Program Pertukaran Mahasiswa di Manado: Mahasiswi Berjilbab di Seminari, Frater ke IAIN dan Lainnya

watuseke2

INILAH dinamika program Pertukaran Mahasiswa. Program ini dilaksanakan selama sepekan, 10-16 Mei 2015. Kegiatan ini diikuti oleh para mahasiswa dari STF-SP (Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng), UKIT (Universitas Kristen Indonesia Tomohon), IAIN (Institut Agama Islam Negeri Manado) dan STAKN (Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri).

Perwakilan mahasiswa dari ke-4 PT ini tinggal ditempat yang baru. Calon imam dan katekis serta calon guru agama Islam berasrama dan mengikuti pelajaran calon pendeta dan guru agama Kristen Protestan di UKIT. Calon pendeta, calon imam dan calon katekis tinggal di komunitas mahasiswa calon ustad dan guru agama islam. Para calon pendeta dan ustad bermukim, makan, tidur dan belajar bersama para calon imam.

Di sana mereka bertukar tawa dan canda, memperdialogkan teologi dan pedagogi dan diakhiri tangis tatkala mengais kenangan yang hanya seminggu saat konveniat perpisahan.

Untuk STF-SP, para tamu mahasiswa pertukaran (calon pendeta, calon guru agama, calon ustad) dibagi kedalam dua komunitas: Komunitas Diosean (Keuskupan Manado dan Keuskupan Amboina) dan Komunitas Skolastikat MSC.

Dampak luar biasa

Program Pekan Pertukaran ini sudah puluhan tahun. Diulangi dan selalu dievaluasi. Terkesan banyak tawa tapi berdampak luar biasa. Sopir angkot terheran-heran ketika melihat para mahasiswi IAIN berjilbab bisa wira-wiri di kompleks seminari.

Tak sedikit OMK merasa iri, “Kami saja yang katolik tidak boleh tinggal bermalam di biara’ (kecuali alasan khusus)”.

Bahkan ketika ditelisik lebih jauh, jebolan-jebolan mahasiswa pertukaran kini ada yang menjadi dosen di alma maternya, selalu mengingat masa-masa main bola, menyanyi bersama bahkan yang berbeda ritus dan berjilbab bisadengan lantang bernyanyi “Saudara Mari Semua” saat pembukaan misa/ibadat bersama.

Saya ingat ketika saya mewakili STF-SP menjadi peserta mahasiswa pertukaran. Mei 2013. Saya dipilih tinggal di asrama UKIT. Belajar bersama mengenai teologi dogmatik Protestan, pedagogi, ekumenisme, bahasa Yunani dan masih banyak lagi. Para dosen pun ikut bertukar. Pada saat seminar ilmiah dengan suatu tema, maka peserta menjadi lebih banyak. Ada mahasiswa fakultas filsafat (teologi) Universitas Klabat (sekolah calon pendeta Adven), mahasiswa Sekolah Teologi Parakletos (calon pendeta aliran Karismatik/Pentakosta), mahasiswa Sekolah Tinggi Teologia Missio Dei (aneka denominasi) yang mengirim wakil-wakilnya dalam seminar tapi tidak ikut pekan pertukaran.

Seru. Saya ingat ketika saya sedang berdoa malam sebelum tidur di asrama UKIT. Teman sekamar saya, sebut saja Faizal, juga sedang bersiap berdoa. Ketika dia sedang mengatur sajadah, mencari arah kiblat, lantang tapi tak menghadang, berlagu tapi tidak menggangu, ia melantun, “Allahuakbar”. Saat itu, saya ingat saya juga berujar, “Bapa kami yang disurga dimuliakanlah nama-Mu”

Saya lupa apa tema pekan pertukaran tahun 2013. Apalagi yang tahun 2015 dimana saya tak terlibat didalamnya (saya tiba di skolastikat tgl. 14 Mei, pekan pertukaran memasuki hari-hari terakhir).

Tahun 2016 pasti akan tetap ada program ini. Namun saya (kami) tak akan lupa bahwa kami pernah seatap bersama. Berbagi tawa dan kecemasa. Mendialogkan idealisme dan keyakinan masing-masing. Setiap peserta pasti akan menarik maknanya masing-masing. Tapi saya percaya kegiatan ini akan berbuah, bagi kami dan bagi umat/jemaat yang dipercayakan kepada kami.

Saya sertakan satu foto ketika mahasiswi IAIN (berjilbab) dan mahasiswa UKIT (berjas Ungu) tengah mengikuti misa harian di skolastikat dalam rangka Pekan Pertukaran 2015.

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.