd,5-6; Mat. 19:3-12. BcO Za. 12:9-13:9

Bacaan Injil: Mat. 19:3-12.

3 Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: “Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?” 4 Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? 5 Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. 6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” 7 Kata mereka kepada-Nya: “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?” 8 Kata Yesus kepada mereka: “Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. 9 Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.” 10 Murid-murid itu berkata kepada-Nya: “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin.” 11 Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. 12 Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.”

Renungan:

SESUATU yang biasa terdengar seringkali malah tidak didengarkan lagi. Seorang anak yang selalu mendapat larangan yang sama akan menganggap angin lalu ketika larangan itu disampaikan lagi. Ia sudah merasa terlalu biasa mendengarkannya.

Bacaan hari ini seringkali kita dengarkan kala kita menghadiri pemberkatan pernikahan. Saya khawatir kita pun lalu menganggap angin lalu pesan Yesus dalam bacaan ini. Semoga tidak demikian. Kita bisa mengubah sikap yaitu bahwa kalau pesan disampaikan berkali-kali berarti pesan tersebut penting.

Kesatuan keluarga adalah hal yang penting yang diangkat Yesus. Tentu untuk menjaga hal tersebut tidak cukup dengan usaha manusia, kita butuh bantuan Tuhan. Menarik yang dikatakan Cathy Sharon yang sedang dilanda masalah keluarga. Ia mengatakan bahwa doa adalah kekuatan hidupnya dan dengan doa ia percaya suaminya akan kembali kepadanya.

Tuhan akan membantu mereka yang bermohon kepadaNya. Dan Tuhan pun akan mengulang-ulang pesan pentingNya. Kita buka hati kita untuk menangkap pesan penting tersebut.

Kontemplasi:

Pejamkan matamu. Hadirkan keluargamu. Mohonlah Tuhan menjaga keutuhan keluargamu.

Refleksi:

Di mana Tuhan bagi keutuhan keluargamu?

Doa:

Tuhan, aku percaya Engkau yang menyatukan kami dalam keluarga. Semoga kami pun karena rahmatMu mampu menjaga kesatuan yang telah Kauanugerahkan. Amin.

Perutusan:

Aku akan menjaga keutuhan keluargaku. -nasp-

Sumber: Sesawi.net

Loading...

Published by Wilhelmina Sunarti

Membaca firman Allah setiap hari akan menjaga hati kita dari rasa lelah dalam memikul salib kita. Semoga tulisan para gembala yang ada pada website kami bermanfaat bagi Saudaraku semua. Salam damai dalam kasih Kristus...

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.