Program Community Managed Livelihood Promotion di Caritas Keuskupan Agung Pontianak

Program Community Managed Livelihood Promotion yang diampu oleh Caritas Keuskupan Agung Pontianak. (Br. Kris Tampajara MTB)

CARITAS Keuskupan Agung Pontianak telah mengakhiri program Community Managed Livelihood Promotion (CMLP) dengan evaluasi akhir program (13-16 Juni 2016). Evaluasi akhir ini dilakukan oleh Henri Sitorus dan Yohanna dari Lembaga Circle Indonesia. Evaluasi akhir program ini dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan warga dampingan berjumlah 55 kepala keluarga Dusun Serong, Kecamatan Samalantan, Kabupaten Bengkayang dan Dusun Batu Raya, Kecamatan Mempawah Hulu, Kabupaten Landak menjadi komunitas yang didampingi secara intensif melalui program CMLP.

Program CMLP ini dimulai sejak tahun 2012 dengan berbagai kegiatan pemberdayaan seperti antara lain pembentukan organisasi Kelompok Swadaya Masyarakat, budidaya tanaman karet unggul, melakukan pelatihan okulasi karet, penertiban ternak babi, pengelolaan potensi lingkungan, pengelolaan ekonomi keluarga dan pengelolaan wilayah dengan pemetaan partisipatif. Adapun kegiatan-kegiatan ini dilakukan agar masyarakat semakin mandiri dalam meningkatkan kesejahteraannya.

Pendampingan masyarakat melalui program CMLP ini dilakukan secara intensif melalui metode live in setiap bulan di kampung yang didampingi. Dua orang fasilitator lapangan selama kurang lebih empat tahun berusaha mendampingi warga masyarakat dalam kegiatan-kegiatan pemberdayaan.

Dalam kesempatan evaluasi akhir program CMLP ini, Pastor Bagara Darmawan OFMCap selaku Direktur Caritas Keuskupan Agung Pontianak menuturkan betapa pentingnya pendampingan warga masyarakat secara intensif melalui program CMLP ini. “Saya bersyukur dengan program CMLP ini, sebab sangat bermanfaat bagi warga yang kita dampingi, walaupun pada awalnya memang berbagai tantangan perlu diatasi, terutama dalam hal mengubah pola berpikir masyarakat dalam hal penertiban ternak babi liar,” imbuhnya.

pontianak karitas 2Evaluasi bersama dengan komunitas pendamping. (Br. Kris Tampajara MTB)

Ada pun jumlah kampung yang didampingi sejak tahun 2012 ada empat;  hanya dalam perjalanan waktu, demi efektivitas dan efisiensi, sejak tahun 2014 Caritas hanya mendampingi 2 kampong saja. “Dua kampong yang didampingi ini memang menjadi media pembelajaran bagi Caritas dalam pendampingan masyarakat, karena satu kampong dengan populasi berjumlah 30 KK dan satunya dengan populasi dengan jumlah 40 KK,” lanjaut Pastor Bagara OFMCap.

Sebanyak 55 orang yang mengikuti warga yang mengikuti proses evaluasi akhir program ini merasakan dampak positif dalam kehidupan kampong nya. Sisi,  warga Batu Raya, Kecamatan Mempawah Hulu merasakan manfaat pendampingan CMLP ini pada bidang budidaya tanaman karet unggul. “Sebelumnya, saya memang sudah mendapat pelatihan pembudidayaan tanaman karet unggul, namun saat ini saya juga dapat melakukan okulasi karet unggul secara mandiri, ”ujar Sisi yang juga Ketua KSM Riam Ne Majo.

Hal senada juga diungkapkan oleh Miharso dan rekan-rekannya, warga Serong Kecamatan Samalantan. “Kami, merasakan manfaat pendampingan dari program CMLP yang dilakukan Caritas Keuskupan Agung Pontianak, sekarang setiap warga anggota KSM sudah memiliki minimal 1 Ha kebun karet unggul,” sebut mereka.

pontianak karitas 5Menuju kemandirian masyarakat (Kris Tampajara MTB)

Kemandirian masyarakat

Selain kegiatan-kegiatan tersebut di atas, Caritas Keuskupan Agung Pontianak juga mendorong kemandirian warga masyarakat dalam membangun fasilitas umum seperti tempat ibadah dan pengerasan jalan umum kampong. “Saya selaku fasilitator lapangan yang intens melakukan live in setiap bulan di kampung dampingan berusaha menggali kebutuhan prioritas warga masyarakat, sehingga beberapa kegiatan memang menjawab persoalan konkret mereka,“ ujar Ferdinand Martin selaku fasilitator di Kampung Serong.

Ada pun dalam evalausi akhir program yang dilakukan oleh Circle Indonesia lebih  menyangkut aspek kegiatan lapangan, pendokumentasian dan manajemen Caritas dengan bertitik tolak pada beberapa indikator kegiatan sesuai dengan kerangka kerja. Proses evalausi ini sendiri dimulai dengan kunjungan lapangan oleh evaluator eksternal ke dua kampong dampingan, setelah itu hasil dari lapangan kemudian dikonsolidasi dengan focus group discussion dalam tataran manajemen.

Henri Sitorus Koordinator Tim Evaluasi mengungkapkan, dengan evaluasi akhir ini pada hakekatnya untuk melihat sejauh mana manfaat dan dampak program CMLP ini terhadap kemandirian masyarakat dalam membangun kehidupannya yang lebih baik. Dan kita semua berharap dengan berakhirnya program CMLP ini, warga masyarakat dapat melanjutkan kegiatan-kegiatan tersebut secara mandiri.

Sumber: Sesawi.net

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.