Ranjau di Kamboja: Siapa pun Bisa Memasang Ranjau (3)

Déminage. CMAC.

Tidak hanya menewaskan, ranjau dapat menghilangkan anggota badan. Ranjau juga menimbulkan kemiskinan dan ketakutan. Ranjau telah membunuh harapan dan masa depan. Sebelum bulan Agustus 1996, saat Khmer Merah menyerah ke tangan pemerintah, kota Battambang menjadi markas tentara pemerintah. Sedangkan kota Pailin, terletak kurang lebih 90 Km arah barat Battambang, menjadi markas tentara Khmer merah. Kedua kubu ini saling berebut daerah sekitar kedua kota ini.

Kalau salah satu pihak menguasai areal tertentu, mereka berusaha mempertahankan dengan memasang “pagar ranjau. Peta perebutan areal/daerah ini kerap berubah sehingga semakin banyak ranjau tertanam. Yang lebih mengerikan, mereka sering lupa dimana mereka memasang ranjau. Kalaupun ingat, kadang mereka lupa mencabutnya. Maka, areal yang tertanam ranjau semakin merajalela.

Pasang memasang ranjau tidak hanya dilakukan para tentara yang sedang berperang. Oleh karena ranjau relatif mudah diperoleh, para penduduk sipilpun dapat memasangnya untuk berbagai kepentingan pribadi, misalnya untuk melindungi tanah miliknya, rumahnya, atau juga desanya. Bahkan, ada beberapa orang yang bisa merakit ranjau buatan sendiri. Situasi semacam ini telah menimbulkan ketakutan, tidak hanya ketika perang masih berlangsung, tetapi juga setelah perang berakhir.

“Budaya” tanam menanam ranjau telah menimbulkan ketakutan bagi masyarakat sendiri. Ada tertanam banyak ranjau tetapi mereka tidak tahu dimana letak ranjau-ranjau itu. Sawah subur, hutan, dan ladang, tidak bisa diolah karena mereka takut akan ranjau. Maka, merekapun menjadi miskin karena kesempatan untuk mengolah alam menjadi semakin terbatas. Harapan dan masa depan semakin dibunuh oleh kekuatan ranjau yang bersembunyi di balik hutan, sawah, dan ladang yang subur.

 

Keadaan Sudah Berubah

Saat ini situasi relatif berubah. Kendati masih banyak ranjau tertanam, tampaknya penanaman ranjau baru sudah berkurang. Ini karena perang telah berakhir lebih dari lima belas tahun yang lalu. Kenyataan bahwa Kamboja sudah mampu mengekspor beras menunjukkan bahwa kesempatan mengolah sawah tidak lagi terbatas karena ranjau.

Pertengahan tahun 2012 yang lalu, di sela-sela pertemuan ke-44 Menteri-Menteri Ekonomi ASEAN di Siem Reap, Pemerintah Indonesia menandatangani kesepakatan membeli beras dari Kamboja dengan volume 100.000 ton per tahun untuk jangka waktu lima tahun ke depan. Sebaliknya, Kamboja akan mengimpor pupuk dan peralatan pertanian seperti traktor dan mesin penggiling gabah dari Indonesia.

Kamboja memproduksi 8,25 juta ton beras tahun 2011. Pada tahun 2012, Kamboja mentargetkan eskpor beras sebanyak 180.000 ton, dan sampai dengan 2015 Kamboja mematok target ekspor beras sedikitnya 1 juta ton. Kenyataan di atas merupakan sebuah kemajuan besar, sebuah hal yang tidak pernah saya bayangkan 16 tahun yang lalu.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.