Renungan Harian, Senin 28 maret 2016

Senin Oktaf Paskah

Injil: Yohanes 20:19-31

Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya

20:19 Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” 20:20 Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. 20:21 Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” 20:22 Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. 20:23 Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”

20:24 Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. 20:25 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: “Kami telah melihat Tuhan!” Tetapi Tomas berkata kepada mereka: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” 20:26 Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” 20:27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” 20:28 Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!” 20:29 Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

20:30 Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, 20:31 tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.

Renungan

Catatan dalam kitab Suci pertama-tama bukan dimaksudkan sebagai catatan historis runtut kronologis waktu. Maka dalam kisah kebangkitan Yesus, ke empat Injil kadang memberi kesaksian kisah yang tidak sama, ada perbedaan entah jumlah orang, atau nama orang, atau berkaitan dengan yang lain-lainnya. Dari semua perbedaan yang ada, satu hal kesamaan yang diangkat oleh para penginjil, yakni bahwa mereka mengisahkan Yesus yang sengsara, wafat dan dimakamkan, sekarang ini sudah bangkit. Para murid menjadi kunci perjumpaan dengan Yesus yang bangkit.

Injil Yohanes hari ini juga mengingatkan kita bahwa tidak semua yang terjadi di sekitar hidup Yesus tercatat atau terdokumentasi. Yohanes mengajak kita untuk menyadari bahwa apa yang tertulis itu supaya kita percaya kepada Tuhan Yesus Kristus yang sudah bangkit dari antara orang mati.

Pengalaman perjumpaan para murid dengan Yesus yang bangkit dalam kisah  ini berlanjut. Masih dalam keadaan yang takut dengan orang-orang Yahudi, mereka berkumpul dalam sebuah rumah dengan kondisi pintu terkunci rapat. Yesus yang sudah bangkit mengatasi ruang dan waktu, Ia bisa hadir dimanapun para murid berada.

Kata-kata yang pertama kali diucapkan Yesus ketika menjupai mereka adalah “damai”. Yesus memberikan damai kepada para murid. Para murid yang sedang kalut hanya bisa kembali mengenang apa yang terjadi apabila hidup mereka kembali damai, tenang, dan merenungkan apa yang terjadi. Perjumpaan yang pertama para murid tidak memerlukan tanda-tanda untuk percaya kepada Yesus yang bangkit. Namun pada perjumpaan yang kedua, delapan hari berikutnya, Yesus perlu memberi bukti bekas-bekas luka penyaliban. Dan para murid, khususnya Tomas, menjadi percaya akan Yesus yang bangkit.

Bagi kita, memberikan damai kepada orang yang kita jumpai, dimanapun kita berada, menjadi ciri khas Kristiani, kita sebagai murid Yesus. Lebih berguna memberi damai dari pada memberi celaan. Lebih membawa berkat ungkapan damai dari pada ungkapan yang lain yang mungkin tidak membangun kehidupan.

Saat ini kita tidak memerlukan bukti bekas luka penyaliban Yesus. Kita sudah yakin dan percaya dengan pangalaman iman para murid. Maka yang perlu kita perjuangkan adalah bagaiman kita mampu untuk memberi salam seperti salam Yesus kepada para murid ketika Ia menjumpai mereka. Kita yakin bahwa setiap orang pasti lebih memilih hidup yang damai dari pada hidup yang penuh peperangan.

Doa

Ya Tuhan, kami yakin dan percaya cinta-Mu tidak berhenti pada kematian. Namun kami yakin dan percaya bahwa cinta-Mu senantiasa tercurah dalam hidup kami. Semoga kami mampu untuk membagikan kasih yang sama kepada setiap orang yang kami jumpai. Mampukan kami untuk membawa damai dalam hidup kami. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: