Problem Lokal Paroki Kebumen dan Sekitarnya (2)

DI lingkungan internal kita sendiri di Gereja Paroki St. Yohanes Maria Vianney Kebumen, menurut pengamatan saya,  muncul juga  tantangan ini . Bagaimana wajah kita ke depan manakala –siapa tahu?– Gereja mulai  ditinggalkan oleh generasi mudanya? Atau, siapa tahu juga, sekali waktu seperti di Amerika dan Eropa, Gereja kita menjadi wajah gereja yang keriput dimana yang aktif hanya orang-orang tua saja.

Mengapa saya kemukakan ini?

Hal itu karena ada kecenderungan bahwa semakin banyak anak-anak muda katolik –baik lulusan SMP dan SMA—yang begitu lulus sekolah maka langsung ‘cabut’ meninggalkan Kebumen dan pindah keluar kota. Mereka banyak yang pergi ke Yogyakarta, Bandung, Jakarta dan kota-kota besar lainnya untuk belajar.

Dan yang menyedihkan, begitu selesai kuliah dan bekerja, mereka umumnya tidak pernah kembali lagi ke ‘kampung halaman’ di Kebumen. Dan inilah yang terjadi sekarang, setiap misa lingkungan maupun misa stasi, mayoritas umat yang hadir adalah kelompok kasepuhan alias golongan orang tua.

Anak-anak muda sudah makin jarang kelihatan pada peristiwa-peristiwa iman ini.Kebumen-20140202-00688

Itulah beberapa keprihatinan yang layak kita cermati bersama baik di tingkat paroki, bahkan sampai ke tingkat Keuskupan Purwokerto mengenai situasi hidup Gereja di zaman ini.

Nah, belajar dari keprihatinan-keprihatinan atas situasi tersebut di atas, maka Kkeuskupan Purwokerto lalu menggalakkan Program Tahun Pemberdayaan Paguyuban melalui Komunitas/Kelompok Basis Gerejawi di tingkat paroki-paroki bahkan sampai tingkat lingkungan-lingkungan.

Sharing 7 Langkah

Demikianlah sebagian latar belakang yg jadi pemikiran dalam pembentukan dan program kerja Tahun Pemberdayaan Paguyuban di Paroki Kebumen ini.

Harapannya, dengan pembentukan tim Pemberdayaan Paguyuban Tingkat Paroki yang ditindaklanjuti sampai ke lingkungan-lingkungan juga stasi, program kerja di Tahun Pemberdayaan Paguyuban itu bisa berjalan.

Satu contoh program yang langsung akan segera ditindaklanjuti adalah acara Pendalaman Iman Masa Prapaskah 2014 ini. Pelaksanaan pendalaman iman tahun ini direncanakan akan menggunakan metode sharing 7 langkah sebagaimana kini menjadi sangat populer sebagai  Komunitas Basis Gerejawi tersebut.

Bagaimana itu Metode Sharing 7 Langkah?

Ini merupakan sebuah metode sederhana dalam pertemuan-pertemuan umat kristiani yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Contemplation_by_Fuzzy_800x600Langkah pertama: “Mengundang kehadiran Allah” dalam pertemuan dalam bentuk doa.
  • Langkah kedua: “Membaca Kitab Suci” yang dilaksanakan dengan cara sangat partisipatoris (melibatkan para peserta yang hadir untuk membaca bergantian).
  • Langkah ketiga: “Memilih kata dan merenungkannya”.
  • Langkah keempat: “Mempersilahkan Tuhan berbicara kepada kita”. Kegiatan ini dilakukan dengan cara, meluangkan waktu hening” guna merenungkan sabda Tuhan secara pribadi dalam kebersamaan.
  • Langkah kelima: “Men-sharing-kan apa yg kita dengar dalam hati kita. Dilakukan dengan cara berbagi pengalaman mengenai apa yg dipikirkan, apa yg dirasakan ketika mengambil sikap hening tadi.
  • Langkah keenam: “Membicarakan dan menentukan tugas-tugas yang kita yakini Tuhan serahkan kepada kita”. Kegiatan ini dilakukan untuk membangun niat bersama-sama merencanakan suatu kegiatan konkrit dari apa yg tadi bersama-sama direnungkan dan disharingkan.
  • Langkah ketujuh: “Berdoa secara spontan”.

Demikianlah sekilas pandang dinamika kegiatan hidup menggereja dalam wujud upaya pembentukan Tim Pemberdayaan Paguyuban dan rencana menggulirkan program-program kerjanya di wilayah Paroki St. Yohanes Maria Vianney Kebumen, termasuk lingkungan dan stasi.

Photo credit: Suasana pertemuan di Gereja Paroki St. Yohanes Maria Vianney (Dokumentasi Paroki); Ilustrasi (Ist)

Tautan:  Kumpul Rembug untuk  Bentuk Tim dan Program Kerja di Paroki Kebumen (1)

 

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.