Ranjau di Kamboja: Korban Ranjau Melihat Penderitaanya (4)

Mines 3

Bagaimana para korban ranjau melihat penderitaanya? Saya pernah ngobrol dengan para kurban ranjau yang masih hidup. Bagi mereka, dunia tampak begitu gelap setelah menginjak ranjau. Mereka tidak tahu lagi apa yang akan dilakukan. Mereka telah kehilangan harapan karena kekuatan untuk bekerja sudah direnggut.

Namun ketika melihat ada banyak tetangganya yang juga cacat, mereka tidak mau lama tenggelam dalam nasibnya. Tidak ada gunanya terus menerus merenungi kemalangan nasibnya. Mereka harus tetap bekerja untuk mencari nafkah.

Tak dapat dipungkiri ada juga yang begitu tertekan dengan peristiwa itu dan kehilangan harapan. Akibatnya, mereka sudah tidak semangat apa-apa dan selalu minta dilayani. Hidupnya digantungkan kepada orang lain. Ia sudah kehilangan motivasi hidup. Kendati cukup banyak yang menerima penderitaan, tak dapat disangkal bahwa kecacatan tetap menjadi penghambat kehidupan. Kaki dan tangan yang diamputasi, mata yang buta karena pecahan ranjau, praktis mengurangi kelincahan kerja.

Selain itu, pecahan ranjau yang masih bersarang di tubuh dapat menyebabkan infeksi. Rumah sakit yang umumnya masih sederhana tidak mampu mengambil seluruh pecahan ranjau yang bersarang di seluruh anggota badan. Tidak heran bila setelah sekian lama diamputasi, mereka seringkali masih merasa meriang dan demam karena infeksi.

Jelaslah bahwa ranjau telah menciptakan budaya kebencian yang pada akhirnya menciptakan penderitaan, kemiskinan dan ketidakadilan. Para produsen ranjau mungkin hanya memikirkan bisnis. Para tentara pemakai ranjau mungkin hanya berpikir mengenai perang dan masalah keamanan. Namun demikian, begitu senjata yang mematikan tercipta, orang seakan-akan mendapat fasilitas untuk menyalurkan kebencian. Ketika orang diberi fasilitas untuk membenci dan menghancurkan, runtuhlah sendi-sendi indah kemanusiaan.

 

Kampanye Anti Ranjau Masih Tetap Berjalan

Hok So, Nou Savoern, Tep Sokhum, Son Phat dan beribu-ribu orang Kamboja korban ranjau telah menjadi saksi semuanya itu. Pembangunan kembali sendi-sendi kemanusiaan yang telah hancur akibat ranjau itu sudah mulai dilakukan, namun jelas bahwa usaha itu masih memerlukan waktu yang panjang. Sampai sekarang para deminer (para pengambil ranjau) telah mendeteksi dan mengambil ranjau, para dokter dan pembuat organ tubuh palsu telah bekerja untuk menolong para korban baru, dan para sukarelawan untuk rural development telah memberi perhatian khusus kepada orang cacat korban ranjau.

Selain itu, kampanya anti produksi ranjau begitu gencar dan mencapai puncaknya dengan ratifikasi undang-undang pelarangan produksi, penyimpanan dan penggunaan ranjau di Ottawa, Kanada bulan Desember 1997 yang lalu. Namun ternyata usaha itu masih belum cukup.

Mines Advisory Group (MAG) Kamboja, www.maginternational.org, baru-baru ini melaporkan bahwa masih ada 200 juga ranjau di gudang, dan lebih banyak lagi ditanam di areal seluas total 3000 Km2 di seluruh dunia. Sepertiganya, sekitar 945 Km2 berada di Kamboja.

Dilaporkan bahwa 19,660 orang Kamboja telah kehilangan nyawa karena ranjau dan senjata yang lain sejak tahun 1979. Sebanyak 40,000 orang cacat dan kehilangan anggota tubuhnya. Kamboja menjadi salah satu penduduk di dunia dengan jumlah terbanyak rata-rata orang cacat per Kapita.

Ketika kesepakatan Ottawa diteken, di Kamboja diperkirakan masih menyimpan 10 juta ranjau. Pada saat itu dinyatakan bahwa Kamboja akan sudah bebas ranjau pada tahun 2009. Tenggat waktu dimundurkan menjadi 2020. Namun demikian, dari data demining rata-rata saat ini, tugas ini diperkirakan masih membutuhkan waktu 25 tahun lagi.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.