RS RK Charitas Palembang, Kilas Balik Cerita Lama

RS Charitas Palembang Mgr Sudarso SCJ memberkati salah satu ruang RS RK Charitas Palembang

SEBENARNYA RS RK Charitas hanya meneruskan rumah sakit yang sudah berdiri sejak 1915. Namun pada 1926, rumah sakit tersebut mengalami kebangkrutan dan akan dijual. Karena itu, Romo Van Oort SCJ bersemangat membeli rumah sakit ini tanpa berpikir panjang.

Ia lalu pulang ke Belanda dan mengungkapkan hal ini. Ia meminta bantuan kepada pimpinan Konggregasi Suster Charitas di Roosendaal, Belanda dan mengatakan bahwa rumah sakit membutuhkan pekerja.

Tepat 9 Juli 1926, lima suster dari Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas Roosendaal berlabuh di Pelabuhan Boom Baru, Palembang. Mereka adalah Sr. M Raymunda Hermans, Sr. M Willhelmina Blesgraaf, Sr. M Caecilia Luyten, Sr. M Alacoque van der Linden, Sr. M Chatarina Koning.

Kelima suster ini menjadi pioneer karya rumah sakit di Palembang.

Sejak 1926 hingga 1938 RS RK Charitas beroperasi di sebuah rumah yang saat ini menjadi biara Frateran Bunda Hati Kudus (BHK). Rumah sakit ini sangat sederhana karena hanya menampung 14 sampai 16 orang. Untuk memperluas pelayanan, para suster juga mengadakan kunjungan rumah (home care). Dalam perjalanan waktu, banyak hal dihadapi oleh suster-suster ini.

Karya para Suster Charitas semakin berkembang. Karena itu, dirasakan perlu untuk membangun rumah sakit baru. Oleh pimpinan Suster Charitas maka lalu dipilih sebidang tanah yang letaknya di ketinggian dan cukup strategis. Tempat ini merupakan gunung kecil yang berada di salah satu sudut Kota Palembang.

RS RK Charitas Palembang

Inilah lokasi rumah sakit yang lama. Pada 1937 mulai peletakan batu pertama, kemudian 18 Januari 1938 peresmian pembukaan rumah sakit oleh Mgr .Meckelhot SCJ dengan nama Rumah Sakit RK Charitas. (Baca juga: RS RK Charitas Palembang dengan Gedung Baru untuk Topang Kesehatan Masyarakat).

Pada 1942 terjadi peperangan dan rumah sakit dikuasai oleh Jepang. Selama beberapa tahun Jepang menguasai rumah sakit hingga akhirnya pada 1948 keluar SK dari pemerintah dan rumah sakit dikembalikan ke Suster-suster Charitas.

Hingga saat ini, RS RK Charitas memiliki 1.400 karyawan dan telah banyak membantu masyarakat dalam hal kesehatan. Masyarakat telah menaruh kepercayaan yang tinggi terhadap RS RK Charitas ini.

Upacara pemberkatan
Sepanjang jalan dari simpang empat RS RK Charitas hingga Gedung Rawat Jalan yang baru berjejer karangan bunga ucapan selamat. Jumat (8/8/2014) lalu, berlangsung upacara pemberkatan dan peresmian Gedung Rawat Jalan RS RK Charitas. Kira-kira pukul 08.00 undangan mulai berdatangan. Setiap undangan yang datang disambut hangat di lobi oleh dokter dan karyawan.

Bertempat di auditorium lantai 8, perayaan Ekaristi berlangsung. Panggung dalam auditorium telah disulap menjadi altar yang megah dengan hiasan bunga-bunga yang indah. Para undangan yang hadir dalam perayaan syukur ini sungguh bergembira dengan hadirnya Gedung Rawat Jalan RS RK Charitas.

Upacara pemberkatan disyukuri dalam Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Agung Palembang Mgr. Aloysius Sudarso SCJ, bersama Provinsial SCJ Romo Andreas Madya Sriyanto SCJ, Romo YG Marwoto SCJ, Romo Nicolaas Van Steekelenburg SCJ dan Romo Antonius Giman Pr. Para Imam yang lain pun turut ambil bagian dalam perayaan syukur ini. (Baca juga: RS RK Charitas Palembang: Boleh Megah, Asal Tetap Melayani Sesama)

Dalam kotbahnya, Mgr. Aloysius Sudarso SCJ mengatakan bahwa dengan adanya fasilitas baru ini semua yang terlibat dalam RS mesti melayani mereka yang tidak berdaya. Semua mesti menyadari bahwa manusia yang sakit adalah manusia yang harus dihargai. “Rumah sakit bukan bengkel. Jadi harus menyertakan Tuhan dalam setiap pelayanan. Kita libatkan Tuhan. Perluas pelayanan, sentuh banyak orang,” ujar Bapak Uskup.

Perangi penyakit

Baginya, tujuan fasilitas baru yang disediakan untuk memerangi penyakit. Karenanya, ia berharap dengan pemberkatan ini Tuhan memberi berkat kepada semua yang dianggap mampu berkarya, yang bisa menangani manusia dengan keterbatasannya, dapat melayani secara penuh, menghormati hidup dan martabat manusia dengan hati dan pikiran yang jernih dengan keterampilan yang dimiliki dan keteladanan dalam pelayanan.

Selain itu, yang melayani juga turut serta mengungkapkan Yesus yang berbela rasa kepada mereka yang fisiknya lemah, dalam hal ini mereka yang sakit. Karena orang sakit adalah orang yang mengalami keterbatasan dalam dirinya, tidak bisa menolong dirinya sendiri, lemah dan membutuhkan orang lain, maka sebagai pelayan hendaknya kita bisa melayani dan menghadirkan Yesus dengan mengikuti program-programNya.

“Charitas Cristi Urget Nos, cinta Kristus mendesak kita untuk melakukan sesuatu kepada sesama. Kristus menghendaki banyak manusia ditolong. Dengan menolong yang sakit berarti mempercepat perjalanan Kristus di dunia ini,” ucap monsiegneur. “Kita pantas bergembira, karena keberadaan RS ini terus-menerus dihargai. Ini menjadi tugas perutusan kita mewakili gereja sebagai komunitas kesehatan,” tambahnya.

Pasien tidak hanya sembuh karena obat atau therapy yang diberikan. Pasien juga membutuhkan semangat, dorongan dari pihak rumah sakit. Karena itu, semua yang berkarya di rumah sakit perlu memberikan sentuhan lewat hati kepada pasien. Dengan menyapa saja pasien bisa sembuh.

Hal ini berarti komunikasi antarpelayan dan pasien sangat dibutuhkan, karena komunikasi punya pengaruh yang cukup besar dalam mempercepat kesembuhan pasien. Ini juga yang diharapkan oleh Bapak Uskup kepada semua yang berkarya di RS RK Charitas.

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. arti rk charitas
  2. kepangajangan RK pada charitas
  3. terowongan di bawah caritas palembang
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: