Rut dan Jelai Gandum

Ayat bacaan: Rut 2:3
=================
“Pergilah ia, lalu sampai di ladang dan memungut jelai di belakang penyabit-penyabit; kebetulan ia berada di tanah milik Boas, yang berasal dari kaum Elimelekh.”

rut, jelai gandum, kesetiaan, rendah hati

Semua orang berharap bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Kata layak disini seringkaliberbicara secara luas, bukan saja sekedar mampu memenuhi kebutuhan hidup tapi bisa lebih dari itu. Mungkin bisa memiliki uang untuk berlibur, untuk membeli mobil, rumah, ditabung dan sebagainya. Jika bisa memilih, rasanya tidak ada orang yang bermimpi untuk membanting tulang dan hanya mendapatkan upah pas-pasan. Semua ingin sukses, semua ingin mendapatkan penghasilan yang tinggi. Tapi bagaimana jika pekerjaan hari ini hanya mendapatkan imbalan ala kadarnya, atau malah tidak sebanding dengan jerih payah yang dikeluarkan? Kenyataannya ada banyak orang yang memilih untuk meninggalkan pekerjaannya dan lebih baik menganggur sambil menunggu datangnya pekerjaan lain. Sebagian lagi akan bersungut-sungut, atau malah mengasihani diri berlebihan, mengalami depresi dan kehilangan harga diri. Saya bertemu dengan banyak pria yang hanya duduk-duduk di rumah sementara istrinya bekerja, hanya karena mereka tidak mau bekerja dan diperintah oleh orang lain. Ini fakta yang telah saya jumpai pada beberapa pria. Ingin menjadi pemimpin, tapi tidak ada modal, daripada diperintah orang, lebih baik diam di rumah. Itu yang diucapkan salah seorang bapak yang hingga hari ini tidak mau bekerja sama sekali. Dalam contoh lain, ada pula seorang bapak yang karena tinggi hatinya akhirnya membuat istrinya harus pergi ke negara lain untuk bekerja demi menafkahi keluarga, sementara ia hanya menunggu uang kiriman, makan dan tidur. Memang kita semua mendambakan pekerjaan yang memberi jaminan kehidupan yang baik, tidak hanya pas-pasan, tapi itu bukan berarti bahwa kita harus memandang rendah sebuah pekerjaan. Saya sendiri memulai pekerjaan saya dari gaji yang mungkin terlihat tidak masuk akal, hanya 200 ribu sebulan,itupun tidak tetap karena terkadang justru dibawah itu. Tapi hari ini saya bersyukur pernah mengalami hal itu, karena ternyata Tuhan memberkati pekerjaan saya secara luar biasa sehingga hari ini kami bisa hidup tanpa kekurangan, bahkan sebuah rumah yang indah sudah hadir sebagai satu dari berkat-berkat Tuhan. Siapa bilang dari pekerjaan kecil itu kita tidak akan bisa sukses? Seringkali sesuatu yang besar justru dimulai dari hal yang kecil atau mungkin rendah di mata manusia.

Hari ini mari kita belajar dari Rut. Rut adalah wanita dari bangsa Moab yang menikah dengan pria Yehuda, anak dari Naomi dan Elimelekh. Ketika suaminya meninggal, Naomi sebenarnya mengijinkannya untuk kembali ke rumah orangtuanya, karena Naomi sudah memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Tapi Rut menunjukkan kesetiaannya. Meski ia punya pilihan untuk hidup tenang di kampungnya sendiri dengan orang tua dan lingkungan yang sudah ia kenal, kesetiaannya ternyata besar. Ia lebih memilih untuk setia mengikuti mertuanya, pergi memasuki tanah yang sama sekali tidak bersahabat dengan bangsa Moab. Disana jelas ia akan mendapatkan banyak masalah, ditambah lagi ia tidak mengenal siapapun disana selain Naomi. Rut pasti tahu resikonya, tapi kesetiaan bagi Rut ternyata jauh lebih tinggi dibanding kenyamanan dirinya sendiri. Kesetiaan bukan hanya terhadap mertuanya, tapi juga kepada Allah. (Rut 1:16).

Setelah sampai disana, apa pekerjaan yang dilakukan Rut? Seperti perkiraan semula, ia mengalami kesulitan hidup tinggal di negeri yang asing. Ayat hari ini menyatakan apa pekerjaan Rut. “Pergilah ia, lalu sampai di ladang dan memungut jelai di belakang penyabit-penyabit; kebetulan ia berada di tanah milik Boas, yang berasal dari kaum Elimelekh.” (Rut 2:3). Rut bekerja sebagai pemungut jelai di belakang penyabit. Ini bukanlah pekerjaan yang tinggi. Tapi Rut rela melakukannya. Sepintas kita mungkin mengira bahwa semua itu merupakan keterpaksaan karena ia tidak mempunyai pilihan lain. Tapi bukankah Rut bisa memilih untuk diam saja? Ia bahkan bisa memilih sejak awal untuk tetap tinggal di Moab. Rut tidak bersungut-sungut atas keadaannya. Bahkan ia sendiri yang meminta untuk bekerja sebagai pemungut jelai. (ay 2). Rendah? Bagi kebanyakan manusia mungkin ya, namun tidak bagi Rut. Ia mau merendahkan dirinya tanpa mengeluh. Justru Sikap rendah hatinya untuk mengerjakan pekerjaan yang rendah inilah yang membawanya bertemu dengan sang pemilik tanah, Boas, dan kita tahu apa yang terjadi selanjutnya. Rut kemudian menikah dengan Boas, dan dari keturunannya kelak Yesus lahir.

Sikap terpuji Rut membawanya menuai berkat Tuhan yang tidak terhingga besarnya. Kesetiaan, kerendahan hati dan kesederhanaan yang ia miliki ternyata membuat Rut bahagia. Ada begitu banyak pilihan yang sepintas akan membuatnya tidak perlu susah, tapi Rut tidak memilih itu. Pilihan demi pilihan secara tepat ia ambil dan akhirnya kisah Rut berakhir dengan happy ending. Apa yang dilakukan Rut ini sesungguhnya sesuai dengan firman Tuhan. Lewat Mikha kita bisa melihat hal ini. “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Mikha 6:8). Rut melakukan ini, dan kita bisa menyaksikan sendiri hasilnya. Meski hidup menjadi sulit, meski pekerjaan rendah dan tidak bisa dibanggakan, namun Tuhan tetap bisa mengubah itu semua menjadi berkat luar biasa jika kita menjalaninya dengan benar sesuai firmanNya.

Mazmur Daud menuliskan “Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah.” (Mazmur 37:11). Tidak itu saja, Tuhan juga “memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan.” (149:4). Semua itu terbukti lewat kerelaan Rut melakukan pekerjaan sebagai pemungut jelai tanpa bersungut-sungut, kerelaannya menjalani sulitnya hidup dengan ketabahan. Mungkin diantara kita ada yang saat ini mendapatkan pekerjaan yang rasanya kecil, mungkin rasanya tidak sesuai dengan usaha yang dikeluarkan, mungkin tidak ada apa-apanya dibanding pekerjaan teman-teman lain. Itu bukanlah alasan bagi kita untuk bersungut-sungut, mengeluh, patah semangat, merasa hancur dan sebagainya. Tuhan bisa menurunkan berkatNya dalam keadaan apapun, termasuk memberkati pekerjaan yang awalnya kecil dan tidak ada apa-apanya menjadi besar dan berhasil luar biasa. Semua pekerjaan yang baik, besar atau kecil, akan mendapat berkat Tuhan jika kita lakukan dengan sebaik-baiknya. Firman Tuhan berkata: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.” (Kolose 3:23-24). Saya sudah mengalaminya sendiri. Apapun yang menjadi pekerjaan anda hari ini, kerjakanlah sebaik-baiknya dan muliakan Tuhan di dalamnya. Hindari berbuat curang di dalam pekerjaan, hindari melakukan hal-hal yang tidak berkenan di mata Tuhan. Meski kecil sekalipun, Tuhan sanggup merubahnya menjadi berkat luar biasa. Rut sudah membuktikannya, saya sudah membuktikannya, kini giliran anda.

Hal besar seringkali bermula dari sesuatu yang kecil

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.