Romo Hery Bratasudarma SJ Hidupkan Nafas Gereja Katolik St. Mary Stasi Taom di Kamboja (4)

< ![endif]-->

GEREJA Katolik St. Mary Stasi Taom ibarat sejarah kembali ke titik nadirnya: Nol besar. Terletak kurang lebih 60 km dari ‘pusat kota’ Gereja Paroki St. John’s Siem Reap, Taom adalah salah satu karya pastoral yang pernah mendapat sentuhan langsung dari almarhum Romo Hery SJ alias alm. Romo Heribertus Pardjijo Bratasudarma SJ yang menjadi pastur di paroki ini selama kurang lebih 7 tahunan.

Gereja Stasi St. Mary di Taom dulunya sangat megah. Secara administrative, Stasi Taom dulunya termasuk wilayah Keuskupan Battambang. Namun dalam kurun waktu 40 tahun –terutama sejak rezim Komunis pimpinan Saloth Sar alias Pol Pot berkuasa di Negeri Kamboja—Taom secara massif dan cepat kembali ke titik nol.

Gereja St. Mary’s di Taom dulunya sangat-sangat megah. Dengan arsitektur bergaya Gothik, gereja ini dibangun megah oleh para misionaris Perancis. Ketika rezim komunis Pol Pot berkuasa, gedung gereja dengan corak arsitektur melengkung di bagian façade bangunan depan ini terbengkalai. Pasukan Pol Pot menggunakan gedung gereja ini sebagai ‘markas’. Umat katolik lokal sudah banyak yang melarikan diri atau bila tak sempat lari ya menjadi korban eksekusi pasukan Khmer Rouge besutan Pol Pot.

Gereja Stasi Taom di Kamboja

Bangunan Gereja Katolik St. Mary Stasi Taom yang sangat kusam dan merana, sementara konstruksi bangunan bergaya gothik ini tetap kokoh. Gereja ini dibangun oleh misionaris Perancis dan Stasi Taom masuk dalam wilayah Paroki St. John’s Siem Reap, Keuskupan Battambang, Kamboja. (Mathias Hariyadi)

Ketika rezim Pol Pot jatuh, Gereja Stasi St. Mary di Taom berubah menjadi kandang ayam dan babi. Orang-orang setempat –sebagian katolik—menggunakan bekas gedung gereja itu sebagai tempat ‘sampah’ dimana mereka bisa menyimpan segala perkakas rumah dan tentu saja menjadikan gedung dengan ukuran bidang 6×20 meter ini sebagai kandang besar untuk menampung ayam, menthok, angsa, dan tentu saja sapi dan babi.

Vakum 40 tahun

Terjadi masa vakum di Gereja Katolik St. Mary Stasi Taom selama kurang lebih 40 tahun.

Gereja Stasi Taom Kamboja latar depan samping ok

Gereja Stasi St. Mary’s di Taom, Siem Reap. Kamboja Utara dilihat dari sisi kiri depan dari sudut pandang perkampungan kumuh tak jauh dari paroki. (Mathias Hariyadi)

Ketika rejim komunis Pol Pot jatuh dan  kemudian bersemi lagi pemerintahan baru pimpinan PM Hun Sen (sampai sekarang), maka secara perlahan gerak dinamika Stasi St. Mary di Taom mulai berderak maju. Peristiwa “tahun rahmat” ini terjadi tahun 2004 silam, ketika penduduk setempat berinisiatif menghubungi Keuskupan Battambang dan mengatakan ada “harta” gerejani terbengkalai di Taom.

Mendengar berita tentang “gembala hilang” inilah, Romo Heribertus Bratasudarma SJ yang kala itu menjadi pastor Paroki Santo Yohanes Siem Reap langsung bergerak cepat. Setelah berbagai urusan administrasi dengan pemerintah setempat diselesaikan, maka dimulailah kegiatan katekumen. Tercatat ada 30 warga setempat yang menyatakan ingin menjadi umat Tuhan.

“Perlu tiga tahun lamanya Romo Heri –sapaan akrab Romo Bratasudarma SJ yang asli Turi, Pakem, Yogyakarta—menyiapkan segala sesuatu di Taom,” ungkap Romo Stephanus “Panus” Winarta SJ kepada Sesawi.Net ketika kami berkesempatan dolan mengunjungi  Taom di bulan September 2011.

Akhirnya, datanglah hari bahagia itu.

Tahun 2010 lalu terjadilah peristiwa “tahun rahmat Tuhan” dimana 30 orang dibabtis di Taom. Nuncio Vatikan yang berkedudukan di Bangkok  (Thailand) sendiri berkenan hadir ikut “melantik” para katekumen itu menjadi katolik.

IMG_3024.JPGok

Rombongan ‘turis Indonesia’ mendatangi Stasi Taom bersama sejumlah Orang Muda Katolik (OMK) Gereja Paroki St. John’s Siem Reap dan seorang gadis tenaga sukarelawan dari Jepang siap menyeberang sungai yang memisahkan Gereja St. Mary’s di Taom dengan kampung sebelahnya. (Mathias Hariyadi)

Kedubes Vatikan berkedudukan di Bangkok juga membawahi wilayah Kamboja dan Laos.  “Pembabtisan tahun lalu itulah merupakan awal kebangkitan Gereja Katolik di Taom,” ungkap Romo Mardi Widayat SJ kepada Sesawi.Net. “Dari jumlah semula sebanyak 30 orang, kini tinggal 29 orang saja karena baru saja satu warga kami meninggal dunia,” sambung Romo Panus SJ.

Sampai September 2011, Gereja Katolik St. Mary Stasi Taom di Siem Reap, Kamboja Utara tetaplah kusam dan menyedihkan. Tiada kesan gagah di bangunan gereja ini, selain kontur bangunannya sendiri masih mengesankan ‘sangar’. Cat tembok sudah mengelupas di sana-sini. Yang ada hanyalah cat jamur di sana-sini.

Gadis dari Jepang yang menjadi tenaga pengajar sukarelawan di Stasi Taom, Siem Reap bersama anak-anak. (Mathias Hariyadi)

Gadis dari Jepang yang menjadi tenaga pengajar sukarelawan di Stasi Taom, Siem Reap bersama anak-anak. (Mathias Hariyadi)

Udik dan miskin

Gereja Katolik St. Mary Stasi  Taom dari dulu hingga sekarang tetaplah sama: didera kemiskinan. Yang mencolok berbeda hanyalah jumlah umat. Dulu mayoritas orang-orang katolik keturunan Viet Nam, kini semuanya warga penduduk lokal asli Kamboja.

Stasi Taom di Siem Reap Kamboja

Rumah panggung sekitar 200 meter dari Gereja Katolik St. Mary Stasi Taom di Siem Reap, Kamboja Utara. Foto ini kami ambil ketika rombongan Redaksi Sesawi.Net berkunjung ke Taom bersama Pastur Gereja Paroki St. John’s Siem Reap Romo Stephanus “Panus” Winarta SJ, Jesuit misionaris Indonesia kedua yang berkarya di Siem Reap dan Taom. (Mathias Hariyadi)

Kemiskinan menjadi pemandangan sehari-hari di kanan-kiri Stasi Taom ini. Meski mayoritas penduduk setempat bekerja sebagai petani, namun kesan kemiskinan masih menggurat tajam di wajah anak-anak: kurus, berambut gimbal dengan warna kekuningan, dan terkesan kumal.

Namun jangan tanya tentang cara mereka menghayati iman kekatolikannya seperti yang Sesawi.Net rasakan pada saat misa mingguan pada akhir September 2011 lalu.  Serempak dan sangat khitmad. Anak-anak duduk rapih di tikar sederhana bersanding dengan para orangtua mereka. Sebagian umat lain memilih duduk di kursi plastik, termasuk Ishida “Kiko” Sakiko dan Aiko “Saki” Hayashi—dua warga negara Jepang utusan kelompok Japan Lay Missionary Movement yang waktu itu rela menjadi tenaga volunteer di Jesuit Refugee Service di Kamboja.

Selain suasana khitmad selama mengikuti ekaristi bersama Romo Stephanus “Panus” Winarta SJ, suasana misa dalam suasana serba sederhana itu makin khitmad dengan ragam doa yang dibawakan dalam nyanyian.  “Itu semacam doa gaya mocopatan di Jawa Tengah,” tutur Romo Panus SJ usai misa yang biasa dilakukan pukul 14.00 waktu setempat.

Bahkan, anjing-anjing pun “mengikuti” misa mingguan dengan duduk tenang dan tidur di bawah bangku umat.

Bahkan anjing-anjing pun dibiarkan ikut misa di Kapel Stasi St. Mary’s di Taom, Siem Reap, Kamboja Utara yang termasuk wilayah Keuskupan Battambang. (Mathias Hariyadi)

Mengunjungi Stasi Taom yang udik memiliki ragam ceritanya sendiri. Karena baru musim hujan dan di sana-sini banyak terjadi kobangan lumpur dan air menggenang, rombongan Romo Panus bersama Sesawi.Net dan sejumlah mudika paroki dan Aiko “Saki” Hayashi memilih jalan alternatif. Kalau biasanya melintasi jalan di sayap kiri sungai, kali ini rombongan kami memilih jalan di sayap kanan seberang sungai. “Hanya saja, ada risiko kami harus rela naik sampan menyeberang sungai,” kata Romo Panus SJ.

Kalau saja umat katolik di Gereja St. Mary Stasi Taom ini mendengar bahwa Romo Hery Bratasudarma SJ sudah meninggal dunia, maka yang terbayang di benak saya adalah lolongan tangisan yang dalam. Itu  bisa jadi tiada henti seperti mereka selalu menangisi masa sejarah kelam mereka di masa lalu: menjadi korban pengejaran tentara komunis rejim Pol Pot.

Tautan:

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.