Rasa Cukup

Ayat bacaan: Ulangan 16:16
====================
“Beginilah perintah TUHAN: Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa.”

Seorang teman saya menceritakan pengalamannya ketika harus dinas di Jakarta untuk beberapa hari. “Saya tidak tahan melihat kehidupan hedonisme mereka. Mereka mengeluarkan beberapa juta rupiah hanya untuk bersenang-senang di klab malam dalam hitungan jam.” katanya. Itu bukan hanya dianut oleh banyak orang berada di ibukota saja, tapi sudah menjadi gaya hidup bagi penduduk kota besar lainnya. Kata hedonisme yang ia katakan berasal dari bahasa Yunani yang merupakan pandangan atau ajaran  untuk mengejar kesenangan atau kenikmatan sebanyak mungkin, dan itu merupakan tujuan hidup manusia. Jika demikian, semakin lama semakin sulitlah manusia untuk bisa merasa cukup dengan apa yang mereka miliki saat ini. Dalam segala hal kita sepertinya terus diarahkan untuk menjadi masyarakat yang konsumtif. Kebutuhan tidak akan ada habisnya, terutama untuk hal-hal yang sebenarnya tidaklah esensial atau penting-penting benar, melainkan hanya untuk gengsi atau agar terlihat hebat di mata orang lain saja. Ada begitu banyak kebutuhan yang tiba-tiba dianggap sangat penting untuk dimiliki, tidak bisa tidak karena alasan tersebut. Selalu saja ada barang-barang atau gadget yang rasanya harus kita miliki atau kalau tidak maka kita pun malu dianggap ketinggalan jaman atau takut dianggap orang miskin. Orang cenderung merasa tidak puas dengan apa yang mereka miliki, selalu ingin lebih dan lebih lagi, sering iri melihat apa yang dimiliki oleh orang lain, bahkan tidak sedikit yang malah mencari kambing hitam dengan menuduh Tuhan pilih kasih atau tidak adil. Mudah bagi kita untuk menginginkan lebih banyak tetapi sulit bagi kita untuk merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini.

Tuhan tidak menginginkan kita memiliki pola pikir seperti itu. Tuhan ingin kita tahu berterimakasih dan bersyukur atas apa yang kita punya saat ini. Tuhan ingin kita memiliki rasa cukup atas apa yang ada pada kita hari ini, dan kemudian mengucap syukur atasnya. Tidak dipungkiri akan ada kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi kedepannya, tetapi itu bukan berarti kita harus terus-terusan merasa kurang, tidak puas lalu mengeluh atau bahkan mencari alternatif-alternatif agar kita bisa mendapatkan lebih dan lebih banyak lagi uang lewat banyak cara yang salah.

Perbandingan langsung antara cukup dan tamak bisa kita lihat lewat kisah bangsa Israel pada masa pengembaraan mereka dibawah pimpinan Musa menuju tanah ternjanji, Kanaan. Bangsa Israel saat itu terkenalsebagai bangsa keras kepala, tegar tengkuk yang selalu sulit untuk bersyukur atas berkat yang sudah turun atas mereka. Meskipun sudah berkali-kali mereka menyaksikan langsung penyertaan dan mukjizat Tuhan turun atas mereka, tetapi mereka tetap saja bersungut-sungut dan terus menuntut lebih dan lebih lagi. Mereka adalah bangsa yang cepat dalam mengekspresikan kegembiraan mereka ketika menerima mukjizat Tuhan, tapi secepat itu pula mereka berbalik mengeluh dan menyalahkan orang lain atau bahkan berani menunjukkan protes mereka kepada Tuhan. Hari ini bersukacita besok mereka sudah melupakan semua berkat itu dan kembali mengeluh tak habis-habisnya.

Salah satu contoh mengenai hal ini bisa kita lihat dalam Keluaran 16:1-36. Pada bagian ini diceritakan ketika bangsa Israel berangkat dari Elim dan tiba di padang gurun Sin yang terjadi kira-kira setelah mereka menempuh satu setengah bulan perjalanan. Karena kelaparan dan mungkin bekal mereka habis, mulailah mereka mengeluh dan berkata “Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan.” (ay 3). Tuhan yang mengasihi mereka lalu menjawab permintaan mereka dengan mengirimkan hujan roti dari langit. Tapi Tuhan memberikan pesan lewat Musa tentang bagaimana mereka seharusnya menyikapi pemberian itu. “Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak.” (ay 4). Lihatlah sebuah pesan penting yang ada dalam ayat ini. Meski Tuhan mengabulkan permintaan mereka, namun Tuhan berpesan agar mereka memungut secukupnya saja. Tapi memang dasarnya tamak, ternyata mereka masih juga merasa belum cukup. Tuhan pun kembali menurunkan burung puyuh sampai menutupi perkemahan mereka. (ay 13). Dan kembali Tuhan memberi pesan: “Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa.” (ay 16). Segomer itu ukurannya kira-kira dua liter. Segomer seorang, itu sebenarnya sudah lebih dari cukup. Dari kisah ini kita bisa memetik pelajaran bahwa meski Tuhan lebih dari sekedar sanggup memberkati kita secara berkelimpahan, tetapi kita tidak boleh terjebak kepada nafsu ketamakan. Hidup sederhana atau secukupnya tetaplah merupakan gaya hidup yang diinginkan Tuhan untuk dimiliki dan diaplikasikan dalam hidup anak-anakNya.

Dalam kisah turunnya hujan roti dan burung puyuh di atas kita melihat dua kali pesan Tuhan berbunyi sama, agar mereka mengambil secukupnya saja. Tuhan ingin berkata: “Meskipun Aku sanggup memberkati kalian secara berkelimpahan, tetapi hiduplah sederhana!” Jika hari ini ada diantara anda yang merasa masih hidup dalam kekurangan, ingatlah bahwa sesungguhnya Tuhan telah memberikan segala sesuatu di muka bumi ini secara cukup untuk kita olah, manfaatkan dan maksimalkan. Kita harus terus belajar untuk hidup dengan rasa cukup dan tidak perlu harus ikut-ikutan hidup mewah seperti mereka yang mengaplikasikan gaya hidup hedonisme. Lalu jika anda sanggup, ingatlah bahwa anda diminta untuk tetap hidup sederhana. Harta sesungguhnya merupakan titipan Tuhan yang tetap harus dipertanggungjawabkan kelak. Tuhan memberkati kita agar kita bisa memberkati orang lain. Tuhan menolong kita agar kita bisa menolong orang lain.

Seperti apa yang dikatakan ‘cukup’ oleh firman Tuhan? Di dalam Alkitab itu sudah disebutkan. “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” (1 Timotius 6:8). Dan ingatlah firman berikut: “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.” (ay 6). Mudah bagi kita untuk terus merasa tidak puas, tapi seringkali sulit bagi kita untuk bersyukur. Tuhan pasti sanggup memberkati kita berlimpah-limpah, tetapi sangatlah penting bagi kita untuk belajar bersyukur terlebih dahulu atas apa yang ada pada kita hari ini. Apapun yang ada pada diri anda hari ini, besar atau kecil, bersyukurlah dan bergembiralah atasnya.

Hidup sederhana merupakan gaya hidup yang harus dimiliki orang percaya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.