Rabu 30 Juli 2014: Dimana Hartamu Berada, Di Situ Hatimu, Mat 13:44-46

Anak kecil dan seekor ayam by Nanette Benablo

ADA seorang ibu ditengah-tengah Perayaan Ekaristi tiba-tiba beranjak keluar dengan tergesa-gesa dan dengan muka yang agak muram. Ada apakah? Banyak orang mengira bahwa ibu ini tergesa akan ke pergi toilet, mungkin sakit perut. Ada juga yang mengira bahwa ibu ini anaknya sakit. Dan ada dugaan bahwa ada urusan penting.

Baru keesokan harinya lagi sesudah ekaristi harian selesai, banyak Umat yang mengerumuni dia dan bertanya, sebab apa dia tergesa pulang. Lalu ibu menceriterakan bahwa alamari di kamarnya belum terkunci. Pada hal banyak benda berharga di dalamnya dan yang jaga rumah hanya pembantu.

Maka jelaslah bahwa yang menyebabkan ibu itu sampai meninggalkan ekaristi yang sedang berlangsung itu karena pikirannya tertuju pada rumahnya, pada kamarnya dan pada almari yang belum terkunci. Ini adalah contoh bahwa antara kehadiran fisik dan hati itu bisa berbeda.

Kehadiran fisik ada di Gereja, tetapi hati ada pada hartanya. Orang bisa nampak khusuk dan rajin ke Gereja itu belum tentu hatinya juga ikut. Hati itu yang menentukan nilai dari perbuatan lahir. Maka ikut ibadat tanpa hati sebenarnya itu bukan ibadat sejati.

Sabda Tuhan Yesus: “Dimana hatimu berada, di situ hatimu juga berada”.

Tidak bisa dipungkiri bahwa bagi banyak orang harta benda atau kekayaan merupakan fokus dari harapan, keinginan atau impian kita. Maka yang menjadi soal ialah: Harta apakah yang paling bernilai, yang paling berharga, yang paling kita kejar sehingga setelah kita tahu dimana harta itu berada, lalu kita pendam jangan sampai hilang.

Kemudian kalau kita sudah tahu dan sudah menyadari harta yang paling bernilai itu, lalu kita mulai berani menjual harta milik kita yang sekarang ini atau kita ikhlaskan untuk dibagikan kepada orang membutuhkan.

Inilah cara orang dapat mengambil harta yang terpendam itu kalau orang mulai meyakini bahwa harta yang paling bernilai bagi hidup kita adalah Tuhan sendiri. Kalau Tuhan dalam hati manusia dapat menjadi mutiara yang berharga pastilah orang rela meninggalkan segala-alanya untuk memperoleh mutiara itu.

”Apabila Yang Mahakuasa menjadi timbunan emasmu dan menjadi kekayaan perakmu, maka sungguh-sungguh kamu akan bersenang-senang, karena Yang Mahakuasa ada dalam dirimu, engkau akan selalu menengadah kepada Allah (Ayub 22: 25-26). Dan Yeremia juga memberi kesaksian: Firman Tuhan itulah menjadi kesukaan hatinya, sehingga ia dapat menikmatinya, selalu girang dan dapat selalu menyerukan namaNya (Yer 15:16).

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.