Roadshow Pelayanan Liturgi Unika Atma Jaya ke Paroki-paroki KAJ

Foto Bersama sesuai Misa di Gereja Paroki St. Yohanes   Penginjil

SELAMA lima bulan (Mei–September 2015), komunitas Unika Atma Jaya yang terdiri dari dosen, karyawan, dan mahasiswa melakukan kegiatan roadshow pelayanan liturgi ke berbagai paroki di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ).

Paroki yang telah didatangi antara lain Paroki St. Yohanes Penginjil Blok B (10/5), Paroki Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga Blok Q (23/5), dan Paroki St. Yakobus Kelapa Gading (21/6). Paroki-paroki yang akan dilayani berikutnya adalah Paroki Santa Maria Bunda Karmel (MBK) (12/7), Paroki St. Arnoldus (23/8) di Bekasi, dan Paroki St. Monica di Serpong (6/9). Pelayanan liturgi yang dilakukan berupa paduan suara yang bernama Gema Atma Jaya, lektor, pemazmur, dan pemimpin misa yang berasal dari Pastoran Atma Jaya.

Kegiatan roadshow dilakukan dalam rangka perayaan Lustrum XI Atma Jaya. “Rangkaian kami mulai dari gereja St. Yohanes Penginjil Blok B, Melawai, ini. Kami mengucapkan terimakasih karena sudah diterima dengan baik oleh umat di Paroki Blok B. Kegiatan ini kami lakukan sebagai bentuk ujub syukur atas kepercayaan umat yang sudah atau akan mempercayakan pendidikan anggota keluarganya kepada kami, karena Unika Atma Jaya adalah milik umat Katolik di KAJ. Didirikan oleh awam Katolik dan di bawah naungan KAJ,” ungkap Steve Ginting selaku Ketua Lustrum XI Atma Jaya pada sambutannya seusai misa di Blok B.

Rektor Unika Atma Jaya Prof. Dr. Lanny W. Pandjaitan menyatakan pelayanan yang dilakukan oleh komunitas Atma Jaya ini selain dalam rangka Lustrum XI, juga sebagai bentuk syukur Unika Atma Jaya yang telah 55 tahun melayani umat dalam bidang pendidikan. Maka, Unika Atma Jaya ingin ikut berbagi kebahagiaan dengan umat di KAJ, dalam bentuk pelayanan liturgi. Selain itu, juga ingin semakin mendekatkan komunitas Atma Jaya dengan umat KAJ.

Hal ini selaras dengan tema perayaan Lustrum ‘Bertumbuh Bersama Bangsa’. “Kami ingin terus berbagi dan berkontribusi bagi bangsa dan gereja, semangat yang terinspirasi dari para pendiri terdahulu dan masih kami hidupi hingga saat ini,” jelas Steve Ginting.

Awalnya adalah tekad

Sedangkan Pastor Paroki Atma Jaya Romo B. Hardijantan Dermawan menyatakan alm. Frans Seda, salah satu pendiri Atma Jaya pernah mengatakan, pada awal mula ada satu tekad.

Tekad itu menjiwai seluruh umat, dan tekad itu adalah untuk Tuhan dan Tanah Air. Hal ini merupakan perwujudan cinta agape yaitu kasih Tuhan tanpa pamrih bagi sesama.

Cinta inilah yang menjiwai sekelompok cendikiawan muda Katolik yakni JP Cho, Lo Siang Hien-Ginting, Goei Tjong Tik, IJ Kasimo, JB Legiman, Frans Seda, Pang Lay Kim, Tan Bian Seng, Anton M Moeliono, St. Munadjat Danusaputro, JE Tan, dan Ben Mang-Reng Say untuk mendirikan Atma Jaya pada tahun 1960.

 

aDidasari kepedulian mereka pada masa depan bangsa dan Gereja, sepulang menempuh pendidikan tinggi di Belanda, mereka berembug untuk mendirikan sebuah pendidikan tinggi di Indonesia yang mempunyai ciri khas Katolik. Kepedulian ini disambut baik oleh Presiden Soekarno dengan memberikan tanah di Semanggi untuk aktivitas perkuliahan, dan mendapat dukungan pula dari Keuskupan Agung Jakarta sebagai pelindung Unika Atma Jaya hingga saat ini.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.