Roh Manusia Pelita Tuhan

Ayat bacaan: Amsal 20:27
=====================
“Roh manusia adalah pelita TUHAN, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya.”

Sepasang mata yang diberikan Tuhan akan berfungsi baik dengan adanya terang. Jika mata kita berada dalam kegelapan, maka kedua mata kita akan sulit bekerja. Pada suatu kali ketika menunggu masuk ke bioskop, saya ngobrol dengan penjaga pintu. Ketika menceritakan suka dukanya, ia mengatakan bahwa salah satu tugas yang harus ia lakukan adalah mengantar penonton yang terlambat untuk sampai ke kursi sesuai nomor tiketnya. Tugas ini tampaknya gampang, tetapi sebenarnya tidaklah semudah yang kita pikirkan. Ia terlebih dahulu harus familiar dengan layout seluruh bioskop agar tidak terjatuh saat mengantar, karena senter yang ia pakai diutamakan untuk menerangi jalan si penonton untuk sampai pada kursinya. Belum lagi kalau orang yang diantarkan sudah berumur, maka ia harus benar-benar hati-hati supaya mereka tidak sampai ada apa-apa karena jatuh, tersandung dan sebagainya apalagi saat meniti tangga. Jadi tugas seorang penjaga pintu bukanlah hanya merobek karcis dan memastikan bahwa yang masuk adalah orang yang sudah membeli karcis dan tidak salah masuk studio tapi juga memastikan agar mereka yang terlambat bisa mencapai tempat duduknya tanpa mengalami sesuatu apapun dan bisa menikmati film yang mereka pilih dengan nyaman.

Hati pun ada matanya. Mata hati yang berfungsi baik haruslah memiliki terang yang berasal dari Tuhan. Itulah yang akan membuat mata hati kita mampu memahami nilai-nilai kebenaran yang terkandung dalam firman Tuhan, mampu mengingatkan kita untuk menjauhi berbagai bentuk kejahatan dan mengingatkan/menjaga kita agar tidak terjebak pada kesalahan-kesalahan. Seperti halnya sepasang mata fisik kita, mata hati inipun sulit melihat apabila berada dalam kegelapan rohani. Jika Tuhan mengatakan bahwa hati ini harus kita jaga dengan segala kewaspadaan karena dari situlah kehidupan itu terpancar (Amsal 4:23), itu artinya kita harus benar-benar serius menyikapi pentingnya hati. Kita tidak boleh membiarkan hati nurani kita beku sehingga kita tidak lagi peka terhadap peringatan Tuhan dan tega menyakiti orang lain. Sebuah hati yang gelap dan dingin akan membuat kita jauh dari kebenaran, kerap melakukan kejahatan dan tidak lagi memancarkan sebuah kehidupan seperti hakekat manusia diciptakan Tuhan. Kita tahu bahwa Tuhan menganggap penting hati dan kerap mengingatkan kita lewat itu. Apakah Tuhan memberikan lampu atau pelita agar hati kita tetap terang?

Sebelum sampai kesana, mari kita lihat lebih jauh lagi. Kalau kita melihat kepada proses penciptaan mula-mula dalam kitab Kejadian, kita akan melihat bahwa Tuhan segera menciptakan terang sesaat setelah Dia menciptakan langit dan bumi. “Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.” (Kejadian 1:3). Lantas bagaimana penilaian Allah terhadap terang? “Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap.” (ay 4). Terang akan memisahkan kita dari kegelapan. Seperti itulah Allah memandang terang. Terang sangatlah penting, namun biar bagaimanapun dalam hidup ini kita akan tetap bertemu dengan yang namanya gelap. Baik gelap dalam artian tidak ada cahaya di sekitar kita, atau ketika kita berada dalam kegelapan secara rohani. Ada kalanya kita diselubungi oleh kegelapan sehingga sulit bagi kita untuk mampu melihat apakah perbuatan atau keputusan kita sudah benar atau tidak. Sama halnya ketika kegelapan membuat kita tidak bisa melihat benda-benda atau lingkungan di sekitar kita, demikian pula ketika kegelapan menyelubungi hati kita. Ketika itu terjadi, kita pun tidak akan bisa melihat apa yang bisa menjadi konsekuensi dari keputusan atau tindakan kita.

Sebuah ayat menyatakan bagaimana Tuhan menyediakan lampu bagi hati kita. “Roh manusia adalah pelita TUHAN, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya.” (Amsal 20:27). Pelita Tuhan. Jika kita analogikan dengan sumber terang yang kita peroleh dalam kehidupan sehari-hari di jaman sekarang maka kita bisa pula mengatakannya seperti ini: Roh manusia adalah bola lampu Tuhan. Ayat ini berbicara mengenai bagaimana Tuhan bisa berfungsi sebagai sumber terang bagi kita, yang bisa menerangi dan membimbing kita secara roh, melalui roh kita. Dari sinilah kita akan bisa mendapat sorotan dengan jelas mengenai segala sesuatu yang sedang terjadi di dalam lubuk hati atau batin kita. Ada banyak orang bahkan dikalangan anak-anak Tuhan sekalipun yang akan lebih tertarik untuk mencari petunjuk dengan jalan atau cara duniawi meski Tuhan sudah menyatakan bahwa jalan terbaik yang kita tempuh seharusnya mengacu kepada petunjuk dan rencana yang telah Dia sediakan untuk kita. Seharusnya kita mengikuti langkah demi langkah sesuai tuntunan Tuhan yang diberikan melalui hati kita, secara roh. Dari Roh Allah kepada roh kita.

Oleh sebab itu membiarkan roh kita dipimpin oleh Roh Allah merupakan esensi yang sangat penting untuk diperhatikan. Firman Tuhan berbicara jelas mengenai hal ini: “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.” (Roma 8:14). Untuk mengalami pimpinan Roh Allah ini, Yesus mengatakan bahwa kita harus dilahirkan kembali dari Roh. “Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.” (Yohanes 3:6). Dan Yesus pun melanjutkan “Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.” (ay 7). Hanya dengan dilahirkan kembalilah kita akan mendapatkan kehidupan yang dipimpin oleh Roh, yang akan memungkinkan kita untuk bisa melihat Kerajaan Allah. (ay 3). Ketika kita mengalami kelahiran kembali maka kita bisa dipenuhi oleh Roh Kudus yang dianugerahkan Tuhan secara langsung untuk tinggal diam (dwell) dalam diri kita. Dilahirkan, dipenuhi dan dipimpin oleh Roh. Ini penting untuk kita miliki agar roh kita bisa diterangi oleh cahaya terang dari ‘bola lampu’ Allah.

Tuhan menerangi hati kita dengan lewat roh. Hati yang berisi terang dari Tuhan akan mampu menyoroti seluruh batin, searching all in our innermost part, menjaga agar kita tidak kehilangan janji-janji Tuhan lewat berbagai keteledoran, kekeliruan, kesalahan hingga kejahatan yang kita perbuat apabila hidup tanpa disertai hati yang berisi pelita Tuhan. Sebagaimana sulitnya kita hidup sehari-hari tanpa adanya terang, demikian pula akan sulit bagi kita untuk hidup tanpa adanya pelita dalam hati kita. Akan ada banyak hal yang mampu membuat kita terjerumus ke dalam kesesatan jika hati tidak berfungsi baik. Hati nurani gelap tidak akan bisa menyinari batin, menyorot segala hal yang terdalam, paling tersembunyi untuk memastikan kita tidak menyimpan sesuatu yang buruk disana, apakah itu motivasi-motivasi terselubung, niat jahat, konspirasi, dendam, kepahitan dan sebagainya. Adalah sangat penting untuk terus memeriksa hati. Daud berkata “Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku.” (Mazmur 26:2). Ini adalah perkataan dari orang yang rohnya berisi pelita Tuhan, karena Daud tentu tidak akan berani meminta Tuhan menyelidiki hatinya apabila belum ada terang Tuhan dalam hati nurani yang menyoroti seisi lubuk hatinya. Sebuah hati nurani yang tidak memiliki terang Tuhan akan membuat mata hati tidak mampu melihat kebenaran. Kegelapan akan membuat kita tidak mampu untuk menilai sesuatu secara benar. Tuhan tahu itu, dan Dia selalu siap untuk menjadi Penerang bagi kita. Itu akan Dia lakukan lewat roh kita. Pastikan bahwa pelita Tuhan berfungsi dalam roh kita, agar seluruh batin kita terawasi dengan baik.

Melalui roh kita diterangi cahaya Tuhan yang mampu membimbing kita agar keluar dari kegelapan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.