Renungan Adorasi Ekaristi: Yesus Lipatgandakan Berkat, Kita pun Berbagi Berkat

jean-marie-vianney-a-priests-priest-300x255

SENIN, 4 Agustus 2014
Perayaan Wajib St. Yohanes Maria Vianney
Yeremia 28:1-17; Mazmur 119:29, 43,79,80, 95,102; Matius 14:13-21

“Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak.” (Matius 14:19)

Bacaan Injil hari ini persis sama dengan bacaan Injil kemarin. Namun, saat membacanya, saya mengalami sentuhan lain yang menggema di jiwa saya.

Sikap Yesus amat menyentuh hatiku. Ia tak kenal rasa capek! Mungkin ada rasa capek, sehingga hendak menyendiri di tempat yang sunyi dan beristirahat. Namun, Ketika Yesus hendak beristirahat dalam keheningan di tempat yang sunyi, orang banyak sudah menanti!

Yang menyentuh hatiku adalah bahwa reaksi Yesus tetap positif. Meski capek dan ingin beristirahat, begitu melihat orang banyak itu, lebih dari 5.000 orang (laki-laki, belum terhitung yang perempuan dan anak-anak) menunggu kedatangan-Nya, Yesus tetap terbuka melayani mereka.

Rencana untuk istirahat, hening dan berdoa pun batal! Yesus tidak menolak apalagi mengusir mereka. Dengan hati yang penuh belas kasih, Yesus tetap menyambut mereka.

Yesus mengutamakan kepentingan mereka di atas segalanya. Hati-Nya pun tergerak oleh belas kasihan. Belas kasih ini adalah kedalaman belas kasih Allah sendiri. Belas kasih itu diwujudkan dalam bentuk konkret: menyembuhkan yang sakit dan memberi makan mereka. Penyembuhan fisik maupun psikis, sosial maupun spiritual.

Yesus memberi makan lebih dari 5.000 orang dengan mujizat penggandaan lima roti dan dua ikan. Bahkan masih sisa dua belas keranjang.

Mujizat penggandaan roti ini merupakan antisipasi makanan rohani yang disiapkan Yesus bagi kita para murid-Nya, yakni Roti Ekaristi Suci. Di kemudian hari bahkan hingga hari ini dan selama-lamanya, kita mendapat warisan Perayaan Ekaristi yang merupakan santapan jiwa dan raga kita.

Mujizat Ekaristi terjadi setiap hari tanda penggandaan rahmat berkat, bukan hanya bagi 5.000 orang lebih, melainkan bagi jutaan bahkan milyaran umat katolik yang merayakan ekaristi. Ekaristi Suci adalah santapan rohani yang disediakan Yesus bagi kita para murid-Nya.

Bahkan, Yesus sendiri bersabda, “Akulah roti hidup yang turun dari surga” (Yoh 6:35). Yesus adalah Roti Surgawi yang memuaskan kelaparan dan kerinduan setiap orang yang percaya kepada-Nya. Dalam Ekaristi Suci, Yesus memberikan santapan yang lebih dari yang kita butuhkan, bukan sekadar santapan raga melainkan santapan jiwa.

Yesus, Sang Roti Surgawi hadir sepanjang waktu terus-menerus dalam Adorasi Ekaristi Abadi. Gerakan Adorasi Ekaristi Abadi merupakan gerakan berbagi berkat bersumber dari Ekaristi. Memang, berkat yang dibagikan tidak serta merta dalam bentuk barang dan materi melainkan dalam bentuk doa, permohonan dan syukur demi kasih, keadilan, perdamaian dan kesejahteraan rohani.

Hasilnya juga tidak langsung bisa dilihat dengan mata. Namun, seperti yang diajarkan oleh Paus Paulus VI, setiap doa kita di hadapan Sakramen Mahakudus, akan selalu menjadi kasih sosial bagi setiap orang di seluruh dunia. Hal yang sama juga diimani oleh Santo Johannes Paulus II.

Tuhan Yesus Kristus, Engkau memuaskan kerinduan, kehausan dan kelaparan kami akan kasih surgawi. Penuhilah kami dengan rahmat-Mu agar kami mampu pula berbagi berkat dan belas kasih kepada sesama, kini dan selamanya. Amin.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: