Rabu, 30 Juli 2014: Sukacita Kerajaan Sorga

Picturing the Kingdom of God_901770_lg

HARI Biasa Pekan XVII, Yeremia 15:10.16-21; Mzm 59:2-5a.10-11.17-18; Matius 13:44-46

“Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.” (Matius 13:44-46)

Injil Matius 13:44-46 bertema sukacita Kerajaan Sorga. Saat membaca dan merenungkan ayat-ayat ini, saya langsung teringat pada Surat Anjuran Apostolik Paus Fransiskus “Evangelii Gaudium” (EG, Sukacita Injil).

Kegembiraan Injil memenuhi hati dan kehidupan semua orang yang berjumpa dengan Yesus. Kita dan siapa pun yang menerima penyerahan diri-Nya bagi keselamatan dibebaskan dari dosa, kecemasan, kekosongan batin dan kesendirian. Dalam Yesus Kristus, sukacita senantiasa lahir baru (EG 1).

Laksana menemukan harta karun dan mutiara indah yang sangat berharga, demikianlah seharusnya perjumpaan kita dengan Yesus Kristus.

Perumpamaan tentang hal Kerajaan Sorga itu membawa kita sampai pada pengalaman untuk mencari dan menjumpai Yesus Kristus secara personal, atau sekurang-kurangnya kerelaan untuk dijumpai-Nya. Tidak seorang pun bahkan dikecualikan untuk mengalami sukacita Injil sebagai harta karun dan mutiara indah yang berharga.

Pengalaman iman akan Yesus Kristus pun laksana menemukan harta karun dan mutiara indah yang berharga. Entah itu iman warisan karena baptisan yang kita terima saat masih bayi/kanak-kanak maupun iman pilihan karena baptisan yang kita terima setelah dewasa, iman itu adalah harta karun dan mutiara indah yang berharga yang mestinya senantiasa mendatangkan sukacita.

Paus Fransiskus bilang, “Tanpa saat adorasi yang panjang, perjumpaan penuh doa dengan sabda, percakapan tulus dengan Tuhan, kerja kita mudah sekali menjadi tak bermakna. Kita kehilangan energi akibat kelelahan dan kesulitan. Semangat kita pun memudar. Gereja sangat membutuhkan kedalaman nafas doa, dan merupakan sesuatu yang menggembirakan bagi saya ada kelompok-kelompok yang membaktikan diri secara khusus dengan doa dan permohonan, pembacaan penuh doa akan sabda Allah dan Adorasi Ekaristi Abadi…” (EG 262).

Tuhan Yesus Kristus, aku telah membiarkan diri terjerat, telah ribuan kali aku menjauhkan diri dari kasih-Mu, kini di sini sekali lagi aku datang kepada-Mu sebagai harta karun dan mutiara indah berharga, untuk memperbaharui diri dan perjanjianku dengan-Mu. Aku sungguh membutuhkan-Mu. Selamatkanlah aku, Tuhan, bawalah aku kembali ke dalam limpahan pengampunan dan sukacita Kerajaan Sorga-Mu, selamanya. Amin.

Kredit foto: Kerajaan Surga (Ilustrasi/Ist)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.