Raja Kuasa atau Raja Damai?

PalmSunday2014

PERARAKAN

Yesus masuk kota Yerusalem disambut sebagai keturunan Raja Daud. Yesus di sambut juga seperti Raja Kuasa yang datang dalam pawai kemenangan. Biasanya Raja yang memang perang, masuk kota naik kuda perangnya, dibelakangnya barisan pasukan elitenya, barang jarahan, para tawanan dan tentara sisanya. Tetapi Yesus tidak datang sebagai Raja Kuasa. Penampilannya malah sebaliknya. Yesus datang naik keledai, binatang tunggangan yang tidak gagah. Bangsa Israel mengharapkan kedatangan Raja Politik yang membebaskan mereka dari tangan penjajah. Yang ditawarkan Yesus adalah kedatangannya sebagai Raja Damai yang kebesarannya ada dalam kasih dan pengurbanan diriNya bagi manusia. Nampaknya rakyat banyak, bahkan para murid juga tidak menyadari ketidak nyambungan sambutan mereka dengan penampilan Yesus. Mereka berharap mendapat orang yang sesuai keinginan mereka. Tetapi yang ditawarkan Yesus adalah jalan keselamatan dan damai: berjalan setia mengikuti Dia. Hari ini, kita menyambut siapa? Tuhan yang harus memenuhi segala keinginan dan kebutuhan kita atau Tuhan Penyelamat yang mengundang kita mengikuti Dia?

PERAYAAN EKARISTI

Untuk merenungkpan perbedaan antara Raja Kuasa dengan Raja Damai dalam diri Yesus, kita akan merenungkan nasib 2 orang yang ikut dalam drama Sengsara Yesus; Yudas dan Longinus, Prajurit yang menikam lambung Yesus.

Kita sering menghujat Yudas sebagai orang serakah yang menghianati Yesus dengan uang 30 dinar. Uang 30 dinar itu hanyalah harga seorang budak yang terbunuh secara tidak sengaja oleh orang lain. Misalnya budak itu mati tertabrak kereta seseorang. Karena tidak sengaja, maka ganti ruginya 30 dinar. Sangat murah. Begitu mata duitan kah yudas, sehingga ia mau menghianati Yesus dengan harga semurah itu? Tidak. Yudas memang suka uang. Tetapi dia punya ambisi yang jauh lebih tinggi daripada sekadar mendapat untung uang receh 30 dinar; penghasilan buruh selama sebulan saja. Ia ingin kekuasaan yang akan didapatnya kalau Yesus menjadi raja. Dia sudah melihat bukti kuasa Yesus dan semangat rakyat menyambut Yesus. Di Minggu Palma itu dia melihat ada kesempatan besar. Seandainya, saat orang banyak yang mengarak Yesus masuk kota, dan Yesus menunjuk ke benteng Antonia yang berdiri disamping Bait Allah dan mencemarinya; jika Yesus menunjuk ke benteng itu dan berteriak ‘hancurkan!’ pasti rakyat akan meruntuhkan benteng itu dan mulai lah revolusi. Tetapi Yesus membubarkan orang banyak dan kembali ke bukit Zaitun. Yudas merasa, Yesus hanya menyia-nyiakan waktu, kemampuan dan kesempatan yang ada. Karena itu Yudas memutuskan ikut campur tangan, supaya rencananya terlaksana. Dia mengkhianati Yesus dengan harapan Yesus, para murid melawan dan menggerakkan rakyat untuk membela diri. Revolusi harus dilahir paksakan! Tetapi Yudas salah sangka. Yesus tidak melawan; bahkan melarang para muridNya melawan. Yesus bahkan tidak membela diri dan membiarkan diriNya direndahkan, disiksa dan dihukum mati. Yudas merasa terpukul. Dia merasa sangat bersalah dan dia hilang kepercayaan akan masa depan, akan kasih dan pengampunan Allah. Nafsu kuasa dan harta menyeretnya pada penyesalan dan putus asa. Dia mati bunuh diri.

Tokoh kedua adalah Longinus. Menurut tradisi, Santo Longinus adalah prajurit Romawi yang menikam lambung Yesus dengan tombak saat Yesus wafat dibukit Golgota. Nama lengkapnya adalah Gaius Cassius Longinus. Ia adalah seorang perwira militer dan orang kepercayaan Pontius Pilatus, wali negeri Yudea pada Jaman Yesus. Pilatus mempercayakan kepadanya tugas mengawasi segala sesuatu yang terjadi dan melaporkan kepadanya. Longinus seorang perwira militer Romawi sejati. Ia setia pada atasan, dapat dipercaya dan siap sedia melaksanakan tugasnya. Namun matanya yang juling membuat ia sering dijadikan bahan olok-olokan oleh rekan-rekannya. Longinus adalah komandan dari para prajurit yang melaksanakan Penyaliban Yesus. Kitab Suci menulis:

Maka datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus; tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air. (Yoh 19:32-34). Tradisi menambahkan bahwa Darah dan Air dari Tubuh Tuhan muncrat membasahi wajah dan sekujur tubuh Longinus. Matanya yang juling tersiram Darah Yesus dan seketika itu secara ajaib menjadi sembuh. Longinus lalu meloncat dari kudanya, dengan gemetar ia jatuh berlutut, memukuli dadanya, dan menyatakan rasa penyesalannya. Ketika beberapa saat kemudian gempa bumi mengguncang bukit Golgota; Longinus dengan penuh keyakinan bersaksi: “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah.” (Mat 27:54). Pengakuan Longinus, yang masih kafir itu, merupakan puncak kisah Sengsara Markus: Yesus diakui sebagai Anak Allah.

Setelah peristiwa ini Longinus bertobat. Perwira Romawi ini bersama dengan dua orang prajurit lain yang juga terlibat dalam proses penyaliban; meninggalkan ketentaraan dan bergabung dengan para rasul. Mereka dibabtis setelah Pentakosta dan menjadi saksi-saksi Kritus yang sangat terpercaya. Para rasul kemudian mentahbiskan Longinus menjadi seorang diakon dan ikut melayani dalam pewartaan iman. Ada beberapa Tradisi yang berbeda tentang perjalanan Longinus selanjutnya.

Sebuah versi mengatakan bahwa Longinus mengikuti petunjuk para rasul dan pergi menyebarkan Injil sampai ke Capadocia – Asia Kecil (Sekarang wilayah Turki). Disini ia menjadi termashyur karena khotbah-khotbahnya dan ia mempertobatkan banyak orang menjadi Kristen. Karena imannya Ia kemudian ditangkap dan dipaksa murtad dengan cara mempersembahkan kurban kepada dewa-dewi pagan Romawi. Ketika Longinus menolak memberikan persembahan, Gubernur Romawi memerintahkan agar gigi Longinus dirontokkan dan lidahnya dipotong, tetapi secara ajaib ia masih dapat terus berbicara membela iman. Ia bahkan merobohkan patung dewa-dewi kafir tersebut. Karena itu Longinus lalu dipenggal kepalanya. Keberanian dan ketulusan yang ditunjukkan Longinus membuat sang gubernur pun akhirnya bertobat dan dibabtis menjadi Kristen. Tradisi lain mengatakan Longinus dan kedua temannya itu kembali ke tanah asal mereka di Italia. Di sana mereka giat mewartakan nama Kristus dan menyampaikan, sebagai seorang saksi mata, kisah Sengsara dan Kebangkitan Kristus. Ia mempertobatkan banyak orang sehingga membuat komunitas Yahudi disana menjadi geram. Atas hasutan orang-orang Yahudi, Longinus dan kedua sahabatnya ditangkap lalu dipenggal kepalanya di kota Mantua.

Longinus melihat Yesus yang tersalib, menderita tanpa dosa, tetapi malah memberinya kesembuhan, anak Allah yang mau menderita dan masih sedia menolong manusia. Dia ini sungguh Anak Allah. Tetapi Yesus lebih daripada Anak Allah menurut pengertian Longinus. Yesus adalah sang Raja Damai. Dia bukan hanya meski menderita tetapi masih bersedia menolong. Yesus adalah sang Raja yang menjadi besar karena menjadi pendamaian antara Allah dengan manusia, yang justru melalui sengsara penderitaan dan kematianNya menjadi penyelamat, pengampun dosa manusia.

Kita mendapat dua contoh, bagaimana hidup dan kematian orang yang mencari Raja Kuasa dan hidup orang yang mengikuti Raja Damai. Pada Hari Minggu Palma ini, kita diajak menyaksikan drama pergumulan perjalanan hidup manusia. Diharapkan kita semakin bijak memilih dan melaksanakan pilihan kita, sehingga pada hari Raya Paskah, kita sungguh bangkit bersama Kristus. Amin.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.