Renungan Harian, Sabtu, 19 Maret 2016

Sabtu Prapaskah V

Injil: Yohanes 11:45-56

”Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita ini binasa.” Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai.

Renungan

Satu minggu sebelum perayaan paskah, orang-orang Yahudi mempunyai kesepakatan bulat bahwa Yesus harus mati. Mengapa? “Sebab orang itu membuat banyak mukjizat. Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita.”

Bait Allah di Yerusalem menjadi identitas bangsa Yahudi. Jika mereka tidak memiliki Bait Allah, keyahudian mereka tidak mempunyai arti. Maka jika Bait Allah sampai diambil alih oleh bangsa Romo, mereka kehilangan status bangsa terpilih. Maka bisa dimengerti segala daya upaya dilakukan untuk menyelamatkan Bait Allah, termasuk membayar pajak yang tinggi kepada bangsa Romawi. Bait Allah mempunyai peran selain sebagai tempat pusat rohani, namun juga pusat kebudayaan bangsa, dan sekaligus tempat untuk perputaran roda ekonomi Yerusalem. Kita masih ingat Yesus marah besar di Bait Allah dengan pedagang-pedagang yang ada di sekitar sana,

Demi menyelamatkan Bait Allah, kesepakatan bersama untuk membunuh Yesus terjadi hari ini. Kesepakatan ini mendapat inisiatifnya dari para tua-tua dah tokoh-tokoh agama. Baru kemudian kesepakatan itu menjadi kesepakatan bersama, dan bahkan menjadi kesepakatan politis. Ironis, justru -mereka yang dekat dengan Bait Allah-lah yang menjadi actor intelektual rencana pelenyapan Yesus. Mereka yang seharusnya menjadi pelopor pewartaan mesianik, justru malah menenggelamkan warta itu.

Namun dibalik kesepakatan itu, ada sebuah nubuat yang dimaksudkan untuk menyelamatkan Bait Allah, justru mempunyai makna yang jauh lebih luas. Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai.

Bagi kita, pertama, perbuatan sebaik apapun yang kita lakukan, belum tentu semua orang mampu menerima dan mengertinya. Yang paling umum terjadi adalah ada saja orang-orang yang tidak senang dengan apa yang kita lakukan. Perbuatan baik tidak jarang ditangkap berbeda, atau bahkan justru dikatakan itu sebagai perbuatan yang jahat. Maka usaha untuk menggulingkan atau bahkan usaha melenyapkan akan ditempuh dengan berbagai cara. Lalu bagaimana selanjutnya?

Tetap saja kita memperjuangkan yang baik dan benar. Ada yang menentang atau tidak suka, biarkan saja itu terjadi. Sebagai orang Kristiani, kualitas kita akan semakin tampak jika kita mampu tetap mengasihi orang-orang yang demikian. Jika kita juga membeci mereka, apa lebihnya kitas sebagai pengikut Kristus?

Kedua, apa yang dikatakan seseorang bisa menjadi sebuah nubuat, tidak hanya sekedar kata-kata kosong. Mungkin kita mengatakannya dengan tanpa sadar dan tanpa maksud yang dalam. Namun justru yang spontan sering kali mempunyai makna yang mendalam, atau dalam injil hari ini menjadi nubuat. Maka, berkata-kata dengan bijak menjadi satu-satunya pilihan supaya kata-kata kita tetap menjadi berkat bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lain. Dari mulut yang sama bisa keluar berkat, namun dari mulut yang sama bisa keluar kutuk.

Konsekuensi perbuatan benar dan baik yang kita lakukan sering kali lebih besar dari apa yang kita bayangkan. Apakah kita berhenti dan menuruti apa yang orang banyak kehendaki? Yesus mengambil sikap untuk datang ke Yerusalem, meski Ia tahu persis apa yang akan terjadi. Apakah kita akan membiarkan Yesus datang ke Yerusalem untuk menggantikan kita kesekian kalinya??

Doa

Ya Tuhan, ajarilah kami untuk mempunyai sikap teguh setia dalam mempejuangkan kebenaran dan kebaikan. Semoga kami mampu bertahan dalam segala situasi, terlebih situasi yang membuat kami tidak nyaman. Tuhan, ajarilah kami untuk mempu bertindak dengan bijaksana, agar hidup kami menjadi berkat baik bagi kami sendiri maupun bagi orang-orang yang ada di sekitar kami. Amin.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.