Puasa Sejati

MELALUI perikop pada hari ini, Yesus mengajak kita semua agar melaksanakan puasa sejati selama dalam masa penantian akan kedatanganNya kembali.

Banyak orang yang menjalankan puasa hanya sekedar memenuhi kewajiban agama semata, dengan membatasi asupan makanan dan minuman dalam masa atau waktu tertentu saja. Namun puasa yang Yesus kehendaki adalah pengendalian diri secara terus menerus dalam pikiran, perkataan dan perbuatan di sepanjang hidup kita sehingga hidup kita berkenan di hadapanNya.

Menjadi pengikut Kristus menuntut adanya perubahan sikap hidup. Hidup kita harus jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Untuk itu, kita harus tinggal di dalam Dia, menjadikan sabdaNya sebagai kompas menuju keselamatan, serta meneladani sikap hidupNya di dalam keseharian hidup kita.

Memang sangat tidak mudah. Tapi bukankah lebih baik jika kita menjalankan puasa sejati ‘hanya’ selama 60 atau 70 tahun hidup kita di dunia ini, sehingga kelak kita diperkenankan masuk ke dalam kerajaanNya untuk berpesta selamanya menikmati perjamuanNya?

Mari renungkan.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Insinyur elektro alumnus ITB dan umat Paroki St. Yakobus, Kelapa Gading, Jakarta Utara; bergiat ‘merangkai’ kata-kata renungan yang menjadi ‘kata hati’ untuk satu hari (thoughts of the day); Anggota Komunitas Meditasi Katolik Ancilla Domini St. Yakobus.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: