Renungan Adorasi Harian: Berbahagialah yang Berlindung Pada-Nya

Jurong Bird Park of Singapore pelikan by RYI OK

Minggu, 03 Agustus 2014, Hari Minggu Biasa XVIII
Yesaya 55:1-3; Mzm 145:8-9.15-16.17-18; Roma 8:35.37-39; Matius 14:13-21

“Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya.” (Mazmur 34:8)

DARI ayat inilah, refren Mazmur Tanggapan hari Minggu Biasa XVIII kita peroleh: Kecaplah betapa sedapnya Tuhan. Kecaplah betapa sedapnya Tuhan!

Mazmur 34:8 menjadi penghubung warta gembira bacaan-bacaan yang disampaikan kepada kita. Bacaan pertama dari kitab nabi Yesaya berupa undangan agar kita menjadi “romantis”, rombongan makan minum gratis.

Itulah yang diserukan Nabi Yesaya. “Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, jugaanggur dan susu tanpa bayaran!” (Yesaya 55:1). Di hadapan Tuhan, kita diundang untuk hidup sebagai orang-orang “romantis”.

Hal yang sama juga diwartakan dalam Injil, saat Yesus memberi makan minimal 5000 orang laki-laki, belum terhitung anak-anak dan perempuan. Yesus penuh kasih dan perhatian (sebentuk sikap romantis asali). Hati-Nya tergerak oleh belas kasihan kepada mereka. Yang sakit disembuhkan. Yang lapas dikenyangkan.

Yesus menggandakan lima roti dan dua ikan untuk memberi makan mereka semua tanpa bayar. Benar-benar “romantis”.

“Romantis” duniawi (perut kenyang oleh makanan dan minuman) dilandasi oleh “romantis” surgawi (Yesus tergerak oleh belas kasihan). Romantisme surgawi hati Yesus yang berbelarasa berbelas kasih mewujud dalam romantisme duniawi berupa mujizat penggandaan roti yang mengenyangkan secara manusiawi.

Romantisme itu masih terus dihayati dalam tradisi Gereja Katolik melalui Perayaan Ekaristi. Dalam Perayaan Ekaristi, umat diundang untuk ambil bagian tak hanya dengan menerima roti dan minuman duniawi, tetap menerima anugerah Santapan dan Minuman surgawi berupa Roti dan Anggur Ekaristi sebagai Tubuh dan Darah-Nya, yang diserahkan bagi kita.

Itulah penggenapan dari Mazmur 34:8 “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan itu! (Kecaplah betapa sedapnya Tuhan!) Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!”

Ekaristi Suci tak hanya menjadi bukti pemenuhan Mamzur 34:8 melainkan kenangan akan penggenapan Tuhan sendiri yang mewariskan kepada kita

Itulah penggenapan dari Mazmur 34:8 : “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan itu! (Kecaplah betapa sedapnya Tuhan!) Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!”

Ekaristi Suci tak hanya menjadi bukti pemenuhan Mamzur 34:8 melainkan kenangan akan penggenapan Tuhan sendiri yang mewariskan kepada kita Perjamuan-Nya ketika Yesus Kristus dengan penuh kasih menyerahkan Tubuh dan Darah-Nya sebagai santapan dan minuman kita, agar kita memperoleh perlindungan keselamatan dari-Nya. Maka, berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya.

Apakah aneh bahwa Yesus menyerahkan Tubuh dan Darah-Nya sebagai santapan dan minuman bagi kita? Tidak.  Bahkan seekor Burung Pellikan pun melakukan hal itu. Burung Pellikan adalah burung yang istimewa, sebab di saat tantangan dan kesulitan mencekam, demi anak-anaknya tetap hidup, ia akan mematuk dadanya sendiri. Dari sana darahnya akan tercurah dan serpihan dagingnya tumpah untuk memberi minum dan makan bagi anak-anaknya.

Dalam tradisi rohani dan teologi, juga dalam tradisi suci, Yesus Kristus disebut dengan gelar “Sang Burung Pelikan Yang Saleh” (= Pie Pellicane).

Mgr. Johannes Pujasumarta, Uskup Agung Semarang membuat lagu dengan syair yang bagus terinspirasi oleh tradisi suci ini.

“Pie Pellicane, Iesu Domine.
Me immundum munda Tuo sanguine.
Cuius una stilla salvum facere,
totum mundum quit ab omni scelere.

Burung Pellikan, Yesus Kristus Tuhan.
Dengan darah-Mu, bersihkanlah aku.
Setetes darah-Mu, selamatkanlah
seluruh muka bumi, dari dosa…”

Ekaristi Suci menjadi kenangan romantis ilahi dan surgawi kasih Yesus Kristus yang dilimpahkan kepada kita. Itulah yang dalam sepanjang sejarah Gereja menjadi daya kekuatan dan perlindungan juga di saat penganiayaan. Maka, seperti yang diserukan dalam bacaan kedua, tak ada sesuatu pun yang bisa memisahkan kita dari Tuhan, sebab Kristus menjadi daya perlindungan dan kekuatan melalui Ekaristi Suci. Kecaplah betapa sedapnya Tuhan. Berbahagialah yang berlindung kepada-Nya!

Kita semakin berbahagia sebab sepanjang waktu tanpa henti, terus-menerus, kita boleh berlindung pada-Nya melalui Adorasi Ekaristi Abadi. Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kita menikmati betapa sedapnya Tuhan, bukan dengan lidah manusiawi, melainkan dengan mata jiwa rohani. Itulah yang menjadi kekuatan dan daya perlindungan kita.

Tuhan Yesus Kristus, berkatilah umat-Mu yang sedang dianiaya. Engkaulah perlindungan kami, melalui Ekaristi Suci. Berbahagialah orang yang berlindung pada-Mu, kini dan sepanjang masa. Amin.

Kredit foto: Kerumunan burung pelikan di Jurong’s Birds Park of Singapore (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.