Renungan Harian, Selasa: 21 Agustus, Mat. 19:23 – 30


Harta dan Hati Kita/Ilustrasi (Ist)




























Mat 19:23 Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Mat 19:24 Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

Mat 19:25 Ketika murid-murid mendengar itu, sangat gemparlah mereka dan berkata: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?”

Mat 19:26 Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.”

Mat 19:27 Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?”

Mat 19:28 Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.

Mat 19:29 Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.

Mat 19:30 Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.”


SALAH satu rencana Tuhan atas kita manusia adalah agar kita mengalami keselamatan yakni, bersatu dengan Tuhan dalam hidup abadi di Surga. Inilah yang Tuhan janjikan kepada mereka yang mengikuti-Nya. Salah satu penghalang terbesar dalam usaha untuk masuk ke dalam surga adalah harta. Harta menjadi penghalang, ketika kita melekat padanya dan kita menggantungkan harapan padanya dan bukan pada Tuhan. Harta memiliki kita dan bukan kita yang mengaturnya. Jika ini yang terjadi, maka kita akan sulit untuk mengikuti Tuhan. Memiliki harta dan menjadi kaya bukanlah suatu hal yang tidak baik. Justru seharusnya mereka yang kaya lebih mudah untuk memeroleh keselamatan , karena dengan kekayaan yang diperoleh dapat mengikuti berbagai seminar dan pendidikan, sehingga dengan demikian makin paham akan imannya dan mengerti apa yang paling penting dalam hidup ini, kemudian menghidupinya dalam hidup dengan menjadi pribadi yang baik. Seorang beriman perlu mempergunakan kekayaan sebagai sarana dan bukan tujuan hidup.


Antoni de Stefano dalam bukunya yang berjudul: “A travel guide to life” menulis demikian; “Bangunlah dari tidur! Dunia ini mengajarkan tujuan hidup yang semu.” Berbagai tulisan, artikel, buku, surat kabar, dll, memuat tentang bagaimana bahagia. Banyak orang mengejarnya seolah bahagia itu ada di suatu tempat dan kita harus ke sana dan mengambilnya, lalu menjadi milik. Tidaklah demikian. Kebahagiaan sejati ada di dalam Tuhan, sebagaimana St. Agustinus berkata: “Jiwaku tidak tenang sampai beristirahat dalam Tuhan”. Semoga kita tahu apa yang menjadi tujuan sejati hidup ini.


Tuhan Yesus, berkatilah aku agar mengusahakan Kerajaan Allah sebagai tujuan utama hidup ini; baik di dalam keluarga, komunitas, Gereja dan masyarakat. Amin.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: