Pujian Malam

Ayat bacaan: Ayub 35:10
=======================
“tetapi orang tidak bertanya: Di mana Allah, yang membuat aku, dan yang memberi nyanyian pujian di waktu malam”

Pujian Malam

Pujian Malam

Malam hari merupakan waktu produktif saya hampir setiap hari. Ada artikel-artikel yang harus saya tulis selain renungan yang biasanya lebih suka saya lakukan di malam hari. Suasana malam cenderung lebih sejuk dan tenang, itu saat yang buat saya lebih nyaman dipakai untuk menulis. Selain itu saya pun lebih senang mempergunakan waktu sejenak untuk bersekutu dengan Tuhan di malam hari lebih dari waktu-waktu lainnya. Suasana tenang dan sunyi membuat saya bisa lebih fokus untuk berdoa dan berdiam di dalam HadiratNya. Di malam hari pula saya lebih sering mendengarkan lagu-lagu pujian dan penyembahan, dan terkadang turut pula bernyanyi. Satu hal yang pasti, ada kekuatan di balik lagu-lagu pujian dan penyembahan ini. Ditengah keheningan malam lagu-lagu seperti itu seringkali mampu membuat saya tenang dan rileks, terasa kembali menyegarkan saya kembali dari kelelahan bekerja sepanjang hari. Tidak hanya rileks dan memberi kekuatan tersendiri, lagu-lagu pujian pun mampu mengantar saya untuk masuk ke dalam hadirat Tuhan dan merasakan kasihNya yang luar biasa. Terlepas dari apapun yang saya alami sepanjang hari, seberat dan sesulit apapun, pujian di waktu malam dapat memulihkan kembali semuanya dan membawa sukacita hadir dalam hati saya.

Seringkali kita hanya fokus kepada permasalahan yang terjadi ketimbang menyadari kasih setia Tuhan yang senantiasa menyertai kita. Hidup memang tidak mudah. Terkadang dalam perjalanan hidup kita akan bertemu dengan saat-saat dimana kita merasa bahwa apa yang terjadi tidaklah selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Ada saat senang, ada pula saat susah. Ada saat kita tertawa, ada pula saat kita menangis. Kadang beban terasa ringan, tetapi dalam kesempatan lain terasa demikian berat. Bahkan ada kalanya kita harus berjalan dalam kegelapan. Tetapi ingatlah bahwa di saat seperti itupun kita tetap berjalan dengan penyertaan Tuhan, tidak akan pernah sendiri. Firman Tuhan berkata “Sekalipun aku berjalan dalam lembah¬† kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” (Mazmur 23:4).

Saya menulis renungan ini pada malam hari ditemani oleh lagu-lagu pujian dan penyembahan. Masih ada banyak yang harus saya selesaikan. Terkadang rasa penat terasa memberatkan mata saya, tetapi anugerah Tuhan yang begitu besar atas hadirnya musik dalam hidup manusia ternyata mampu membawa saya untuk mendapatkan kembali kekuatan. It feels like being recharged, refreshed or rejuvenated. Saya bersyukur pula bahwa Tuhan telah memberikan pita suara yang memungkinkan saya untuk turut bernyanyi. Menulis sambil menyanyi kecil di malam hari, itu gabungan dari sesuatu yang indah bagi saya.

Melalui Ayub kita bisa melihat betapa seringnya manusia hanya fokus kepada masalahnya dan melupakan Tuhan. “Orang menjerit oleh karena banyaknya penindasan, berteriak minta tolong oleh karena kekerasan orang-orang yang berkuasa”.(Ayub 35:9), Demikian kata Ayub. Selanjutnya ia berkata: “tetapi orang tidak bertanya: Di mana Allah, yang membuat aku, dan yang memberi nyanyian pujian di waktu malam..” (ay 10).¬† Itu sungguh benar. Mengapa kita hanya berteriak dalam kesesakan tetapi lupa untuk memuji penyertaan Tuhan yang sesungguhnya tidak pernah hilang dari hidup kita? Pemazmur tahu betul akan hal itu, ia berkata “TUHAN memerintahkan kasih setia-Nya pada siang hari, dan pada malam hari aku menyanyikan nyanyian, suatu doa kepada Allah kehidupanku.” (Mazmur 42:9). Sepanjang kita melakukan berbagai aktivitas di siang hari Tuhan dengan setia terus bersama kita, tidakkah indah apabila pada malam hari sebelum kita beristirahat kita pun memanjatkan nyanyian-nyanyian pujian dan penyembahan kepadaNya? Ini sebuah gambaran hubungan yang bagi saya terasa sangat indah antara kita dengan Tuhan.

Ingatlah bahwa ada kuasa di dalam puji-pujian. Betapa seringnya kita mengabaikan hal itu. Lihatlah bagaimana tembok Yerikho runtuh di hari ke tujuh setelah dikelilingi berhari-hari. Apa yang membuat tembok itu runtuh pada akhirnya? Selain memang Allah sendiri yang telah menjanjikan, “Berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: “Ketahuilah, Aku serahkan ke tanganmu Yerikho ini beserta rajanya dan pahlawan-pahlawannya yang gagah perkasa.” (Yosua 6:2), tapi lihatlah bahwa pujian dan sorak sorai bagi Tuhan membuat tembok itu akhirnya runtuh. “Lalu bersoraklah bangsa itu, sedang sangkakala ditiup; segera sesudah bangsa itu mendengar bunyi sangkakala, bersoraklah mereka dengan sorak yang nyaring. Maka runtuhlah tembok itu, lalu mereka memanjat masuk ke dalam kota, masing-masing langsung ke depan, dan merebut kota itu.” (ay 20). Dalam kesempatan berbeda, kita tahu bagaimana Gideon dengan prajurit berjumlah hanya 300 orang mampu menaklukkan musuh tak terhitung banyaknya, seperti belalang dan pasir di tepi laut, lewat puji-pujian dan gemuruh suara sangkakala seperti yang bisa kita baca dalam Hakim Hakim 7. Ingat pula apa yang terjadi ketika Paulus dan Silas yang tengah terpasung di dalam penjara memutuskan untuk tidak meratapi diri melainkan berdoa dan memanjatkan puji-pujian kepada Tuhan. “Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka.” (Kisah Para Rasul 16:25). Apa yang terjadi kemudian? Alkitab mencatat hadirnya gempa menyelamatkan mereka (ay 26). Bukan itu saja, tetapi keputusan mereka pun membawa pertobatan orang lain. (ay 30-33). Lihatlah bagaimana besarnya kuasa di balik puji-pujian, dan itu semua bisa terjadi karena ada Tuhan yang bertahta/bersemayam di atas puji-pujian. (Mazmur 22:4).

Setelah lelah bekerja sepanjang hari, masihkah kita menyadari bahwa Tuhan sebenarnya tidak pernah absen menyertai kita? Sudahkah kita memuji Dia malam ini? Ingatlah bahwa Tuhan sendiri yang telah memberikan kita nyanyian pujian di waktu malam, alangkah baiknya jika kita pergunakan itu untuk memuji dan menyembahNya. Daripada mengeluh, bersungut-sungut, menggerutu atau mengutuk, tidakkah jauh lebih baik apabila kita menyanyi saja? Ada kuasa di balik puji-pujian. Bukan saja kita memuliakan dan menyenangkan hati Tuhan lewat puji-pujian tulus dari hati kita, tetapi kita pun akan diberi kelegaan, kekuatan, semangat dan sukacita baru untuk terus melangkah melewati hari demi hari yang sulit. Malam ini marilah kita panjatkan pujian dan penyembahan dengan sepenuh hati kepadaNya.

Let’s sing and praise Him

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. lirik lagu tembok yerikho
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: