Renungan Adorasi, Jumat 8 Agustus 2014: Kuatkan Punggungku untuk Memikul Salib

dominic-de-guzman

PERAYAAN Wajib  St. Dominikus, Imam

Nahum 1:15; 2:2; 3:1-3, 6-7; Ul 32:35cd-36ab.39abcd.41; Matius 16:24-28

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Matius 16:26)

Kalau kita ditanya, “Apa yang paling berharga dalam hidupmu?” kira-kira jawaban kita apa ya?

Yesus memberikan firman yang menantang. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Mat 16:24-25).

Apa yang paling menguntungkan kita dan kita cari selama ini? Apa yang menjadi pilihan-pilihan kita dalam mengarungi kehidupan ini? Apakah yang kita cari dan pilihan-pilihan kita itu membawa kita kian dekat dengan Kristus? Atau kian menjauhkan kita dari pada-Nya?

Diri pribadi kita ditentukan oleh orientasi hidup kita. Pilihan-pilihan itu akan menentukan masa depan hidup kita pula. Kedalaman hidup kita pun ditentukan oleh keputusan kita untuk menjatuhkan pilihan yang terbaik bagi hidup kita.

Apa yang mau kita cari? Kefanaan? Kesia-siaan? Kenistaan? Atau sebaliknya: kebahagiaan, kepenuhan dan kehidupan?

Yesus menunjukkan konsekuensi bila kita mau mengikuti Dia. Dan itu berat secara logika manusiawi; memikul salib dan kehilangan nyawa demi Dia! Wow! Kehilangan nyawa demi Dia?

Memang, itu tak berarti bahwa kita harus mati. Memanggul salib dan kehilangan nyawa demi Kristus adalah ungkapan komitmen dan sikap totalitas dalam mengimani Kristus.

Di tengah arus hidup suka mencari mudah dan gampang, sabda ini tak mudah diterima. Masih adakah di antara kita yang mau kehilangan nyawa demi Dia? Tak perlu sampai mati, namun kerelaan untuk hadir menjumpai-Nya atau membiarkan diri dijumpai-Nya, ini sudah tanda bahwa kita berkomitmen untuk mengikuti Yesus dengan setia.

Murid Kristus sejati akan rela memberikan segalanya dengan rela dan sukacita. Salib yang kita pikul dengan setia akan berbuah kebangkitan dan kemenangan.

Saya selalu mengagumi umat yang dengan setia bertekun dalam Adorasi Ekaristi Abadi. Terutama mereka yang mau mengisi saat-saat kosong di jam-jam yang sulit demi keberlangsungan gerakan Adorasi Ekaristi Abadi. Ada yang harus tidur larut malam atau bangun dini hari untuk kemudian sujud menyembah Kristus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus dengan Adorasi Ekaristi Abadi.

Bagiku, dalam arti tertentu, mereka rela “memanggul salib dan kehilangan nyawa” demi Yesus. Maka aku yakin – seperti diajarkan oleh Gereja Katolik – bahwa mereka akan menerima berkat berlipat-lipat bukan hanya bagi mereka tapi juga siapa saja di seluas dunia ini.

Ambillah ya Tuhan, kemerdekaanku dan kehendakku. Seluruh hidupku kupersembahkan kepada-Mu. Hanya rahmat-Mu saja yang kumohon agar Engkau menguatkan punggungku untuk memikul salib dari-Mu. Jangan ringankan salibku, tapi kuatkan punggungku untuk setia memikul salibku dan berjalan bersama-Mu menuju kehidupan abadi, selamanya. Amin.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: