Saatnya Biarawan Gunakan Media Sosial untuk Pewartaan Iman

paus tablet

PENTINGNYA para pastor, biarawan dan biarawati mengenali dan memanfaatkan kemajuan zaman untuk sarana pewartaan menjadi perhatian khusus Gereja Katolik Indonesia.

Tak heran bila Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja menyediakan waktu khusus bagi para pastor, biarawan dan biarawati serta penggiat komsos untuk mengikuti pelatihan (workshop) tentang memanfaatkan media komunikasi.

Sekitar 23 peserta penggiat komsos dari Regio Nusa Tenggara mengikuti Workshop bertemakan ‘Media Sosial Sarana Pewartaan’ di Hotel Jayakarta, Labuan Bajo, Flores, Nusa Tenggara Barat dari tanggal 30 Juni hingga 2 Juli 2014.

“Ini adalah acara rutin yang diselenggarakan KOMSOS KWI. Melalui workshop ini output yang ingin dicapai ialah bahwa para pastor, biarawan dan biarawati dapat memanfaatkan media dalam tugas pewartaan,”ujar Sekretaris Eksekutif KOMSOS KWI, Romo Kamilus Pantus.

DR. Norbertus Jegalus / Foto : Pius Kaju

DR. Norbertus Jegalus / Foto : Pius Kaju

Para pembicara yang berkompeten di bidang komunikasi seperti Errol Jonathans (Pakar komunikasi sekaligus CEO Suara Surabaya Grup Media), Norbertus Jegalus MA (Pakar Filsafat Hukum Universitas Widya Mandira Kupang), Romo Noegroho Agoeng Sri Widodo Pr (Ketua Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Agung Semarang), dan Romo Edy Menori Pr dari Komsos Keuskupan Ruteng dihadirkan.

Tiga hari yang padat ini sungguh istimewa karena materi yang berharga digelontorkan dari pagi hingga malam, semua tanpa ada yang dirahasiakan setelah di hari pertama pelatihan dibuka dengan misa di Ruang Gabriel Hotel Jayakarta bersama Vikep Labuan Bajo RD Benediktus Bensi Pr.

Suasana workshop media sosial di Labuan Bajo 30 Juni - 2 Juli / Foto: Pius Kaju

Suasana workshop media sosial di Labuan Bajo 30 Juni – 2 Juli / Foto: Pius Kaju

Mulai memahami dokumen gereja
Norbertus Jegalus di hari pertama dengan jelas memaparkan pandangan Gereja Katolik tentang media komunikasi sosial dalam dokumen-dokumen gereja. Lewat sesi ini, para penggiat komsos diharapkan dapat berkaca apakah semangatnya sudah sesuai dengan yang diajarkan gereja seperti terungkap dalam Dokumen Inter Mirifica, Communio et Progessio, dan Aetatis Novae.

Dalam konteks alat-alat yang diciptakan manusia untuk kepentingan komunikasi, menurut Norbertus, Gereja memandang manusia tidak bebas atau tidak luput pada pemahaman bahwa manusia adalah makhluk individu yang juga makhluk sosial. Karena itu, alat-alat komunikasi diciptakan dan seharusnya digunakan sebagai perwujudan manusia sebagai makhluk sosial dan harus dimanfaatkan untuk meningkatkan martabat manusia.

Sementara Errol Jonathans yang di hari pertama sudah menjelaskan tentang orientasi pelatihan, memberi pre test dan pengantar tentang komunikasi dan media di era digital, pada hari kedua, praktisi media ini menyampaikan presentasi tentang keragaman dan karakter media sosial. Errol menyingung peran penting media lama yang lebih senang dia sebut media mainstream. Meski media baru seperti facebook, twitter, dan lain-lain hadir, media lama tetap eksis.

Romo Noegroho Agoeng Pr (kanan) dan Errol Jonathans / Foto : Pius Kaju

Romo Noegroho Agoeng Pr (kanan) dan Errol Jonathans / Foto : Pius Kaju

Berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi ini menyebabkan munculnya konvergensi (perpaduan) media. Sebuah teks tidak lagi berdiri sendiri, tapi bisa juga disertai dengan foto dan video juga suara. Radio tak lagi hanya mengandalkan pemancar, tetapi juga disebar lewat internet.

Nah, dalam situasi seperti ini mau tidak mau para penggiat komsos termasuk di dalamnya para pastor, biarawan dan biarawati juga harus ikut menyelaminya. Penggiat komsos harus paham dan ‘gaul’ dengan alat-alat ini. “Tentu saja untuk dimanfaatkan sebagai sarana pewartaan,” jelas Errol.

Ketua Komsos Keuskupan Agung Semarang, Romo Agung di akhir hari kedua menguraikan cara menggunakan media komunikasi dengan tepat dalam semangat manusiawi dan kristen.

Menurut Romo Agung, para Gembala dan umat beriman perlu bekerjasama mengusahakan agar  upaya-upaya komunikasi sosial dimanfaatkan secara efektif dalam aneka macam karya kerasulan serta mencegah usaha-usaha yang merugikan.

“Perlu didukung prakarsa-prakarsa umat katolik dalam pengembangan pers yang sehat maupun pers katolik yang sejati,”ujarnya.

Sekretaris Eksekutif Komsos KWI Romo Kamilus Pantus / Foto : Pius Kaju

Sekretaris Eksekutif Komsos KWI Romo Kamilus Pantus / Foto : Pius Kaju

Terakhir, Romo Edy Menori Pr dari Keuskupan Ruteng menegaskan ‘spiritualitas’ yang perlu dipunyai seorang komunikator. Menurut Romo Edy, model  komunikasi Kristen mengalir dari sabda (message) menuju messenger melewati channel kemudian mencapai receiver.

Dalam komunikasi kristen, sabda (message) menjadi sentral komunikasi. Aktivitas komunikasi harus dituntun sabda dan  mewujudkan sabda. “Tujuan komunikasi adalah agar sabda dihayati dan terjadi pertobatan. Karena itu orientasi komunikasi kristen adalah terlaksananya rencana keselamatan Allah di bumi,”tegas Romo Edy.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.