RIP Romo Frans Harjawijata OCSO, Mantan Abbas Trappist Rawaseneng

Alm. Romo Abbas Fransiskus “Frans” Harjawijata OCSO selama menjalani hari-harinya di Biara Trappistine di Jepang. (Ist)

KAWAT duka kali ini terkirim dari Pertapaan St. Maria Trappist di Rawaseneng, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Telah meninggal dunia dengan tenang di RS Kristen Ngesti Waluyo di Parakan, Temanggung, Jawa Tengah, pada hari Selasa dinihari pukul 01.45 WIB tanggal 7 Juni 2016:

Romo Fransiskus “Frans” Harjawijata OCSO, dalam usia 85 tahun (1931-2016).Alm. Romo Frans Harjawijata OCSO adalah putera kelahiran Yogyakarta, tanggal 24 September 1931.Alm. Romo Frans Harjawijata OCSO pernah menjabat selama 28 tahun (1978-2006) sebagai Pemimpin Umum –biasa dipanggil Romo Abbas– untuk Pertapaan St. Maria Trappist di Rawaseneng.

Misa requiem dan prosesi pemakaman akan berlangsung di Pertapaan Trappist Rawaseneng pada hari Rabu tanggal 8 Juni 2016 pukul 12.00 WIB dalam suasana serba sederhana.

Semasa hidupnya, walau menjalani hidup kontemplatif di balik tembok biara, namun karya-karya alm. Romo Abbas Frans Harjawijata OCSO ini masih banyak kita ingat. Misalnya saja, buku-buku seri “spiritualitas” yang terbit era tahun 1980-an.

Buku-buku seri “spiritualitas” ini digarap oleh sebuah tim kecil terdiri dari para pastor ahli spiritualitas kristiani seperti Romo Dr. Yohanes Indrakusuma O’Carm (waktu itu), Dr. Josephus Darminta SJ, Dr. Leo Laba Ladjar OFM (waktu itu dan kini Uskup Keuskupan Jayapura, Papua), dan tak terkecuali alm. Romo Frans Harjawijata OCSO.

Bertugas di Jepang

Laporan Majalah Hidup edisi Juni 2012 tulisan Ari Anggorowati menulis beberapa fakta mengenai karya alm. Romo Frans Harjawijata OCSO selepas meninggalkan tugas dan tanggungjawabnya sebagai Romo Abbas di Pertapaaan Trappist St. Maria di Rawaseneng selama hampir 28 tahun (1978-2006).

Selama beberapa tahun lamanya sejak 2006,  alm. Romo Abbas Frans Harjawiyata OCSO menjalani hari-harinya di Biara Trapist Tenshien, Hakodate, Jepang. Tugas menjadi pemimpin Biara Trappist di Negeri Sakura ini terjadi, setelah puncak pimpinan umum di Biara Trappist di Rowoseneng ke penerusnya.Ketika kembali ke Indonesia dari Jepang, ia menyempatkan diri melakukan perayaan ekaristi bersama rekan-rekan dalam komunitas pertapaan Ordo Cisterciensis Strictioris Observantiae (OCSO) yakni Romo Abbas Gonzaga Rudiyat OCSO dan Romo Bavo Samosir OCSO, Romo Athanasius Subarjo OCSO  di Pertapaan Trappist Rawaseneng. Ikut merintis berdirinya dua pertapaan Trappist lainnya yakni Pertapaan Rubiah Bunda Permersatu Gedono di lereng Gunung Merbabu, Salatiga, Jawa Tengah, khusus untuk para rahib Trappistin (perempuan), dan sebelumnya Biara Trappist Lamanabi di Larantuka, Nusa Tenggara Timur.

Baca juga:

Hukuman Ekskomunikasi dalam Gereja Katolik (2)Melawan Paus, Pastor dan Frater Rahib Trappist Kena Hukuman Ekskomunikasi (1)Berani mengirim beberapa rahib Trappist muda dari Pertapaan Rawaseneng untuk memperkuat “tim” Biara Trappist di Belanda. Salah satu teman kami yang dikirim ke Tilburg Belanda adalah Pastor Thomas Ketut Switra OCSO, imam kelahiran Bali dan alumnus Seminari Mertoyudan tahun masuk 1978. Saat ini, Pastor Thomas Ketut Switra OCSO tengah menikmati liburan musim panas sejak Mei hingga awal Juli 2016 di Bali.
Saat memasuki usia 75 tahun dan harus pensiun, alm. Romo Frans Harjawijata OCSO mengambil Tahun Sabbatikal selama setahun di luar Biara Rawaseneng. Hal ini juga untuk memberi keleluasaan bagi pemimpin yang baru menjalani masa peralihan. Kala itu, tulis Ari Aggorowati, ada tiga pilihan tempat, yaitu Biara Trapis di Tilburg Belanda, Italia, dan Jepang. Dengan pertimbangan pernah menjalani masa studi di Italia dan menjalani masa novis di Belanda, maka Jepang menjadi pilihan alm. Romo Frans Harjawijata OCSO. Di Jepang, saat itu telah ada tujuh Biara Pertapaan OCSO: lima biara pertapaan untuk kaum rubiah Trappistin dan dua biara pertapaan untuk para rahib Trappist (pria). Awal tahu 2007, alm. Romo Abbas Frans Harjawijata OCSO akhirnya tiba di Biara Suster-Suster OCSO Torapisuto Shudoin (Tenshien), Jepang. Biara yang berada di wilayah Keuskupan Sapporo ini didirikan pada 21 November 1898 dan telah menjadi biara keabdisan pada September 1928.Selama tinggal di Jepang, tugas yang diemban alm. Romo Frans Harjawijata OCSO adalah membantu imam kapelan asal Belgia yang sudah lama berkarya melayani para Trappistin (rubiah). Setelah dua pekan tinggal di Biara Tenshien, Abdis Cecilia Aoki, menawarinya untuk menjadi imam kapelan di biara itu. Alm. Romo Abbas Frans Harjawijata OCSO langsung menerima tawaran tersebut.

Mahir 10 bahasa

Alm. Romo Frans Hajarwijata OCSO dikenal sebagai seorang polyglot sejati (ahli berbahasa asing). Setidaknya, demikian tulisan Ari, alm. Romo Frans menguasai 10 bahasa asing. Ketika di Jepang hari-harinya dia gunakan untuk berbicara bahasa Jepang dengan bantuan seorang rubiah Trappistin yang lancar berbahasa Perancis. Maka dengan ‘penerjemah’ lokal itu, alm. Romo Frans berbicara dalam bahasa Perancis untuk belajar bahasa Jepang agar menguasai bahasa liturgi dalam bahasa lokal.

Kepada Majalah Hidup yang mewancarainya, alm. Romo Frans mengaku hepi belajar bahasa Jepang dan belajar menulis huruf Kanji. 1,5 tahun sebelum akhirnya pulang ke Indonesia, alm. Romo Frans malah sudah mampu memberikan homilinya dalam bahasa Jepang.

Setelah satu tahun melayani para rubiah Trappistin, maka Abdis Sicilia memintakan izin kepada Romo Abbas Gonzaga OCSO di Pertapaan Trappist di  Rawaseneng agar Romo  Frans tetap boleh berkarya di Jepang selama tiga tahun (2008-2011). syukurlah, Romo Abbas Gonzaga OCSO meluluskan permintaan itu.

Namun pada tahun 2011, Abbas Frans diminta kembali membantu di Biara Trapis Tenshien selama tiga tahun ke depan.

Sebagai imam kapelan, ia hidup sendiri dan terpisah dari komunitas. Hanya pada jam ibadat harian dan memimpin Ekaristi, ia bisa berdoa bersama para suster rubiah Trappistin. “Ini adalah hal yang sebenarnya saya rindukan ketika saya memutuskan masuk Biara Trappist. Hidup dalam kesunyian. Ketika saya masih menjadi Abbas, hal ini sulit karena saya harus melaksanakan tugas-tugas,” ungkapnya menjawab Ari Anggorowati dari Majalah Hidup.

“Saya seperti menjalani hidup semi eremit. Sendiri dan sunyi, tetapi tidak kesepian juga karena saya masih bisa berdoa bersama para suster. Tetapi, kami tidak berkomunikasi kalau tidak perlu sekali. Ini karena aturan harus menjaga silentium (hening total). Inilah panggilan baru dalam hidup saya,” demikian Abbas Frans di tahun 2012 silam.

Penuh syukur

Bagi alm. Romo  Frans Harjawijata OCSO, keseluruhan hidupnya adalah hidup yang penuh syukur. Katanya, “Hal yang saya terima saat ini adalah luar biasa. Semakin tua, saya merasa semakin sehat. Sejak usia 40 tahun saya sudah sakit-sakitan. Tetapi, semenjak usia 70 tahun, saya merasa semakin sehat.”

Demikian juga dalam perjalanan hidup sebagai orang Katolik dan biarawan. “Hidup saya sebagai seorang biarawan adalah pendalaman saya sebagai seorang Katolik. Dan anugerah terbesar dalam hidup saya adalah anugerah iman. Semua saya peroleh melalui nilai-nilai yang ditanamkan ibu sejak saya belum bersekolah,” lanjutnya kepada Ari Anggorowati.

“Gusti nyuwun suci, Gusti nyuwun pinter, Gusti nyuwun waras, Gusti nyuwun dados pastor (Tuhan mohon kesucian, mohon kepandaian, mohon kesehatan, dan mohon bisa menjadi imam),” demikian doa yang diajarkan ibunya.

Sejak dalam kandungan, orangtuanya sudah mempersembahkan putra pertamanya ini menjadi imam, jika kelak lahir laki-laki.

Alm. Romo Frans Harjawijata OCSO adalah putera sulung dari delapan bersaudara. Ia memiliki seorang adik kandung yang juga menjadi imam, yaitu (Alm) Pastor Josef Wiyanto Harjopranoto Pr, imam diosesan KAJ yang pernah berpastoral di Paroki St. Bonaventura di Pulomas, Jakarta Timur, era tahun 1984-an.

Alm. Romo  Frans Harjawijaya ini sangat aktif mengarang lagu berbahasa Latin semenjak di seminari menengah. Bakat ini terus dikembangkan ketika menjalani masa novisiat di Biara Trappis Koningshoeven, Tilburg, Belanda.

Baginya, panggilan perlu dijalani dengan kesederhanaan dan dihayati tiap hari. “Saya tidak mencari yang saya senangi, tetapi berusaha menyenangi yang saya hadapi. Karena yang saya hadapi adalah realita, dan realita itu adalah Tuhan sendiri,” jelas alm. Romo Frans Harjawijata OCSO, putera kelahiran Yogyakarta, 24 September 1931 ini.

Dalam perjalanan hidup membiara, ada tiga tulisan yang mempengaruhinya secara pribadi.

Pertama, buku The Seven Stories Mountain karya Thomas Merton yang memotivasinya masuk Biara Trapis.Kedua, buku karya Santa Theresia Kanak-Kanak Yesus yang mengenalkan relasi personal dengan Tuhan dan menambahkan dimensi cinta dalam kehidupan sehari-hari.Ketiga, buku dari abad ke-14 di Inggris berjudul The Cloud of Unknowing. Buku ini menjelaskan di antara manusia dan Tuhan ada awan yang hanya bisa ditembus oleh kasih. “Mengasihi Tuhan itu jauh lebih penting daripada sekadar mengetahui Tuhan,” kata alm. Romo Frans Harjawijata OCSO menjawab Majalah Hidup di bulan Juni 2012.

Sebagai pertapa

Menurut Abbas Frans, pilihan sebagai pertapa mungkin tidak terlalu populer pada zaman sekarang, seolah membuang waktu dan tak ada artinya. “Tetapi, kami menekankan hal yang mungkin sudah banyak diabaikan di kehidupan luar, yaitu kesunyian, keheningan, dan doa. Dengan masih banyaknya orang yang senantiasa mau mendatang Biara Trappist di Rawaseneng, baik Katolik maupun non-Katolik, hal itu jelas menunjukkan memang ada sesuatu. Sesuatu yang membuat sebagian orang memang mengatakan ini perlu dan penting,” ujarnya waktu itu.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dimana-mana biara pertapa mengalami kemunduran dalam panggilan. Tidak hanya di Eropa, tetapi di Afrika, Amerika Latin, bahkan Asia Selatan. “Hal yang luar biasa, panggilan justru subur di Tiongkok, negara yang justru tidak memiliki kebebasan beriman,” ujarnya.

Kepada Majalah Hidup edisi Mei 2012, alm. Romo Frans  Harjawijata OCSO menjelaskan bahwa itulah rahasia iman. Seperti juga dalam sejarah, Gereja berkembang juga karena teraniaya. Tidak mudah juga bagi para biarawan dan biarawati Trappist menjalani panggilan mereka di masa seperti sekarang ini.

“Tetapi tetaplah berfokus pada tujuan semula, untuk apa hidup membiara dan konsekuen menjalaninya. Ini menjadi hal yang penting,” tandas alm. Romo Frans Harjawijata OCSO yang di bulan Mei 2012 tengah menghadiri Perayaan 25 Tahun Biara Trappistin Pertapaan Bunda Pemersatu, Gedono, Salatiga, Jawa Tengah.

Biara ini didirikan oleh para rahib Trappist di Rawaseneng, ketika alm. Romo Frans Harjawijata OCSO masih menjabat sebagai Romo Abbas.

Requiescat in pace.

Sumber: Majalah Hidup edisi Juni 2012

avatar Co-founder dan chief editor Sesawi.Net; Konsultan Media & Communication di lembaga internasional mhariyadi@sesawi.net, mathias.hariyadi@gmail.com

Sumber: Sesawi.net

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.