Pusaka dari Tuhan

Ayat bacaan: Mazmur 127:3
================
“Behold, children are a heritage from the Lord, the fruit of the womb a reward.”

Seorang ibu yang bekerja sebagai pembantu bercerita bahwa di tempat kerjanya ia bukan hanya diminta untuk bekerja tapi dititipi pula anak dari majikannya yang masih bayi. Saya terkejut mendengar cerita ini, tetapi itulah faktanya. Si ibu menitipkan anaknya bukan karena harus bekerja tetapi karena ingin bebas keluar bermain bersama teman-temannya. “Bawa saja ke rumah atau titipkan lagi ke tetangga kalau sibuk.. yang penting pegang saja anak saya dulu sampai saya pulang.” Begitu katanya kepada ibu pembantu. Si ibu pembantu menolak karena merasa tanggung jawabnya terlalu besar dan merasa bahwa itu bukanlah cara yang baik dalam membesarkan anak. Anak itu titipan yang diatas pak, seharusnya diurus dengan baik bukan dititipkan lagi.” katanya kepada saya.

Salah karena ibu si bayi masih terlalu muda dan belum mengerti? Terlalu mudah mendapatkan bayi atau malah tidak diinginkan sehingga tidak sayang? Entahlah. Tapi mau muda atau sudah dewasa, kenyataannya ada banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa anak merupakan pusaka atau titipan dari Tuhan yang harus dipertanggungjawabkan dengan baik. Banyak yang tidak mau berkompromi dan memilih untuk menyerahkan saja anaknya kepada pembantu atau orang lain sejak masih bayi. Seringkali anak-anak yang tidak berdosa ini malah dianggap sebagai hal yang mengganggu kenyamanan. Ada pula yang bertindak semena-mena kepada anaknya. Ada yang terlalu keras mendisiplinkan anak sehingga si anak terbiasa menerima cercaan, makian hingga bentuk kekerasan fisik kalau dianggap berbuat salah. Di sekeliling saya, saya melihat semakin hari semakin banyak orang tua yang tidak lagi menghargai kehadiran anak dalam hidup mereka. Kalau menyimak berbagai berita di media massa kita mudah menemukan ibu-ibu yang melepas tanggung jawab dengan tega. Jika meninggalkan anak di rumah sakit saja sudah rasanya keterlaluan, bagaimana dengan ibu yang tega menjual atau bahkan membuang anaknya di tong sampah? Itu sangat memperihatinkan dan menunjukkan bahwa banyak orang masih belum menyadari dari mana sebenarnya anak itu berasal dan apa hakekatnya seorang anak hadir dalam keluarga kita.

Anak bukanlah hasil karya dari manusia tetapi Alkitab mengatakan bahwa anak merupakan warisan atau pusaka dari Tuhan. Dalam kitab Mazmur dikatakan “Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah.” (Mazmur 127:3). Dalam versi Bahasa Inggris dikatakan: “Behold, children are a heritage from the Lord, the fruit of the womb a reward.” Dari sini kita bisa melihat bahwa ayat ini bukan hanya berbicara mengenai anak lelaki saja, tetapi juga anak perempuan. Anak adalah pusaka dari Tuhan, buah kandungan adalah sebuah upah atau hadiah, a reward. Seperti itulah keberadaan seorang anak dalam sebuah keluarga menurut Tuhan. Anak harus dipandang sebagai titipan dari Tuhan yang dihargai dengan penuh rasa syukur, bukan diabaikan, ditelantarkan atau malah dianggap sebagai pengganggu kenyamanan.

setiap anak yang dilahirkan ke dunia memiliki potensi besar untuk menjadi anak-anak Ilahi yang hebat. Di tangan mereka terletak masa depan dari dunia ini. Apakah mereka akan menjadi pekerja-pekerja Allah yang tangguh penuh kasih atau mereka nantinya menjadi orang-orang berpengaruh buruk dan jahat, semua akan sangat tergantung dari sejauh mana peran dan tanggungjawab orang tua dalam mendidik dan membesarkan mereka.

Jika ada yang masih berpikir bahwa mencukupi kebutuhan saja sudah cukup, sesungguhnya itu masih jauh dari bentuk tanggungjawab yang diinginkan Tuhan atas titipanNya ini. Bukan cuma  bukan saja menyediakan makanan dan tempat tinggal atau uang sekolah, tetapi pengenalan akan Tuhan pun harus menjadi prioritas para orang tua sejak awal. Ada Firman Tuhan yang mengingatkan kita untuk terus mengajarkan kebenaran kepada anak-anak kita tanpa jemu-jemu dan tanpa kenal lelah. “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” (Ulangan 6:6-7). Bukan sekedar mengajarkan dan memberi peraturan berbentuk larangan, tetapi para orang tua dituntut untuk menjadi teladan terhadap semua yang diajarkan. Ayat selanjutnya berkata: “Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.” (ay 8-9).

Firman Tuhan mengingatkan kita untuk mengarahkan anak-anak kita kepada Kristus sejak dini. Perhatikan bagaimana Yesus bersukacita menyambut anak-anak, memeluk serta memberkati mereka satu persatu. “Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah…Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka.” (Markus 10:14,16).

Benar, dalam pendisiplinan ada kalanya kita harus memberi hukuman. Tapi hukuman bukanlah harus berbentuk kekerasan fisik untuk menumpahkan atau melampiaskan emosi melainkan harus diarahkan demi kebaikan mereka. Amsal Salomo mengingatkan akan hal ini. “Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya” (Amsal 19:18). Seorang teman punya tips yang baik akan hal ini. Jika ia harus menegur atau menghukum anaknya, adalah sangat penting untuk memberitahu si anak kenapa ia dimarahi, apa kesalahannya dan bagaimana ia harus memperbaikinya. Itu merupakan salah satu langkah yang baik agar si anak mengerti dan bisa memperbaiki sikapnya.

Sangat penting pula untuk mengasihi mereka dengan kasih yang tidak terbatas, loving them unconditionally, the way our Heavenly Father loves us. Perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:11-32 bisa dijadikan contoh mengenai “the unconditional love” ini, demikian pula keteladanan dari Yesus sendiri yang memberikan dirinya untuk menebus dosa-dosa kita, memulihkan hubungan dengan Bapa di Surga.

Jangan lelah dan jemu mengajarkanlah anak-anak untuk mengenal Tuhan sejak di usia dini mereka. Kasihi mereka dengan kasih Allah yang mengalir dalam diri kita dan bimbing mereka hingga tumbuh menjadi pribadi-pribadi tangguh yang hidup takut akan Tuhan. Itulah yang seharusnya kita lakukan jika kita menghargai warisan atau pusaka yang dititipkan Tuhan kepada kita. Seperti yang saya sampaikan kemarin, ingatlah bahwa Kita harus ingat bahwa peraturan hanyalah membatasi dari luar, tetapi prinsip-prinsip Kerajaan yang diadopsi dengan baik dalam kehidupan nyata bisa merubah seseorang dari dalam dan akan hidup di dalam mereka untuk waktu yang lama. Kelak pada suatu masa ketika mereka berhasil menjadi orang-orang sukses yang memuliakan Allah dengan segala perbuatan dan perkataan mereka, kitapun akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Bahagia karena anak-anak kita menjadi teladan di mata dunia, juga bahagia karena kita telah menghargai pemberian Tuhan dengan sungguh baik. Ketika mereka menjadi orang-orang yang berpengaruh kelak, mereka akan tampil di depan sebagai orang-orang yang mampu menyatakan kemuliaan Tuhan pada generasinya. Ingatlah bahwa masa depan mereka terletak di tangan anda, para orang tua.

Anak bukan hasil karya kita melainkan pusaka dari Tuhan, karena itu pertanggungjawabkanlah dengan benar dan sungguh-sungguh

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.