Relasi dan Komunikasi

MENDENGAR homili Romo Yohanes Deddy Setyawan Pr di ruang Thomas Aquinas tadi malam pukul  20.00 WIB pada kesempatan misa syukur perkawinan dan ultah sahabatku Mbak Ester dan Mas Heri, ada yang yang sangat mengesankan di hatiku. Yakni, omomgan tentang  relasi dan komunikasi.

Pertanyaannya adalah apakah kita hanya menggunakan relasi dan komunikasi itu sebagai basa-basi semata? Apakah kalau kita bertegur sapa itu sekedar rutinitas tanpa jiwa? Jadi, menyapa, menyentuh tanpa ada perasaaan dan emosi jiwa yang terlibat di dalamnya?

Dengan jiwa dan emosi hati

Jika kita menggunakan perasaan dan hati tentu di sini kita bisa sama-sama menemukan “alur setrum” yang mengalirkan suasana terbuka. Merasa saling diperhatikan dan saling ada keterikatan. Jadi ada semacam semangat ‘kesalingan’ dimana sedih atau gembira bisa menjadi ikatan emosional yang mengikat dua pribadi manusia.

Selanjutnya, cinta kasih manusia sekarang ini terlalu banyak ‘persyaratannya’.

Aku mencintai kamu, kalau …..  Aku akan memperhatikan dirimu, hanya apabila…. Jika tidak sesuai dengan kehendak diri karena sesuatu hal, maka dengan sendirinya akan terjadi begini atau begitu …Jadi, good bye dan tak ada kewajiban emosional harus memperhatikan orang lagi.

Begitu besar cinta seorang manusia untuk dirinya sendiri, sehingga yang dilakukan terfokus untuk diri sendiri: kesenangan diri, kenyamanan diri, bahkan untuk keuntungan diri sendiri.

Pernahkah kita manusia yang rapuh, yang lemah, yang memiliki begitu banyak kekurangan merasakan cinta kasih Tuhan yang begitu besar dan tak terbatas?

Tuhan telah memberi contoh melalui hidupNya sendiri. Ia lebih suka melayani daripada dilayani; mengasihi daripada dikasihi; memberi daripada diberi, mengampuni dan memaafkan daripada menyimpan dendam.

Yang terjadi adalah kebalikannya yang dilakukan oleh hampir semua manusia.

Sebagai manusia, kita sering kali menaruh berbaga persyaratan manakala membina relasi antarpribadi.  Aku akan mencintaimu jika kamu….. Aku akan memperhatikanmu apabila kamu…

Semua maunya diperhatikan , dilayani, dikasihi. Ego diri ternyata lebih dominan di dalam setiap manusia.

Bukan suatu hal yang mudah untuk kita bisa berubah menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya.  Berjuang melawan diri sendiri yang negatif itulah satu kata yang hendaknya bisa terpatri dalam diri.

Bagaimana kita bisa berlaku melayani, mengasihi, memaafkan dan mengampuni dengan sungguh? Itu bisa kita lakukan kalau kita mau bersandar pada Tuhan dan membiarkan kuasa Roh KudusNya menguasai kita.  Ini agar kita dibuat menjadi lebih  mampu dan bisa menjadi lebih baik agar kita bisa menanggalkan semua atribut-atribut cinta diri yang terlalu berlebihan.

Biarlah kesabaran dan kerendahan hati dalam diri kita bisa bertumbuh, mengakar, hidup dan dewasa. Tanggalkan semua kekanak-kanakkan dan marilah kita lepaskan cinta diri yang berlebihan.

Sehingga akhirnya kita manusia bisa merasakan cinta kasih Tuhan yang tiada berkesudahan mengalir di dalam diri kita. Cinta kasih Tuhan bisa merubah manusia yang sombong menjadi lebih baik. Amin.

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: