Raden Wirjo Sendjojo, Ayah Kandung Romo Prof. Dr. N. Driyarkara SJ (3)

ORANG Kedunggubah suka memanggilnya Pak Glondong. Glondong adalah kepala dari beberapa lurah. Di atas glondong ada wedana, di atasnya lagi bupati, lalu residen dan akhirnya gubernur. 

Begitulah sistem urutan kepala daerah peninggalan zaman Belanda yang saya tahu sejak kecil dulu. Namun sekarang Glondong, Wedana dan Residen tidak dipakai lagi. 

Raden Wirjo Sendjojo adalah glondong di Kedunggubah. Ia memiliki dua adik bernama Raden Sastro Sendjojo dan Raden Atmo Sendojo. Jadi mereka bertiga bernama: Wirjo, Sastro dan Atmo, dan nama belakang Sendjojo. 

Raden Atmo Sendojo itulah ayah dari Romo Prof. Dr. N. Drijarkara SJ. 

Keponakan jadi suster dan bruder 

Romo Prof. Dr. Drijarkara SJ adalah anak keempat. Anak pertama Raden Atmo Sendjojo bernapa Sebul (yang kemudian menjadi muslim). Anak kedua adalah Tuminah (menikah dengan Djojoharjo) dan memiliki anak pertama yang tidak lain adalah Sr. Emanuella Sehati PBHK yang baru meninggal tahun lalu. 

Anak ketiga adalah Walginah (yang menikah dengan Soma Prawira). Anak pertama perempuan pasangan ini menjadi biarawati yakni Sr. Teresia ADM yang kini tinggal di Gombong. 

Hari Senin, 30 Juli 2012 lalu, nanti saya akan diantar oleh Romo Miranto ditemani Ibu Ganjar Prasetyawati (nara sumber utama cerita ini) untuk menemui Sr. Teresia agar bisa berkisah panjang lebar tentang apa dan siapa itu Romo Drijarkara. Salah seorang cucu Ny. Walginah Soma Prawira ini adalah Bruder Doni.

Tetapi Ibu Ganjar tidak tahu tarekatnya apa dan apakah masih jadi bruder atau tidak. 

Jadi Sr. Emanuella PBHK dan Sr. Tersia ADM itu adalah keponakan langsung Romo Drijarkara. Sedangkan Br. Doni adalah cucu keponakan. 

Pak Polisi Soemardjo

Saya ingin kembali kepada tokoh utama ialah Raden Wirjo Sendjojo. Keturunan bangsawan Mataram yang menjadi glondong di Kedunggubah ini memiliki 10 anak. Anak kelima adalah Rgt (Raden Nganten) Pondijah yang menikah dengan Sastro Suprapto. 

Rgt Pondijah memiliki tiga anak bernama Prayit, Soemantri dan Soemardjo. Nama Soemardjo yang menjadi polisi ini sudah saya sebut dalam kisah Soehirman Djentu. Sebagai keponakan kesayangan Romo Drijarkara, Soemardjo ini  –kata penduduk Kedunggubah– wajah mereka sangat mirip.

Kedua orang itu adalah cucu-cucu kesayangan Eyang Glondong Reden Wirjo Sendjojo.

Soehirman Djentu adalah cucu; sedangkan Soemardjo adalah cucu-buyut kesayangan. Mereka berdua terpaut usia 12 tahun saja. Soehirman lahir tahun 1913 dan Soemardjo lahir tahun 1925. 

Menurut Ibu Ganjar, kalau Frater Drijarkara SJ pulang liburan di rumah, maka Soemardjo ini sering dipanggul diletakkan di atas pundak frater itu. Begitu cintanya Frater Drijarkara kepada keponakannya Soemardjo ini. Pak Soemardjo ini memiliki 4 (empat) anak, dan anak keempat (bungsu) tidak lain adalah Ibu Ganjar itu (Raden Ayu Ganjar Prasetyowati). 

Maka sambil mengenangkan semua kisah yang diceritakannya itu berkali-kali Ibu Ganjar tidak mampu menahan air matanya dan menangis. 

HIS Purworejo — kini Sekolah Bruderan

Soehirman Djentu dan Soemardjo bisa bersekolah di HIS (Hollandsch-Inlandsche School) Purworejo yang kemudian menjadi SMP Bruderan dan sekarang adalah SMA Bruderan di pinggir sungai itu (ini ralat dari tulisan saya sebelumnya yang menyebutkan HIS di Cangkrep). Mereka bisa bersekolah bersama dengan anak-anak Belanda, karena mereka cucu dari Glondong R. Wirjo Sendjojo. 

Hanya anak-anak Belanda dan anak-anak pejabat boleh sekolah di HIS pada waktu itu. 

Selesai sekolah HIS, Soehirman kemudian masuk Seminari di Jogya dan melanjutkan di Kolese Xaverius di Muntilan. Apakah Soehirman dibaptis ketika Sekolah di HIS Purworejo selama 7 tahun itu? Ada kemungkinan begitu. Atau ia sudah dibaptis waktu masih anak-anak karena orangtuanya –Raden Atmo Sendjojo– kemudian menjadi katolik sebagaimana dikisahkan oleh  Ibu Ganjar. 

Tetapi bisa jadi Soehirman lebih dulu dibaptis di HIS, baru kemudian orangtuanya ikut pelajaran agama katolik seperti biasa terjadi pada permulaan misi katolik di mana-mana. Sekolah menjadi tempat perwartaan Injil dan anak-anak yang sudah mengenal iman katolik dan dibaptis kemudian membuat orangtuanya juga ingin dibaptis. 

Karena Raden Wirjo Sendjojo itu sendiri (dan mungkin adik-adiknya) adalah orang-orang Kasepuhan. Maksudnya, mereka adalah orang-orang yang dianggap memiliki ilmu kebatinan Jawa (apalagi mereka berdarah Kerajaan Mataram).

 Mengingat bahwa Eyang Glondong yang mengirim Soehirman ke HIS itu sendiri bukan katolik; dan mengingat kalau mau masuk Seminari, mau jadi romo, itu tentu sudah harus dibaptis katolik, maka kemungkinan besar Soehirman itu dibaptis waktu sekolah di HIS Purworejo. 

Karena itu, saya lalu  meluncur ke Pasturan Purworejo untuk melihat buku permandian pada tahun-tahun awal. Yang ada adalah buku Baptis sejak tgl 30 Oktober 1927, yaitu 5 hari setelah MSC masuk menggantikan para Jesuit di Paroki Purworejo. Maka data baptisan Soehirman tidak ditemukan di sana. Kalau Soemardjo dibaptis di Purworejo dan tercatat pada buku Permandian tahun 1929 oleh Romo Manasse MSC. 

Sebelum MSC mengambil alih misi di daerah yang kemudian menjadi Keuskupan Purwokerto itu, daerah Purworejo dan sekitarnya hanya dikunjungi secara berkala oleh para Jesuit dari Yogya. 

Pada tahun 1927 itu disebut nama Pater Schlattman SJ yang mengadakan serah terima karya misi kepada Pastor Martinus de Lange MSC. Mungkin Romo Schlattman SJ itulah yang membaptis Soehirman Djenthu di Purworejo, namun dicatat di Yogyakarta karena Purworejo belum menjadi Paroki dan belum mempunyai arsip tersendiri. (Bersambung)

Artikel terkait:

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.