Keluarga katolik masa kini, ilustrasi dari www.avvocatoandreani.it































Mrk 9:2 Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka,

Mrk 9:3 dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu.

Mrk 9:4 Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus.

Mrk 9:5 Kata Petrus kepada Yesus: “Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.”

Mrk 9:6 Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan.

Mrk 9:7 Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.”

Mrk 9:8 Dan sekonyong-konyong waktu mereka memandang sekeliling mereka, mereka tidak melihat seorangpun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri.

Mrk 9:9 Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorangpun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati.

Mrk 9:10 Mereka memegang pesan tadi sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan “bangkit dari antara orang mati.”


Kita tidak dapat menggambarkan  apa yang  terjadi dalam transfigu-rasi  Yesus di gunung Tabor (Mrk 9:2-10; Mat 17:1-9; Luk 9:28-36). Hanya diberitakan, bahwa Yesus berubah rupa, pakaian-Nya sangat putih berkilau-kilauan. Tampak juga Musa sebagai pembebas perbudakan Israel di Mesir, dan Elia sebagai nabi terbesar. Kiranya di atas gunung Tabor Yesus membutuhkan peneguhan pribadi-Nya dalam hidup-Nya. Sebelum naik gunung Yesus  memberitahukan kepada murid-murid-Nya, bahwa Ia akan banyak menderita, dibunuh, meskipun akan bangkit lagi. Tetapi Yesus di puncak gunung membutuhkan peneguhan hidup-Nya. Seperti Ia sebelum tampil di depan umum telah turun di sungai Yordan untuk dibaptis,  demikian juga Yesus juga berani naik ke Yerusalem untuk melaksanakan panggilan-Nya. Apa yang dilakukan Yesus itu harus kita lakukan juga. Kita harus mengikuti Yesus naik gunung, agar dapat melihat sedikit kehadiran Allah di dunia kita, kemudian kita turun memasuki dalam hidup kita sehari-hari.


          Ceritera Markus juga mengingatkan kita, bahwa tidak cukup kita hanya memandang dan memikirkan kehadiran Allah di gunung, melainkan juga mau mendengarkan kata-kata Yesus  untuk turun kembali memasuki hidup kita sehari-hari.  Peristiwa yang dialami Yesus di gunung Tabor mendorong kita juga untuk melihat kembali pengalaman-pengalaman kita di gunung Tabor hidup kita sendiri. Apakah pengalaman itu dapat member  terang  dalam  aneka bayangan dan kegelapan hidup kita?  Apakah pengalaman kita di puncak gunung hidup kita itu dapat memberikan kekuatan, keberanian dan harapan dalam perjalanan hidup kita? Seperti ketiga rasul (Petrus, Yakobus,Yohanes), di gunung kita juga harus mendengarkan suara Tuhan: “Inilah Anak-Ku  terkasih, dengarkanlah Dia!”  Sabda Allah itu memanggil kita untuk tetap selalu setia dan taat akan iman kita! Sebab bila kita berada di bawah, di daratan, dalam kehidupan sehari-hari, kita kerapkali tidak dapat melihat kemuliaan Kristus!


          Yesus harus mengalami berada di dua gunung atau bukit, Tabor dan Golgota. Kita pun, bila ingin menjadi murid-Nya yang sejati, harus bersedia mempunyai pengalaman di kedua gunung itu juga. Bukan hanya di Tabor tetapi juga di Golgota, agar dapat sungguh melihat kemuliaan Allah. Transfigurasi atau perubahan rupa Yesus menegaskan kepada kita, bahwa kehidupan mulia yang dianugerahkan Allah kepada kita tak terpisahkan dari penderitaan dan kematian. Tidak ada jalan lain!

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...