Jumat Agung, Menghidupi semangat Kristus/Foto Ilustrasi: Jakarta Globe


Renungan Harian, Minggu: 22 Juli 2018, Mrk. 6:30-34


Mrk 6:30Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan.

Mrk 6:31Lalu Ia berkata kepada mereka: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat.

Mrk 6:32Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi.

Mrk 6:33Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka.

Mrk 6:34Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.


Sahabat beriman terkasih. Rasanya miris jika melihat antusiasme umat untuk mencintai Gereja kian waktu kian menurun. Banyak pula keluarga yang hidup menggerejanya kurang kompak. Kegiatan menggereja tak jarang dianggap sebagai rutinitas belaka, tanpa disertai motivasi iman yang mendalam. Di titik itu kita patut bertanya “Sungguhkah kita yakin bahwa iman kekristenan ini menyediakan sebuah jalan, kebenaran, dan kehidupan  untuk keselamatan manusia?”


Kisah Injil hari ini dapat dijadikan sebuah perbandingan. Dahulu orang berbondong-bondong mencari Yesus karena ingin mendengarkan Sabda-Nya dan mendapatkan kesembuhan. Kita bisa berasumsi bahwa orang-orang yang berbondong-bondong mendatangi Yesus itu saling mengajak satu sama lain. Mereka tentu saling menginforrnasikan dan berdiskusi, sehingga terbentuk sekumpulan besar orang yang memiliki satu kerinduan yang sama yakni berjumpa dengan Yesus. Kenyataan seperti ini tidaklah muncul dewasa ini. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, banyak orang Kristen tidak lagi melihat Yesus sebagai sosok utama dalam imannya. Kedua, iman akan Yesus sudah disisipi dengan semangat individualistis, iman menjadi urusan masing-masing pribadi. Alhasil, tak mengherankan jika kini begitu jarang kita melihat suami, istri, dan anak-anak berbondong-bondong memadati bangku-bangku Gereja.


Marilah kita mengasah kepekaan dalam diri akan situasi iman dan Gereja kita, akan situasi kekristenan di sekitar. Kita tidak bisa terus menerus tinggal diam. Kita harus keluar dan mengajak orang-orang, minimal keluarga hita sendiri, untuk menjumpai keselamatan di dalam Yesus.


Ya Allah, mampukanlah aku menjadi penggerak bagi orang-orang cli sekitar, agar secara bersama-sama berusah untuk berjumpa dengan Yesus Kristus Putra-Mu. Amin.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.