Renungan: IYD Selesai, Tapi Ada yang Belum Selesai…

iyddddd
Renungan: IYD Selesai, Tapi Ada yang Belum Selesai… 0By Kevin Sanly Putera onOctober 13, 2016Indonesian Youth Day

INDONESIAN Youth Day (IYD) 2016 Manado meninggalkan jejak yang berkesan di hati setiap para peserta dan panitia. Foto dan video acara kemarin bermunculan di media sosial. Acara yang melibatkan 2.500 OMK se-Indonesia ini memberikan sukacita dan semangat baru dalam mewartakan Injil. Namun seberapa jauh?

Saya pun setuju mengatakan IYD 2016 sukses. Walaupun sering dipakai, tapi kata ‘euforia’ tepat untuk menggambarkannya. Hingga saya menyaksikan dan mengalami sendiri empat kejadian unik yang patut kita renungkan.

Pertama,

pada malam penutupan. Seorang perempuan yang menjadi MC menyapa beberapa kontingen: “Regio Jawa, mana suaranya???” Kalimat ini sontak dijawab dengan teriakan gemuruh merendahkan. Tidak lama, beberapa kontingen bersorak: “Ganti MC! Ganti MC!” Setelah menyaksikan kehebohan itu dan reaksi sang MC yang tampak bingung, timbul suara kontra di sudut lain untuk menyemangatinya.

Si MC itu digantikan dengan MC ‘senior’, kemudian dia masuk ke belakang panggung. Sorak gembira peserta IYD pun kembali bergaung. Heran bagi saya, bahwa menuntut ‘dilayani’ dengan MC yang profesional adalah biasa saja? Bahwa bila MC-nya kurang pas di hati atau membosankan, maka ada hak untuk meminta ganti orang?

Saya posisikan diri saya sebagai sang MC yang makzul itu, sakit hati, luka batin, atau positifnya: “Tidak apa-apa, saya memang masih belajar.” (Kemudian saya tersenyum kepada teman-teman di belakang panggung, lalu biasa saja.) Mana yang terjadi dengan saudari (di dalam Tuhan) saya itu, saya tidak tahu.

Kita bisa menghindari potensi saling melukai, sesimpel dan serumit dari perkataan. Peserta sudah lelah duduk berjam-jam ikut “Ngobrol Pintar”, diajak bernyanyi mars berulang kali, antre panjang saat makan, dan berkeringat karena ramainya amphitheater.

Tapi, panitia tidak kalah lelah bukan? “Dapat tidur dua jam,” kata Rio, seorang tim transportasi. “Kita belum tidur,” kata koordinatornya, Carlen. Upaya ekstra yang mau tidak mau diberikan panitia untuk 2.500 OMK ini rasanya kurang, sampai peserta spontan minta ganti MC.

Kedua,

handphone saya dipercaya untuk live streaming misa penutupan sampai pentas seni. Setelah beberapa macam upaya, tim publikasi IYD memutuskan live streaming lewat facebook. Lumayan, ada 100 orang lebih yang menyaksikan dan memberi komentar, “Jangan goyang-goyang gambarnya min. Pusing mata saya.”

Tanpa tripod, tanpa monopod, tanpa glider, tanpa persiapan teknis karena baru detik itu berhasil, live streaming tetap disuguhkan untuk mempertontonkan suasana amphitheater malam itu kepada mereka yang tidak ikut ke Lotta.

Saat jeda makan malam, saya hentikan live streaming sejenak: 1 jam 40 menit. Selama itu juga saya dan Ferry, tim Komisi Kepemudaan KWI bergantian memegang handphone sestabil dan sehalus mungkin.

Dari sekian lusin komentar, hanya ada beberapa yang memberi respon positif: tentang adanya live streaming, tentang hebatnya suasana IYD. Bukan kami mau dianggap, tapi begitulah pelayanan bukan?

Ketiga,

saat saya duduk di pusat amphitheater (untuk mengambil gambar panggung). Seorang OMK perempuan tim publikasi IYD sedang mengambil foto/video. Tidak berapa lama ia berdiri, peserta di sebelah saya yang terhalangi berteriak, “Halangin saja terus!” dengan nada yang kurang(tidak) ramah.

Si tim publikasi hanya menengok bingung, karena memang posisi mengambil gambar yang jelas sudah sulit diperoleh. Taklama, ia pergi ke tempat lain.

Keempat,

meskipun terjadi paling awal, tapi sengaja saya letakkan di sini. Panitia IYD sungguh patut diacungi jempol. Hal-hal yang belum tentu dibahas seperti menemani tamu, membawakan tas, dan inisiatif saling bantu antarseksi sungguh terwujud.

Menjelang acara pembukaan di Stadion Klabat, saya harus mampir ke Seminari Pineleng untuk berkumpul dulu dengan RD Kamilus, Sekretaris Eksekutif Komsos KWI. Alvin, Christian, dan Rio adalah tim transportasi yang sempat setia mengantar dan melayani kami tanpa menunjukkan rasa lelah dan gusar. Di hari itu, mereka sibuk untuk mengatur lalu lintas di arena acara.

Pusat tranportasi untuk tamu pindah dari tempat biasanya, sehingga saya tidak tahu harus minta tolong ke mana. Beberapa panitia saya tanya, mereka mengoper ke orang lain yang dirasa lebih tahu. Sampai datang sebuah mobil panitia yang baru saja menjemput seorang pastor. Saya bertanya, “Bagaimana supaya bisa ke Seminari Pineleng?” (Jaraknya cukup jauh kalau berjalan kaki, tapi dekat dengan kendaraan. Saya bersama Mbak Wulan waktu itu.) Dijawabnya, “Coba tanya di atas (lokasi baru tim transportasi, sekitar seratus meter dari Lorenzo). Saya baru dari bandara.”

Oh mungkin beliau harus segera pergi ke tempat lain.

Saya bertanya lagi ke mobil lain yang baru datang, panitia itu menjawab, “Tanya ke atas.” Sedangkan saya lihat dia kembali juga ke tenda transportasi.

Bukan juga minta dilayani cepat atau manja, tapi inilah situasi tamu -bukan orang penting, tanpa pastor atau uskup- yang saya alami.

Dari tiga kejadian pertama, apakah -bahkan- sukacita Injil diwartakan di dalam 2.500 OMK hadirin IYD 2016? Kita bernyanyi bersama, menggelorakan “Torang Samua Basudara”, menari dan tertawa bersama, tapi apa IYD hanya sebatas euforia dan foto kenangan yang bagus?

Dari kejadian keempat, sadar tidak sadar, perilaku dan jawaban singkat bisa jadi sangat dibutuhkan orang lain.

Teman-teman, saya kira kita diutus dari setiap kontingen atas alasan yang lebih! “Sebetulnya, pastor dan dewan agak ‘lebih’ percaya dengan aku, sehingga meskipun ada seleksi, aku tetap berangkat,” cerita seorang OMK ibukota kepada saya.

Namun hal-hal kecil seperti ini adalah contoh bahwa TIDAK SEMUDAH itu mulai mewartakan sukacita Injil di tengah masyarakat yang majemuk. Lha, dalam masyarakat OMK, Katolik, sama-sama IYD saja, susah toh?

Tidak ada maksud mengkritik atau meminta jawaban, penjelasan, dan pertanggungjawaban. Pada akhirnya, semua yang sudah berlalu ini HANYA bisa membawa manfaat baik, memberkahi, dan membangun bila direfleksikan -bukannya ditanggapi “Maaf, Anda salah paham.” ; “Itu tidak benar!” – Bagaimanapun, respon spontan khalayak tidak bisa dikoreksi satu-satu toh?

Generasi OMK peserta IYD cenderung generasi kritis berpikir, bijak berkata-kata, -dan saya amini, imani- bijak mendengarkan: tahu kapan waktunya hanya menerima dan merefleksikan, tanpa gusar meralat.

Bisa jadi, kita pulang ke paroki masing-masing, menjadi pribadi yang lebih membara dan punya kenaikan tingkat secara personal untuk mewartakan sukacita Injil di tengah keluarga, komunitas, Gereja, lalu masyarakat majemuk.

Bisa jadi, kita pulang hanya membawa cinderamata mancakota dari pameran budaya dan foto-foto berkesan di Bunaken atau Tomohon.

Bisa jadi, kita pulang hanya bawa pakaian kotor.

BISA JADI, kita pulang meninggalkan luka bagi orang lain. Meskipun IYD selesai, ada yang belum selesai, bahkan membekas… bekas yang tidak enak dan masih membuat susah senyum orang-orang yang kita belum tentu kenal.

Kita mau… sudah… akan… menjadi ‘bisa jadi’ yang mana???

Mari berefleksi. Bijaksana dan kritis berkata-kata, bijaksana mendengar.

Salam OMK Indonesia,
Ad Majorem Dei Gloriam.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.