Renungan Harian, Minggu 20 Maret 2016

Minggu Palma

Injil: Filipi 2:1-11 (TB)

Nasihat supaya bersatu dan merendahkan diri seperti Kristus

2:1 Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, 2:2 karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, 2:3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; 2:4 dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. 2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, 2:6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. 2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. 2:9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, 2:10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, 2:11 dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Renungan

Hari ini Gereja mengenangkan Yesus yang diarak menggunakan daun-daun palma. Di satu sisi ada banyak orang yang percaya bahwa Yesus adalah Mesias yang datang. Namun di sisi lain ada banyak juga orang yang sudah sepakat untuk membunuh Yesus. Peristiwa ironis dimana Yesus dielu-elukan dan tidak lama kemudian, mungkin juga orang yang sama yang mengelu-elukan Dia, berbalik berteriak “salibkan Dia”.

Salib yang sudah sekian lama menjadi symbol kematian, namun kini justru menjadi symbol kehidupan. Yesus yang disalib mengbuah wajah kematian kepada wajah kehidupan. Salib yang tadinya menjadi tempat perendahan, justru kini menjadi tempat peninggian Putera Tunggal Bapa. Di saliblah tergantung harapan dan sumber keselamatan yang memberi jaminan kepada kita. Darah-Nya menjadi korban yang menebus dosa dan kesalahan manusia. Yesus berkurban sekali untuk selamanya demi keselamatan kita yang percaya kepada-Nya.

Kasih Bapa kepada manusia mendapat kepenuhannya dalam diri Yesus yang sengsara, wafat dan dimakamkan demi keselamatan manusia. Sebuah logika terbalik bahwa justru Allah-lah yang datang kepada manusia. Mengapa demikian? Karena manusia pada dasarnya sudah tidak dapat lagi berkomunikasi dengan Allah karena maut yang memutuskan hubungan manusia dengan Allah. Manusia berdosa tidak mampu lagi untuk kembali kepada Allah oleh karena keadaannya yang jauh dari Allah. Hanya Allahlah yang mampu memulihkan hubungan manusia dengan-Nya. Hanya Allah lah yang memampukan manusia berdosa untuk menjalin relasi kasih kembali dengan-Nya. Dosa dan keberdosaan manusia memutuskan hubungan manusia dengan Allah. Situasi dosa menjadikan manusia sejatinya tidak mampu berhadapan dengan yang Ilahi.

Allah yang adalah kasih sepenuhnya mengambil inisiatif untuk datang dan menyelamatkan manusia. Keselamatan manusia tidak mungkin terjadi jika Allah tidak datang dan memulihkan hubungan manusia dengan-Nya. Dalam sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus, hidup dan hubungan manusia dipulihkan kembali. Manusia diangkat kembali kepada martabat anak-anak Allah.

Kita bersyukur beriman pada Allah yang demikian, Allah yang tidak membiarkan umat-Nya tetap dalam situasi maut. Kita bersyukur karena Allah berkenan menggunakan bahasa manusiawi yang mampu kita mengerti, yakni pengorbanan untuk menebus dosa-dosa kita. Allah Bapa mengutus Putera tunggal-Nya untuk menebus kita dari maut. Yesus Kristus berkenan membangun solidaritas manusia dengan merendahkan diri turun ke dunia.

Kidung Paulus dalam surat kepada jemaat Piliphi menjadi madah Kristus yang sangat indah, tidak hanya secara kesusastraan, namun dibalik itu madah Kristus menunjukkan Yesus yang berkorban habis-habisan demi manusia. Cinta-Nya kepada manusia bukan sekedar cinta biasa, bukan sekedar cinta monyet, bukan sekedar cinta membalas yang baik. Cinta Yesus adalah cinta yang total, cinta yang membalas yang jahat dengan yang baik. Solidaritas kepada manusia menjadi wujud konkret kehadiran Yesus, meskipun Ia adalah Putera Allah yang kudus.

Maka bagi kita, solidaritas manusiwai Kristus hendaknya juga menjadi bagian hidup kita. Beriman kepada Kristus tidak cukup setiap hari mengucapkan syahadat para rasul. Mengikuti Yesus tidak cukup hanya banyak berdoa dan mengikuti perayaan Ekaristi. Menjadi murid Yesus berarti selain mengakui iman yang sama dengan para rasul, diperlukan tindakan solidaritas pada sesama manusia yang ada di sekitar kita. Kristus yang adalah Tuhan namun rela menjadi sangat rendah, apalagi kita sebagai sesama manusia harus berani dan mampu untuk saling bersolider dan membangun kehidupan beriman bersama.

Tanda paling nyata jika kita mengaku sebagai murid Kristus adalah jika kita mampu sampai pada sikap solider pada sesama kita, yakni kita tidak acuh tak acuh atas situasi kondisi sesama yang memerlukan pertolongan. Allah kita adalah Allah yang peduli, sampai Ia mabuk cinta dan lupa diri dengan menjelma menjadi manusia. Itulah jalan keselamatan yang ditawarkan oleh Bapa pada kita.

Doa

Allah Bapa di surga, kami bersyukur atas rahmat keselamatan yang Engkau limpahkan kepada kami. Mampukan kami untuk sedikit mengerti akan jalan keselamatan yang Engkau tawarkan. Semoga kami mampu membangun sikap rendah hati dan cinta akan kehidupan sesama kami. Semoga kasih hati Putera-Mu memampukan kami untuk bertindak secara Kristiani di dalam hidup kami. Tuhan, ampunilah kami orang berdosa ini. Amin.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: